Jogja: Memang Istimewa

Demonstrasi seni yang dilakukan tidak kurang 1500 wong jogja, ke Gedung DPR di senayan, beberapa hari lalu tentu saja memberi nuansa tersendiri dalam dunia perpolitikan Indonesia. Ya, kalau umumnya, demonstrasi adalah berisi orasi dan kritik pedas (seringkali di warnai bakar ban dan pelemparan telur dan tomat busuk), maka jangan heran kalau demo nya wong jogja ke senayan kemarin justru memakai pakaian jawa yang anggun, dan di sertai searngkain tari dan acara seni untuk menyampaikan aspirasi. Ya, seperti yang memang sedang hangat dibicarakan khususnya di jogja dan oleh wong jogja (aseli) yaitu tentang UU keistimewaan jogja, termasuk di dalam nya pemilihan gubernur dan wakil gubernur jogja.

Jogja memang istimewa, apalagi soal pemimpinnya. Sejak jaman sebelum merdeka, Jogja sudah di kenal dengan kerajaannya. Dengan dua pemimpin nya, yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono dan Paku Alam. Dua pemimpin yang benar-benar jadi raja, sehingga titah, dan apa yang diperintahkan dilakukan rakyat Jogja. Pun demikian dengan kondisi setelah merdeka hingga saat ini. Walau sudah dalam negara republik dan ada gubernur dan wakil gubernur sebagai pemimpin sebuah provinsi, maka di Jogja dua jabatan tersebut “otomatis” menjadi milik Sri Sultan dan Paku Buwono. Rakyat Jogja jelas lebih patuh dengan Raja nya daripada dengan Gubernur, karena kentalnya budaya Jogja yang mengakar di masyarakat. Maka dari itu, Gubenur dan Wakil Gubernur lebih pada “pekerjaan resmi” saja, karena secara “pemerintahan” maka Jogja sebagai daerah dan wong jogja sebagai masyarakat “dipimpin” oleh Sultan. Jadi sekali lagi, sepisan meneh, jangan heran dengan “demo unik” yang dilakukan di Senayan kemarin. Karena ngomongin Jogja secara politik, berarti ngomongin budaya yang mengakar kuat di masyarakat, yang juga tidak lepas dari seni dan kesenian yang ada di Jogja lebih dari ratusan tahun lamanya.
Continue reading “Jogja: Memang Istimewa”