SEMANGAT [berkobar dalam damai]

Dunia.
Saya tak ingin takluk.
Kamu, menambah deru dan nafas saya berat.
Tenang, saya semangat.
Saya mencoba kuat.
Dunia.
Kamu, memberi beban berat.
Tenang, tak lagi beban sekarang.
Sebuah tantangan.
Dunia.
Sekarang saya kenal kamu.
Jadi lebih baik, lebih bijak.
Semua dunia.
Semua tipu daya.
Dunia.
Indah, indah, indah.
Saya tak lagi takluk.
Saya jadi tenang.
Dunia.
Semangatku, semangat ini.
Jadi saksi.

SAAT BERCINTA

dalam hari ini, sepertinya terlalu banyak kata yang berkata cinta. Semu dan menyesakkan saya. Karena apa? karena semua adalah kenangan. Tapi bercinta itu menyusahkan. Tapi banyak kata yang berkata mengasyikkan. Kenapa? karena bersama, karena berbagi, karena menjadi bagian hidup adalah kepuasaan batin, kemapanan dalam pikiran dan jiwa. Mengapa? saya bingung kenapa ingin bercinta. Kenapa bisa ingat dengan kelam dan hitamnya dahulu?. Sudahlah, bercinta itu manusiawi, bercinta itu bawaan hidup. Biar dia dengan nafas dan tingkahnya, biar saya dengan segala keanehan saya. Biar dunia terus berputar, bergerak dimanis. Biar anda yang merusaha menangkap makna tulisan ini jadi paham, bahwa saya sedang berkata dengan kata yang katanya kata-kata saya membingungkan. Tidak, karena cinta yang sebenarnya, memudahkan kita memahami orang lain.

KEKECEWAAN

Pernah suatu kali terpikir hidup saya terlalu santai dijalani. Melakukan apa saja sepertinya enak saja dilakukan dengan waktu tempuh yang tak terbatas. Celakanya, saya sudah (terlalu) sering terjebak sendiri oleh tingkah salah ini. Dan lebih celaka lagi, saya tak kunjung bangkit dan berubah, walau sebenarnya jika mau di sadari, hati ini seluruhnya sudah sadar kalau selama ini ada yang salah. Namun, setan dan iblis sialan ini tetap saja merasuk di hati dan tak mau pergi. Kekecewaan kemudian sering timbul, apa yang menyebabkan saya jadi sedemikian rapuhnya. Sedemikian bodohnya untuk menelantarkan waktu. Sedemikian dangkalnya pikiran sehingga banyak usaha dan daya yang sia-sia. Kekecawaan kemudian muncul lagi, ketika usaha yang dirasa sudah hebat ternyata hanya berbuah malapetaka dan kekecewaan hati. Daya yang diberikan secara seluruh dan menyeluruh hanya menghasilkan sampah dan malu. Apa yang terjadi sehingga yang di hati sudah benar, tapi di otak, mulut, tangan, mata, hidung, kaki jadi salah dan suram. Jika setidaknya otak ini mau berpikir dan kembali melihat seonggok asa dan cita-cita yang sudah terlanjur usang dan tergeletak kumuh di pojok otak dekat tempat sampah, mungkin muncul lagi dan tumbuh lagi semangat ini. Tapi lagi, semangat saja tak bisa berbuat apa-apa tanpa tindakan nyata dan terarah. Sudahlah, saatnya bertindak dan tak lagi berkata, mata ini sudah terlalu malu melihat diri ditertawakan keangkuhan. Telinga ini sudah terlampau pekak mendengar tawa ejekan kegelapan. Mulut ini sudah tak mampu berucap menunjuk kebanggaan menjadi saya

KARENA KAU TULANG RUSUK KU

Jangan menangis perempuanku….
Jarak ini tidak memisahkan kita sepenuhnya, jarak hanya memisahkan desah…
Nafas ini, nafas kita, tetap satu….tetap padu….
Jangan bersedih perempuanku….
Ketika yang lain bersama cinta mereka, kamu tetap bersamaku, walau sekedar nafas yang menderu….sedang tubuh beku tak satu….
Jangan melihatku seperti ini perempuanku….
karena dadaku sakit ketika kamu nenitikkan air mata kangen itu di pipi, sedang aku bodohnya tak bersama kamu…..
Jangan pergi perempuanku…..
Tulang rusukku kutemukan ada padamu….

SELAMANYA

Seandainya mampu
Kupeluk kau erat
Saat terpuruk
Seandainya bisa
Kuhapus air mata yang terlanjur menetes di pipi
Saat menangis
Lalu kukecup keningmu dan berkata:
“Jangan menangis lagi, aku di sampingmu”
Seandainya mungkin
Kita berbagi semua
Apa saja
Kapan saja
Selamanya