Jujur ternyata cuma seharga 5000 rupiah

Siang yang panas, matahari bersinar terik. Yang paling enak untuk menyegarkan suasana tidak hanya minum es teh, tapi bisa juga makan yang seger-seger. 

Sudah beberapa kali, dalam beberapa waktu terakhir saya rajin beli buah segar, yang dipotong kecil-kecil dan dikasih sambal gula jawa atau garam. Harganya di hampir semua penjual yang ada di seputaran kantor 12 ribu rupiah. Isinya irisan mangga, jambu, pepaya, bengkoang, nanas, dan teman-teman buah lainnya. Hehe. 

Saya mau cerita kalo setidaknya dua kali saya dikerjai sama dua penjual yang berbeda. 

Yang pertama, ternyata di balik tumpukan buah,  tersembunyi biji buah mangga yang supergede. Mungkin memakan tempat sampai 1/4 wadah plastiknya. Masih untung buah-buahnya masih fresh semua dan bisa dimakan tanpa sisa. Iya sisanya ada, ya biji mangga itu. 

Yang kedua, ternyata buah yang dibagian bawah sudah tidak layak makan. Saya lihat nanas yang sembunyikan di bagian bawah sudah tidak bagus warnanya. Saya lihat ada juga jambu, yang kesemuanya disembunyikan dibagian bawah, yang sudah ga bisa dimakan. 

Kalau dihitung-hitung, baik dari yang pertama atau kedua, kerugian saya karena buah yang saya beli tidak bisa dimakan mungkin sekitar 5 ribu rupiah lah, kurang lebih. 

Saya jadi penasaran, apa itu disengaja atau tidak. Walau dalam hati sih condong ke memang sebuah kesengajaan. Artinya apa? artinya kejujuran seseorang, dalam hal ini penjual buah, hanya dihargai 5 ribu rupiah saja. 

Saya tidak tahu juga dink, mereka dapat untung berapa dari model jualan seperti ini. 5 Ribu kali sekian puluh pembeli dalam sehari mungkin . 

Tapi apakah uang segitu sebanding dengan hilangnya kepercayaan para pembeli yah. Ga tau juga deh. 

mereka yang abai dan membahayakan 

Gila…

Saya mengumpat dalam hati. Beberapa motor menerabas lampu merah di pertigaan pemda Cibinong. Jatah mereka jalan sebenarnya mungkin masih puluhan detik lagi. Saat mereka nyelonong ngebut, jalur saya baru saja hijau warna lampunya. Artinya mereka masih satu giliran lagi seharusnya. 

Saya juga heran mengapa budaya berlalu lintas di Cibinong sedemikian buruknya. Terutama mereka yang sopir angkot dan beberapa pemotor, terutama di pagi hari saat berangkat kerja dan sore waktunya pulang kerja. 

Pada suatu  ketika saya pernah sedang menunggu giliran jalan di lampu merah. Eh ada motor yang jalan saja. Padahal jelas indikator waktu masih menunjukkan angka 45. Artinya masih harus menunggu 45 detik lagi, tapi sudah jalan. Apa bukan gila namanya. 

Perilaku buruk ini sebenarnya seperti membuka pintu maut sendiri dan sialnya untuk orang lain. Mereka pelanggar lampu merah apa tidak sadar kalau perilaku bodoh mereka berbahaya tidak hanya untuk diri mereka sendiri , tapi buat orang lain. Apa mereka ga mikir kalau kelakuan mereka malah membuat orang yang seharusnya “aman” karena memang jalan pada gilirannya karena sedang hijau malah berpotensi celaka. 

Saya suka ngeri sendiri kalau sedang di lampu merah dan langsung dapat jatah lampu hijau. Apalagi kalau kendaraan di depan sudah sedikit . Ngebut biar bisa lewat , tapi potensi ada kendaraan nyelonong, bisa mobil atau motor sangat tinggi. Bisa-bisa celaka. 

Yang bikin tidak habis pikir, petugas lalu lintas berseragam itu, kok lebih hobi nunggu dan nilang mereka yang tidak berkendara di jalurnya, misal motor yang ambil jalur cepat padahal harusnya di jalur lambat  , daripada nilang mereka yang menerabas lampu merah, atau maju melebihi batas di perempatan/pertigaan yang sangat mengganggu laju kendaraan dari jalur lain. 

Ngopi selepas kerja

14368704_10209546461311342_3321637670822868120_nSaya mungkin yang termasuk bagian dari mereka yang mulai suka ngopi karena trend. Ngopi memang sekarang jadi hal yang jamak dilakukan banyak orang, terutama di kafe yang nuansanya retro, jadul, pokoknya yang instragaram-able lah.

