Bisa

Minggu lalu, Kang Janges yang sekarang jadi calon pegawai mengeluh hebat. Ceritanya tentang problematika pekerjaan dan tantangan orang baru di kantor yang mengharu biru, heroik dan di beberapa segmen mencemaskan. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya berkelok-kelok liar seperti sungai Amazon. Bercabang kesana kemari, namun tetap saja menyeramkan. Kang Janges bercerita bahwa dia dijadikan “anak tiri” di kantor. Tidak diperhatikan senior, dan seperti terlupakan, terpinggirkan tanpa tahu kenapa dia seperti dilupakan dan dipinggirkan. Continue reading “Bisa”