Melawan Global Warming, Menjaga Kedaulatan

Sudah banyak blog dan ulasan menarik tentang Global Warming. Sejauh mana Global Warming akan berpengaruh pada kita?. Ada banyak aspek kehidupan yang akan terpengaruh. Salah satunya KEDAULATAN NEGARA. Lho?, kok bisa sampe ke KEDAULATAN NEGARA?. SIlahkan baca saja tulisan di bawah ini, saya kopi paste dari blog dosen saya (Pak I Made Andi Arsana). Agak panjang memang, tapi percayalah, kesemuanya mencerahkan. SELAMAT MEMBACA:

Site aseli:

http://geo-boundaries.blogspot.com/

URL aseli:

http://geo-boundaries.blogspot.com/2008/03/melawan-global-warming-menjaga.html

English version:

http://www.thejakartapost.com/news/2008/03/31/global-warming-and-threat-sovereignty.html

—————————-

Pemanasan global atau yang populer dengan istilah Global Warming (GW) menjadi salah satu isu paling hangat di seluruh dunia belakangan ini. Konferensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC yang dilangsungkan di Bali akhir tahun lalu merupakan salah satu bukti keseriusan isu ini. Konferensi yang berlangsung selama hampir dua minggu tersebut berhasil menyepakati Bali Roadmap yang akan mengantarkan Planet Bumi untuk menghadapi dan terutama melawan GW.

GW memiliki dampak yang sangat luas. Tentu tidak cukup tempat untuk membahas semuanya dalam tulisan ini, karenanya saya akan memfokuskan pada satu masalah saja. Bagaimana dampak GW terhadap kedaulatan, teruma ketika dikaitkan dengan peningkatan tinggi muka laut yang memengaruhi kondisi pulau-pulau, yurisdiksi wilayah maritim dan batas maritim suatu negara pantai dengan negara tetangganya?

Memahami Kepulauan Indonesia dan Batas Maritimnya

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau dan berbatasan dengan sepuluh negara tetangga yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia dan Timor Leste. Dengan kesepuluh negara tersebut, Indonesia berbatasan maritim dan sekaligus berbatasan darat dengan tiga diantaranya yaitu Malaysia (di Kalimantan), Papua Nugini dan Timor Leste.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak pulau kecil. Menurut Undang-undang No. 27/2007, ada 92 pulau kecil yang menjadi bagian dari Kepulauan Indonesia. Bagi Indonesia, pulau-pulau kecil, terutama yang berlokasi di pinggir kepulauan (pulau terluar) memiliki nilai strategis. Pada pulau-pulau terluar inilah ditempatkan titik-titik pangkal yang membentuk garis pangkal kepulauan. Garis pangkal ini melingkupi seluruh Kepulauan Indonesia dan merupakan acuan untuk mngukur lebar wilayah maritim Indonesia, baik itu laut teritorial (12 mil laut dari garis pangkal), zona tambahan (24 mil laut), zona ekonomi eksklusif (200 mil laut) dan landas kontinen (hingga 350 mil laut atau lebih). Garis pangkal ini juga menjadi referensi dalam menentukan garis batas maritim dengan negara tetangga jika terjadi sengketa atau tumpang tindih klaim.

GW dan Tenggelamnya Pulau-pulau

Berbagai pihak telah memublikasikan temuannya terkait meningkatnya suhu Bumi yang menyebabkan meningkatnya tingi muka laut. Data yang dilansir PBB dalam website resmi perubahan iklim menyatakan bahwa selama abad 20, peningkatan suhu global mencapai 0,74°C. Jika konsentrasi karbon dioksida tetap pada angka 550 ppm (parts per million) maka peningkatan suhu bisa mencapai 2 – 4,5°C, dengan perkiraan terbaik sebesar 3°C. Dengan kata lain, jika penurunan emisi karbon dioksida tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh maka peningkatan suhu yang drastis tidak bisa dihindarkan.

