2010

kamu menenteng kameramu. padaku kau tunjukkan rintik hujan yang berlompatan terkena payung warna ungu yang tak sengaja kau bidik kemarin. indah sekali, aku harus mengakuinya. hujan kemarin tergambar lebih kalem dari yang sebenarnya. tak kulihat kilat dan hitam langit, gadis berambut panjang berpayung ungu yang kau foto dari belakang itu mengalihkan semuanya.
—-
siluet pagar rumah di pagi hari itu, seolah ingin kau tampilkan untuk keangkuhanku. untuk hashtag #kode dan #nm yang sering kutulis di twitter yang kau balas dengan puisi dan sajak indah. aku tidak sedingin itu. aku bukan pagar hitam kaku, aku sebenarnya matahari yang kau tangkap sinarnya itu. menyinari keras kepalamu yang mengharapkan dia. aku tahu, di dalam hatimu, dia yang sering kita bincangkan lebih dari yang sering kau ceritakan mulut mungilmu. mulut bisa berbohong, hati tak akan bisa, sayang sekali dalam hatimu tak terbaca, tapi refleksinya terlihat dari gerak tubuhmu, dari senyummu yang tersungging saat melihatnya, itu di bawah sadarmu…kau tak dapat menutupinya
—- Continue reading “2010”