Do We Live in A Borderless World?

Do we live in a borderless world?. Pertanyaan ini saya jadikan status facebook saya beberapa kali, tujuannya jelas, ingin tahu apa ide dan pendapat terkait pertanyaan di atas tadi. Ada beberapa komentar yang muncul. Teman satu kantor memberikan pandangannya, tergantung cara pandang dan subjek pembicaraannya.. kalo ngomong interaksi sosial sich iya.. tp ketika bicara kedaulatan tentu lain soal, begitu katanya. Teman saya di Lampung berujar, Borderless tu tnp bts kan? I think the world is borderless, but our life is bordered by time, religi n social etiquette..hehe.. Soale kalo g, ‘chaos’ yg bkl muncul. Saya memang tidak menyebutkan borderless yang seperti apa, dan kondisi yang bagaimana. Saya sengaja biarkan masing-masing ide dapat dikeluarkan tanpa terkungkung dengan batasan yang saya buat.

Continue reading “Do We Live in A Borderless World?”

Lha blog anda kok ndak banyak komen nya?

Lha blog anda kok ndak banyak komen nya?. Seorang teman tanya itu ke saya.

blog fakir komen

Saya malah jadi bingung?. Lha emang kenapa kalo yang komen dikit, bahkan no comment untuk beberapa postingan, Lha emang kenapa yah?. Lha saya bikin blog emang cuma pengen nulis. Menumpahkan ide dan apa yang dialami di blog. Kalau ada yang komen, berarti ada yang pengen apresiasi atawa berbagi ide. Kalo tak ada komen (dan trafik dikit) lha ya ga berarti apa-apa….hihihi

Continue reading “Lha blog anda kok ndak banyak komen nya?”

Melawan Global Warming, Menjaga Kedaulatan

Sudah banyak blog dan ulasan menarik tentang Global Warming. Sejauh mana Global Warming akan berpengaruh pada kita?. Ada banyak aspek kehidupan yang akan terpengaruh. Salah satunya KEDAULATAN NEGARA. Lho?, kok bisa sampe ke KEDAULATAN NEGARA?. SIlahkan baca saja tulisan di bawah ini, saya kopi paste dari blog dosen saya (Pak I Made Andi Arsana). Agak panjang memang, tapi percayalah, kesemuanya mencerahkan. SELAMAT MEMBACA:

Site aseli:

http://geo-boundaries.blogspot.com/

URL aseli:

http://geo-boundaries.blogspot.com/2008/03/melawan-global-warming-menjaga.html

English version:

http://www.thejakartapost.com/news/2008/03/31/global-warming-and-threat-sovereignty.html

—————————-

Pemanasan global atau yang populer dengan istilah Global Warming (GW) menjadi salah satu isu paling hangat di seluruh dunia belakangan ini. Konferensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC yang dilangsungkan di Bali akhir tahun lalu merupakan salah satu bukti keseriusan isu ini. Konferensi yang berlangsung selama hampir dua minggu tersebut berhasil menyepakati Bali Roadmap yang akan mengantarkan Planet Bumi untuk menghadapi dan terutama melawan GW.

GW memiliki dampak yang sangat luas. Tentu tidak cukup tempat untuk membahas semuanya dalam tulisan ini, karenanya saya akan memfokuskan pada satu masalah saja. Bagaimana dampak GW terhadap kedaulatan, teruma ketika dikaitkan dengan peningkatan tinggi muka laut yang memengaruhi kondisi pulau-pulau, yurisdiksi wilayah maritim dan batas maritim suatu negara pantai dengan negara tetangganya?

Memahami Kepulauan Indonesia dan Batas Maritimnya

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau dan berbatasan dengan sepuluh negara tetangga yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia dan Timor Leste. Dengan kesepuluh negara tersebut, Indonesia berbatasan maritim dan sekaligus berbatasan darat dengan tiga diantaranya yaitu Malaysia (di Kalimantan), Papua Nugini dan Timor Leste.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak pulau kecil. Menurut Undang-undang No. 27/2007, ada 92 pulau kecil yang menjadi bagian dari Kepulauan Indonesia. Bagi Indonesia, pulau-pulau kecil, terutama yang berlokasi di pinggir kepulauan (pulau terluar) memiliki nilai strategis. Pada pulau-pulau terluar inilah ditempatkan titik-titik pangkal yang membentuk garis pangkal kepulauan. Garis pangkal ini melingkupi seluruh Kepulauan Indonesia dan merupakan acuan untuk mngukur lebar wilayah maritim Indonesia, baik itu laut teritorial (12 mil laut dari garis pangkal), zona tambahan (24 mil laut), zona ekonomi eksklusif (200 mil laut) dan landas kontinen (hingga 350 mil laut atau lebih). Garis pangkal ini juga menjadi referensi dalam menentukan garis batas maritim dengan negara tetangga jika terjadi sengketa atau tumpang tindih klaim.