Fenomena lain yang teramati sebagai dampak pemanasan global adalah mencairnya es di kutub. Telah terbukti bahwa tutupan es di Antartika (Kutub Selatan) dan Greenland (Kutub Utara) berkurang massanya akibat pelelehan. Hal ini meningkatkan tinggi muka laut yang mencapai 17 cm selama abad 20. Dengan kondisi yang ada sekarang, dapat diperkirakan bahwa peningkatan tinggi muka laut di akhir abad ke-21 dapat mencapai angka 28-58 cm.

Salah satu akibat meningkatnya tinggi muka laut adalah tenggelamnya pulau-pulau kecil atau dataran rendah. Kawasan di Kepulauan Pasifik adalah yang selama ini diduga akan terkena dampak GW paling awal. Kiribati, misalnya, adalah salah satu negara kecil di kawasan Pasifik yang merasakan kekhawatiran tersebut. Presidennya, Anote Tong, mengungkapkan dalam Forum Tahunan Pacific Selatan di Fiji (2006) bahwa dengan tenggelamnya pulau-pulau dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan, mereka harus segera mencari tempat untuk mengungsi.

Continue reading “Melawan Global Warming, Menjaga Kedaulatan”

Toponimi, refleksi sejarah peradaban manusia – Prof. Jacub Rais

Kuliah Umum Prof. Jacub Rais

Amazing.

Prof. Jacub Rais layak diberikan penghormatan luar biasa atas dedikasi nya ke dunia geodesi, geomatika, maritim yang dikembangkannya sejak dulu. Di usia yang sudah 80 tahun lebih, Prof. Rais masih semangat memberi kuliah umum di kampus saya beberapa hari yang lalu. salut luar biasa. Ditengah suaranya yang sudah mulai kecil dan tubuh yang jelas terlihat merenta, Prof. Rais memaparkan topomini, dan seluk beluk nya dengan gamblang. Luar biasa, sekali lagi salut.

Ini saya forward-kan berita dari kampus saya.

——————————————————

Pada tanggal 25 April 2008, di selenggarakan Kuliah umum dan presentasi dari Prof Jacub Rais di Jurusan Teknik Geodesi-Geomatika FT-UGM. Dalam kesempatan itu Prof. Rais memberikan presentasi tentang Toponimi dan Perpres No 112 Tahun 2006 tentang Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi.

Prof. Rais yang dikenal sebagai salah satu pelopor geodesi dan geomatika di Indonesia membawakan presentasi yang sangat menarik. Sebagai orang yang aktif di United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN), beliau nampak memahami betul pentingnya pembakuan nama rupabumi. Tidak saja Prof. Rais menyoroti aspek teknis, beliau juga memaparkan dengan gamblang aspeks historis. Ketika memaparkan sejarah di balik nama tempat-tempat di Indonesia, Prof. Rais menegaskan bahwa nama merupakan refleksi sejarah peradaban manusia. Nama sebuah tempat dapat menyimpan fenomena vegetasi pada zaman tertentu, aktivitas masyarakat saat nama itu dibentuk, termasuk juga konteks sosial yang tertuang dalam cerita rakyat misalnya.

Prof. Rais mencontohkan, nama Kemang di Jakarta misalnya diambil dari kondisi daerah yang ditumbuhi oleh pohon pemang ada zaman dulu. Demikian pula dengan Duren Tiga. Beda lagi dengan nama Bandung yang berasal dari bendung (air). Hal lain yang ditegaskan Prof. Rais adalah pentingnya memahami bahwa istilah/bahasa lokal bisa digunakan untuk menamai suatu unsur geografis. Istilah “Ci” berarti air atau sungai, sehingga penulisan yang benar adalah Ci Liwung, untuk nama sungai, bukan Ciliwung dan bukan “Sungai Ciliwung” karena “Ci” sendiri sudah berarti sungai.

Continue reading “Toponimi, refleksi sejarah peradaban manusia – Prof. Jacub Rais”