Bahasa


Saya seringkali tertegun, di rumah saya nun jauh di sana di Purbalingga, anak-anak kecil bercakap dan bercengkrama dengan bahasa Indonesia.

Suatu ketika, ketemu teman di mal di jogja sana, temen SMA. Dan akhirnya berbincang dengan bahasa Indonesia.

Di kantor, saya tertegun dan kadang sering bingung, para wanita mengobrol dengan asyiknya memakai bahasa sunda. Saya seringkali atau bahkan selalu tidak mengerti.

Kapankah kita harus menggunakan bahasa Indonesia? Kapankah kita harus menggunakan bahasa daerah? Saya khawatir…saya akan perlahan melupakan bahasa ngapak karena terlalu sering lidah ini berucap dengan bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan sekarang mengenal bahasa sunda…

Continue reading “Bahasa”

Melawan Global Warming, Menjaga Kedaulatan

Sudah banyak blog dan ulasan menarik tentang Global Warming. Sejauh mana Global Warming akan berpengaruh pada kita?. Ada banyak aspek kehidupan yang akan terpengaruh. Salah satunya KEDAULATAN NEGARA. Lho?, kok bisa sampe ke KEDAULATAN NEGARA?. SIlahkan baca saja tulisan di bawah ini, saya kopi paste dari blog dosen saya (Pak I Made Andi Arsana). Agak panjang memang, tapi percayalah, kesemuanya mencerahkan. SELAMAT MEMBACA:

Site aseli:

http://geo-boundaries.blogspot.com/

URL aseli:

http://geo-boundaries.blogspot.com/2008/03/melawan-global-warming-menjaga.html

English version:

http://www.thejakartapost.com/news/2008/03/31/global-warming-and-threat-sovereignty.html

—————————-

Pemanasan global atau yang populer dengan istilah Global Warming (GW) menjadi salah satu isu paling hangat di seluruh dunia belakangan ini. Konferensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC yang dilangsungkan di Bali akhir tahun lalu merupakan salah satu bukti keseriusan isu ini. Konferensi yang berlangsung selama hampir dua minggu tersebut berhasil menyepakati Bali Roadmap yang akan mengantarkan Planet Bumi untuk menghadapi dan terutama melawan GW.

GW memiliki dampak yang sangat luas. Tentu tidak cukup tempat untuk membahas semuanya dalam tulisan ini, karenanya saya akan memfokuskan pada satu masalah saja. Bagaimana dampak GW terhadap kedaulatan, teruma ketika dikaitkan dengan peningkatan tinggi muka laut yang memengaruhi kondisi pulau-pulau, yurisdiksi wilayah maritim dan batas maritim suatu negara pantai dengan negara tetangganya?

Memahami Kepulauan Indonesia dan Batas Maritimnya

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau dan berbatasan dengan sepuluh negara tetangga yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia dan Timor Leste. Dengan kesepuluh negara tersebut, Indonesia berbatasan maritim dan sekaligus berbatasan darat dengan tiga diantaranya yaitu Malaysia (di Kalimantan), Papua Nugini dan Timor Leste.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak pulau kecil. Menurut Undang-undang No. 27/2007, ada 92 pulau kecil yang menjadi bagian dari Kepulauan Indonesia. Bagi Indonesia, pulau-pulau kecil, terutama yang berlokasi di pinggir kepulauan (pulau terluar) memiliki nilai strategis. Pada pulau-pulau terluar inilah ditempatkan titik-titik pangkal yang membentuk garis pangkal kepulauan. Garis pangkal ini melingkupi seluruh Kepulauan Indonesia dan merupakan acuan untuk mngukur lebar wilayah maritim Indonesia, baik itu laut teritorial (12 mil laut dari garis pangkal), zona tambahan (24 mil laut), zona ekonomi eksklusif (200 mil laut) dan landas kontinen (hingga 350 mil laut atau lebih). Garis pangkal ini juga menjadi referensi dalam menentukan garis batas maritim dengan negara tetangga jika terjadi sengketa atau tumpang tindih klaim.

GW dan Tenggelamnya Pulau-pulau

Berbagai pihak telah memublikasikan temuannya terkait meningkatnya suhu Bumi yang menyebabkan meningkatnya tingi muka laut. Data yang dilansir PBB dalam website resmi perubahan iklim menyatakan bahwa selama abad 20, peningkatan suhu global mencapai 0,74°C. Jika konsentrasi karbon dioksida tetap pada angka 550 ppm (parts per million) maka peningkatan suhu bisa mencapai 2 – 4,5°C, dengan perkiraan terbaik sebesar 3°C. Dengan kata lain, jika penurunan emisi karbon dioksida tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh maka peningkatan suhu yang drastis tidak bisa dihindarkan.

