Toponimi, refleksi sejarah peradaban manusia – Prof. Jacub Rais

Kuliah Umum Prof. Jacub Rais

Amazing.

Prof. Jacub Rais layak diberikan penghormatan luar biasa atas dedikasi nya ke dunia geodesi, geomatika, maritim yang dikembangkannya sejak dulu. Di usia yang sudah 80 tahun lebih, Prof. Rais masih semangat memberi kuliah umum di kampus saya beberapa hari yang lalu. salut luar biasa. Ditengah suaranya yang sudah mulai kecil dan tubuh yang jelas terlihat merenta, Prof. Rais memaparkan topomini, dan seluk beluk nya dengan gamblang. Luar biasa, sekali lagi salut.

Ini saya forward-kan berita dari kampus saya.

——————————————————

Pada tanggal 25 April 2008, di selenggarakan Kuliah umum dan presentasi dari Prof Jacub Rais di Jurusan Teknik Geodesi-Geomatika FT-UGM. Dalam kesempatan itu Prof. Rais memberikan presentasi tentang Toponimi dan Perpres No 112 Tahun 2006 tentang Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi.

Prof. Rais yang dikenal sebagai salah satu pelopor geodesi dan geomatika di Indonesia membawakan presentasi yang sangat menarik. Sebagai orang yang aktif di United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN), beliau nampak memahami betul pentingnya pembakuan nama rupabumi. Tidak saja Prof. Rais menyoroti aspek teknis, beliau juga memaparkan dengan gamblang aspeks historis. Ketika memaparkan sejarah di balik nama tempat-tempat di Indonesia, Prof. Rais menegaskan bahwa nama merupakan refleksi sejarah peradaban manusia. Nama sebuah tempat dapat menyimpan fenomena vegetasi pada zaman tertentu, aktivitas masyarakat saat nama itu dibentuk, termasuk juga konteks sosial yang tertuang dalam cerita rakyat misalnya.

Prof. Rais mencontohkan, nama Kemang di Jakarta misalnya diambil dari kondisi daerah yang ditumbuhi oleh pohon pemang ada zaman dulu. Demikian pula dengan Duren Tiga. Beda lagi dengan nama Bandung yang berasal dari bendung (air). Hal lain yang ditegaskan Prof. Rais adalah pentingnya memahami bahwa istilah/bahasa lokal bisa digunakan untuk menamai suatu unsur geografis. Istilah “Ci” berarti air atau sungai, sehingga penulisan yang benar adalah Ci Liwung, untuk nama sungai, bukan Ciliwung dan bukan “Sungai Ciliwung” karena “Ci” sendiri sudah berarti sungai.

Continue reading “Toponimi, refleksi sejarah peradaban manusia – Prof. Jacub Rais”