GW dan Tenggelamnya Pulau-pulau

Berbagai pihak telah memublikasikan temuannya terkait meningkatnya suhu Bumi yang menyebabkan meningkatnya tingi muka laut. Data yang dilansir PBB dalam website resmi perubahan iklim menyatakan bahwa selama abad 20, peningkatan suhu global mencapai 0,74°C. Jika konsentrasi karbon dioksida tetap pada angka 550 ppm (parts per million) maka peningkatan suhu bisa mencapai 2 – 4,5°C, dengan perkiraan terbaik sebesar 3°C. Dengan kata lain, jika penurunan emisi karbon dioksida tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh maka peningkatan suhu yang drastis tidak bisa dihindarkan.

Fenomena lain yang teramati sebagai dampak pemanasan global adalah mencairnya es di kutub. Telah terbukti bahwa tutupan es di Antartika (Kutub Selatan) dan Greenland (Kutub Utara) berkurang massanya akibat pelelehan. Hal ini meningkatkan tinggi muka laut yang mencapai 17 cm selama abad 20. Dengan kondisi yang ada sekarang, dapat diperkirakan bahwa peningkatan tinggi muka laut di akhir abad ke-21 dapat mencapai angka 28-58 cm.

Salah satu akibat meningkatnya tinggi muka laut adalah tenggelamnya pulau-pulau kecil atau dataran rendah. Kawasan di Kepulauan Pasifik adalah yang selama ini diduga akan terkena dampak GW paling awal. Kiribati, misalnya, adalah salah satu negara kecil di kawasan Pasifik yang merasakan kekhawatiran tersebut. Presidennya, Anote Tong, mengungkapkan dalam Forum Tahunan Pacific Selatan di Fiji (2006) bahwa dengan tenggelamnya pulau-pulau dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan, mereka harus segera mencari tempat untuk mengungsi.

Continue reading “Melawan Global Warming, Menjaga Kedaulatan”

Peta: Apakah itu?

Banyak sekali definisi tentang peta, tetapi pada dasarnya peta adalah bayangan/gambaran yang diperkecil dari sebagian besar atau sebagian kecil permukaan bumi pada bidang datar dengan skala dan sistem proyeksi tertentu (Wongsotjitro, 1980).

Secara garis besar tahapan untuk mendapatkan suatu peta (proses pemetaan), yaitu :

· Pengumpulan data lapangan,

· Pengolahan data lapangan, dan

· Penyajian data lapangan.

Prinsip Utama Peta

Prinsip utama peta untuk dapat digunakan, yaitu :

· Menyatakan posisi/lokasi suatu tempat di permukaan bumi.

· Memperlihatkan pola distribusi dan pola spasial dari fenomena alam dan buatan manusia.

· Merekam dan menyimpan informasi permukaan bumi.

Karakteristik Peta

Peta memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :

· Gambar disajikan pada bidang datar dalam bentuk dua dimensi (hasil transformasi matematik).

· Merupakan bentuk reduksi dari keadaan sebenarnya.

· Dalam penyajiannya mengalami suatu proses generalisasi, sehingga tidak semua informasi dapat disajikan.

· Merupakan suatu bentuk penegasan (enhancement) dari unsur yang terdapat di permukaan bumi (misal : kontur).

Fungsi Peta

Peta mempunyai beberapa fungsi, yaitu :

· Memperlihatkan posisi atau lokasi relatif dari suatu tempat.

· Memperlihatkan ukuran dalam pengertian jarak dan arah.

· Memperlihatkan bentuk atau unsur yang terdapat di permukaan bumi.

· Menghimpun serta menselektif data permukaan bumi.

Continue reading “Peta: Apakah itu?”

Seleb Jadi Blogger, Blogger jadi apa? Reportase from talkshow blog @ NIX 08 by cahandong.org

Baru aja dari talkshow blog di JEC, acara pameran komputer NEX’08. Acara talkshow blog ini dipanitiai oleh cahandong.org. Saya nonton bareng Vito.

Talkshow nya sendiri di mulai molor 18 minutes dari jadual yang seharusnya jam 15.00. Dan selesai jam lima lebih dikit. Pembicara yang hadir, sama dengan yang di iklan, yaitu:

Herman Saksono (Blogger serius, senior webdesainer Gamatechno)

Bambang Irawan ( jurnalis IT – Tabloid SInyal)

BM Adam ( Managing Editor – Info Komputer)

Sedang moderatornya sendiri ada Mba tikabanget ituh.

Continue reading “Seleb Jadi Blogger, Blogger jadi apa? Reportase from talkshow blog @ NIX 08 by cahandong.org”