Fenomena lain yang teramati sebagai dampak pemanasan global adalah mencairnya es di kutub. Telah terbukti bahwa tutupan es di Antartika (Kutub Selatan) dan Greenland (Kutub Utara) berkurang massanya akibat pelelehan. Hal ini meningkatkan tinggi muka laut yang mencapai 17 cm selama abad 20. Dengan kondisi yang ada sekarang, dapat diperkirakan bahwa peningkatan tinggi muka laut di akhir abad ke-21 dapat mencapai angka 28-58 cm.

Salah satu akibat meningkatnya tinggi muka laut adalah tenggelamnya pulau-pulau kecil atau dataran rendah. Kawasan di Kepulauan Pasifik adalah yang selama ini diduga akan terkena dampak GW paling awal. Kiribati, misalnya, adalah salah satu negara kecil di kawasan Pasifik yang merasakan kekhawatiran tersebut. Presidennya, Anote Tong, mengungkapkan dalam Forum Tahunan Pacific Selatan di Fiji (2006) bahwa dengan tenggelamnya pulau-pulau dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan, mereka harus segera mencari tempat untuk mengungsi.

Continue reading “Melawan Global Warming, Menjaga Kedaulatan”

Peta: Apakah itu?

Banyak sekali definisi tentang peta, tetapi pada dasarnya peta adalah bayangan/gambaran yang diperkecil dari sebagian besar atau sebagian kecil permukaan bumi pada bidang datar dengan skala dan sistem proyeksi tertentu (Wongsotjitro, 1980).

Secara garis besar tahapan untuk mendapatkan suatu peta (proses pemetaan), yaitu :

· Pengumpulan data lapangan,

· Pengolahan data lapangan, dan

· Penyajian data lapangan.

Prinsip Utama Peta

Prinsip utama peta untuk dapat digunakan, yaitu :

· Menyatakan posisi/lokasi suatu tempat di permukaan bumi.

· Memperlihatkan pola distribusi dan pola spasial dari fenomena alam dan buatan manusia.

· Merekam dan menyimpan informasi permukaan bumi.

Karakteristik Peta

Peta memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :

· Gambar disajikan pada bidang datar dalam bentuk dua dimensi (hasil transformasi matematik).

· Merupakan bentuk reduksi dari keadaan sebenarnya.

· Dalam penyajiannya mengalami suatu proses generalisasi, sehingga tidak semua informasi dapat disajikan.

· Merupakan suatu bentuk penegasan (enhancement) dari unsur yang terdapat di permukaan bumi (misal : kontur).

Fungsi Peta

Peta mempunyai beberapa fungsi, yaitu :

· Memperlihatkan posisi atau lokasi relatif dari suatu tempat.

· Memperlihatkan ukuran dalam pengertian jarak dan arah.

· Memperlihatkan bentuk atau unsur yang terdapat di permukaan bumi.

· Menghimpun serta menselektif data permukaan bumi.

Continue reading “Peta: Apakah itu?”

SPG vs SPB: siapa lebih menarik?. Case study: NIX 08 Yogyakarta (3-7 Mei 2008)

SPG vs SPB: siapa lebih menarik?. Case study: NIX 08 Yogyakarta ( 3-7 Mei 2008 )

Terminologi cerita

SPG stands for Sales Promotion Girl. SPB stands for Sales Promotion Boy (ini saya juga ga tau apakah ada istilah SPB, kalau belum ada, kudu saya patenkan ini :d). Jadi mengapa milih judul ini?. Terminologi nya adalah bagaimana bahwasanya sekarang eksistensi SPG sebagai penarik hati konsumen untuk berbelanja (terutama pas pameran) sudah mulai terganggu oleh hadirnya SPB. Ya, jangan heran donk, coba saja anda-anda tengok kalo di pameran, saiki banyak SBP bersliweran. Ngalah-ngalahke SPG. Jadi karena ituh (melu-melu mba tikabanget ituh), saya mencoba mengangkat problem ini…

Mengapa SPG dan mengapa pula SPB?

SPG jelas sudah jadi bagian tak terpisahkan dari sebuah pameran (kecuali pameran buku islami..wakaka). Liat aja, Wudel SPG banyak terlihat di beberapa stand pameran. Anda-anda pastinya ngerti dan paham, jikalau SPG memang magnet yang menjadikan sebuah pameran menarik untuk di kunjungi. Saya kok ya ga yakin kalo sekian puluh ribu orang yang ndatengin pameran pengen beli barang semwa. Saya ber”analisa” jikalau ada bererapa ribu orang yang cumak kepengen melototin wudel SPG yang bohay mohel itu.

Dan sekarang, saya kok jadi agak khawatir, eksistensi SPG di sebuah pameran akan digantikan oleh SPB-SPB yang mule menjamur. Kan bisa berabe tuh, kalo ke pameran ga bisa liat SPG. Lha wong saya udah punya laptop, alat elektronik dan gadget lengkap-lengkip, dank e pameran emang Cuma pengen liat wudel SPG (sapa yang kayak saya?…tunjuk hidung masing-masing…).

Continue reading “SPG vs SPB: siapa lebih menarik?. Case study: NIX 08 Yogyakarta (3-7 Mei 2008)”