Menulis Puisi

Dulu saya suka sekali menulis puisi. Beneran. Sampe ditulis di buku khusus (pas SMA sampe awal-awal kuliah), yang isinya puisi-puisi (ga jelas). Ya karena dulu masih muda, banyak puisi bertema cinta. Haha. Tapi sekarang kemampuan dan kemanuan menulis puisi berkurang drastis. Kenapa oh mengapa? Salah satu alasannya mungkin karena saya jarang membaca buku dan koran sekarang. Lho kok? Iya, biasanya inspirasi saya dapatkan untuk membuat puisi itu datang dari bahan bacaan yang seringkali menarik (walau kadang juga dari kejadian-kejadian sehari-hari yang dialami). Ini salah satu contoh puisi yang saya buat beberapa tahun yang lalu (siap-siap muntah ya… :mrgreen: )

KARENA KAU TULANG RUSUKKU

Jangan menangis perempuanku….

Jarak ini tidak memisahkan kita sepenuhnya, jarak hanya memisahkan desah…

Nafas ini, nafas kita, tetap satu….tetap padu….

Jangan bersedih perempuanku….

Ketika yang lain bersama cinta mereka, kamu tetap bersamaku, walau sekedar nafas yang menderu….sedang tubuh beku tak satu….

Jangan melihatku seperti ini perempuanku….

karena dadaku sakit ketika kamu menitikkan air mata kangen itu di pipi, sedang aku bodohnya tak bersama kamu…..

Jangan pergi perempuanku…..

Tulang rusukku kutemukan ada padamu….

Continue reading “Menulis Puisi”

Kepada Malam

Bulan sabit ungu sedang menggoda.

Minta ditemani semalaman.

Lentera-lentera bintang pun ceria mengarung jagad.

Juga enggan pergi, ingin dilihat, dikagumi.

Kepada malam,

Di mana matahari tidur dan kehilangan kuningnya sinar.

Kepada malam,

saat bulan, bintang, berlari, ke sana ke mari,

Menantang ku berkelana.

lihatlah,

Aku duduk, menengadah,

Kubiarkan sayu mataku.

Untuk mu.

Saat ini.

Continue reading “Kepada Malam”

-Kerendahan Hati, Taufik Ismail-

Kalau engkau tak mampu jadi beringin
yang tegak di puncak bukit
jadilah belukar, tapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup jadi belukar,
jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
jadilah saja jalan kecil,
tetapi jalan setapak yang
membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya…
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu…
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

-Kerendahan Hati, Taufik Ismail-