Karena mengikut trend inilah saya pas ke Bali beberapa kali tahun ini, mencoba beberapa tempat ngopi di Bali. Karena bukan penikmat yang sejati, menu andalan yang saya pesan juga sangat standar saja, Es Cappucino.

Tempat ngopi di Bali mungkin lebih nyeni daripada di daerah lain, mungkin lho. Karena saya lihat memang pernak-pernik nya sangat beragam dan satu dengan yang lainnnya berbeda. Setiap tempat ngopi menawarkan suasana yang berbeda, dan hampir kesemuanya indah dipandang dan asyik buat jadi obyek foto.

Siapa yang tidak happy bisa menikmati kopi di tempat yang enak, dan mungkin ditemani makanan lain. Saya menyebutnya “kebahagiaan menjelma dalam segelas es cappucino” di deskripsi foto di Facebook.

Oleh karenanya saya jadi bermimpi. Mungkinkah setiap sore pulang kantor saya bisa ngopi di tempat ngopi yang asyik. Kalau pengen gitu kayaknya saya harus punya tempat ngopi. Asyik sepertinya selepas kerja, rumah bukan jadi satu-satunya tujuan pulang. Tapi mampir di tempat ngopi milik sendiri. Pulang nanti ketika sudah ngantuk, sudah malam.

Mungkinkah?

 

 

Kerja di Usia Senja

Taksi “taxiku” tepat berada di ujung paling depan jalur tunggu 1 di terminal 3 bandara Soekarno Hatta. Baru tahu kalo sekarang  jalurnya dibedakan jalur taksi “burung biru” di jalur 2 dan taksi “non burung biru” di jalur 1. Sekarang juga di dekat tunggu taksi sudah dilengkapi alat+monitor untuk ambil nomor antrian baik untuk jalur 1 atau 2 sesuai pilihan calon penumpang. Karena kebetulan saya memang rencana naik taksi kuning ini, saya langsung naik saja. 

Sopirnya pakai topi dan berkacamata, dan seperti biasa saya “cek” suka ngobrol tidak. Saya jarang tidur di taksi, dan sering malas buka hp. Maka ngobrol dengan sopir taksi menjadi hal yang lumayan seru dilakukan sembari menuju rumah. Saya awali dengan bertanya sudah berapa kali narik hari ini, kemana saja. Dijawab dengan ramah, katanya sudah tiga kali, ke cawang dan ke pondok indah. 

saya ajukan lagi pertanyaan-pertanyaan yang hampir selalu saya tanyakan ke hampir semua sopir taksi untuk pancingan ngobrol, tentang berapa lama kerja di taksi, penghasilan sebulan berapa , dan tentu tentang uber dan grab dan dampaknya ke penghasilan. Jawaban dari bapaknya lancar dan sangat antusias. Teman ngobrol sampai rumah , sudah tersedia. 

Pak sopir cerita kalau dulu kerja di tambang di Kalimantan, berhenti mungkin 7 tahun lalu. Saya langsung potong, kok pindah ke taksi, padahal di tambang katanya penghasilannya lumayan tinggi. 

Obrolannya berlanjut, Pak Sopir cerita kalau sudah sering sakit, jadi tidak boleh kerja jauh sama keluarganya. Saya terus terang terkejut ketika bertanya umur berapa ke bapaknya. Umurnya ternyata sudah 67 tahun, punya 5 anak dan 6 cucu. 

Saya tanya lagi, sudah 67 tahun masih kok bekerja. Jadi driver taksi lagi. Jadwal bekerja sopir taksi biasanya dari pagi sampai malam. Bapaknya menjawab diplomatis, ya isi waktu sambil cari rezeki. Bapaknya kemudian melanjutkan ceritanya kalau jam kerjanya juga sudah tidak sampai larut malam. Kalau habis isya sudah pulang, karena tidak kuat badan jika harus bekerja seperti yang muda-muda katanya. 

Obrolan terus berlanjut membelah jalan pulang ke Cibinong . Hujan deras menjadikan perjalanan memakan waktu hingga dua jam lebih. Banyak hal yang saya petik dari semangat Pak Sopir yang sampai umur 67 tahun masih berjuang dan mencari rejeki yang halal. 

Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti . 

vid Canon EOS M3

Saya punya kamera baru, Canon EOS M3. Kamera mirrorless dari canon yang sepertinya speknya paling bagus dari seri mirrorless yang dikeluarkan Canon. Alasan memilih kamera ini tentu karena harga yang bersaing jika dibandingkan merek lain misalnya punya Sony atau Fuji dengan fitur yang relatif sama. Adanya wifi di kamera ini tentu alasan utama selain beberapa alasan lain. Setelah jepret saya bisa langsung memindahkan foto dan video ke HP saya. Continue reading “vid Canon EOS M3”