KEKECEWAAN

Pernah suatu kali terpikir hidup saya terlalu santai dijalani. Melakukan apa saja sepertinya enak saja dilakukan dengan waktu tempuh yang tak terbatas. Celakanya, saya sudah (terlalu) sering terjebak sendiri oleh tingkah salah ini. Dan lebih celaka lagi, saya tak kunjung bangkit dan berubah, walau sebenarnya jika mau di sadari, hati ini seluruhnya sudah sadar kalau selama ini ada yang salah. Namun, setan dan iblis sialan ini tetap saja merasuk di hati dan tak mau pergi. Kekecewaan kemudian sering timbul, apa yang menyebabkan saya jadi sedemikian rapuhnya. Sedemikian bodohnya untuk menelantarkan waktu. Sedemikian dangkalnya pikiran sehingga banyak usaha dan daya yang sia-sia. Kekecawaan kemudian muncul lagi, ketika usaha yang dirasa sudah hebat ternyata hanya berbuah malapetaka dan kekecewaan hati. Daya yang diberikan secara seluruh dan menyeluruh hanya menghasilkan sampah dan malu. Apa yang terjadi sehingga yang di hati sudah benar, tapi di otak, mulut, tangan, mata, hidung, kaki jadi salah dan suram. Jika setidaknya otak ini mau berpikir dan kembali melihat seonggok asa dan cita-cita yang sudah terlanjur usang dan tergeletak kumuh di pojok otak dekat tempat sampah, mungkin muncul lagi dan tumbuh lagi semangat ini. Tapi lagi, semangat saja tak bisa berbuat apa-apa tanpa tindakan nyata dan terarah. Sudahlah, saatnya bertindak dan tak lagi berkata, mata ini sudah terlalu malu melihat diri ditertawakan keangkuhan. Telinga ini sudah terlampau pekak mendengar tawa ejekan kegelapan. Mulut ini sudah tak mampu berucap menunjuk kebanggaan menjadi saya

KARENA KAU TULANG RUSUK KU

Jangan menangis perempuanku….
Jarak ini tidak memisahkan kita sepenuhnya, jarak hanya memisahkan desah…
Nafas ini, nafas kita, tetap satu….tetap padu….
Jangan bersedih perempuanku….
Ketika yang lain bersama cinta mereka, kamu tetap bersamaku, walau sekedar nafas yang menderu….sedang tubuh beku tak satu….
Jangan melihatku seperti ini perempuanku….
karena dadaku sakit ketika kamu nenitikkan air mata kangen itu di pipi, sedang aku bodohnya tak bersama kamu…..
Jangan pergi perempuanku…..
Tulang rusukku kutemukan ada padamu….

SELAMANYA

Seandainya mampu
Kupeluk kau erat
Saat terpuruk
Seandainya bisa
Kuhapus air mata yang terlanjur menetes di pipi
Saat menangis
Lalu kukecup keningmu dan berkata:
“Jangan menangis lagi, aku di sampingmu”
Seandainya mungkin
Kita berbagi semua
Apa saja
Kapan saja
Selamanya

MERDEKA

Saya masih sedikit bingung tentang hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya. Menurut persepsi saya, saya sudah merdeka selama 2 tahun ini. Merdeka untuk bebas menggunakan waktu, tenaga, pikiran semau saya, karena saya sudah belajar tinggal sendiri, sudah ngekos, tidak ditemani (lagi) oleh keluarga, tidak seperti dulu saat masih muda ( sma). Tapi kemerdekaan yang saya dapatkan tidak berbuah apa-apa. buktinya, saya tidak termasuk mahasiswa yang disegani di kampus karena prestasi saya, saya juga bukan orang penting di organisasi manapun (bahkan KMTG), saya juga tidak bisa mengontrol penggunaan waktu saya dengan baik. Jadi apa saya sudah merdeka?. Bebas tapi tidak produktif?. Apa saya salah mengartikan arti kemerdekaan itu?. Merdeka atau tidak, saya merasa belum berbuat lebih baik, atau setidaknya berbuat sebaik mungkin yang seharusnya bisa saya perbuat.

MERAJAI HARI DENGAN ILUSI

Hari-hari yang telah lalu, masa depan yang tak terlihat. Sesungguhnya sesuatu akan bisa dimengerti tanpa harus menyentuh. Tubuh yang penuh keringat dan hati yang tak kunjung terkendali. Sesungguhnya semua ini memabukkan aku dan membuat jiwa lepas terabaikan. Semangat yang surut serta nurani yang selalu terbohongi. Aku bersembunyi dari kenyataan dan keindahan yang semu ini memalingkan mukaku padanya. Dalam malam yang temaram dan pagi yang menjelang. Dalam kesendirian aku ingin kamu pergi. Karena aku sudah terlalu muak dengan rayuan mu. Tuhan, ijinkan aku kembali. Meraih mimpi dan imajinasi….