Mencari Nafkah

barusan ada kawan ngetwit, intinya kasian sama orang jualan bakso keliling yang harus tetap keliling walau hujan gede, rasanya pengen beli semua, satu gerobak biar bisa pulang dan tidak perlu kehujanan.

Mencari nafkah untuk keluarga bisa jadi alasan kenapa seseorang mau berkorban banyak dalam pekerjaannya, mau hujan-hujanan, pakaian kotor, jauh dari keluarga dll untuk dapat duit, dan akhirnya mencukupi kebutuhan-kebutuhan keluarga. Apalagi mungkin seorang pria memang wajib membiayai keluarganya, istri dan anaknya, juga mungkin orang tua dan keluarga lain yang tidak bekerja. Continue reading “Mencari Nafkah”

Tukang Roti Keliling

Sejak hujan naik intensitasnya, terutama setelah Maghrib sampai malam hari, saya jadi langganan beli roti keliling, karena tidak perlu hujan-hujanan, tinggal nunggu mas-mas roti keliling lewat depan kos jam 8 an. Jam beredar yang konsisten, dan suara nyaring musik gerobaknya membuat beli roti jadi lebih gampang.

Saya biasanya beli beberapa sekalian, untuk 2-3 hari. Harga-harga yang dijual keliling saya kira tidak jauh berbeda dengan yang di toko. Sejujurnya saya bukan tipe pembeli yang cermat pada harga+kembalian. Saya jarang sekali, entah belanja dimanapun, menghitung kembali kembalian yang saya terima. Demikian pula kalau beli barang lebih dari 1 item, saya tidak pernah, atau jarang sekali menghitung ulang lagi total belanjaan saya. Sampai pada suatu malam, mungkin seminggu yang lalu, saya merasa harga roti yang saya beli dari mas-mas tukang roti keliling langganan sepertinya lebih mahal 1-3 ribu dari total yang seharusnya saya bayar. Karena belanjanya malam-malam, dan yang jualan juga menghitung manual tanpa alat bantu (kalkulator), saya diam saja ketika dibilang totalnya sekian. Saya bayar dan terima kembaliannya seperti biasa. Continue reading “Tukang Roti Keliling”

Tua di Jalan

Istilah ini tentunya banyak yang sudah tahu, kurang lebih artinya seseorang yang menghabiskan banyak waktunya di perjalanan terutama untuk berangkat dan pulang kerja. Banyak waktu, bukan hanya hitungan menit, tapi bisa jadi berjam-jam. Mereka yang ngelaju Bogor – Jakarta PP untuk bekerja, misalnya, bisa jadi menghabiskan 3 jam sehari hanya untuk di perjalanan. Kurang lebih 1/8 dari 24 jam yang tersedia dalam sehari. Kalau mau di hitung, misalnya seseorang sudah bekerja 8 tahun, 1 tahun sendiri dihabiskan diantara macetnya lalu lintas, berdesakan di rangkaian KRL, tertidur di bis jemputan pulang kerja, menyetir mobil sendiri, kehujanan di motor, dll dll. Continue reading “Tua di Jalan”

menerima

perlahan air mata menetes
malam sunyi jadi saksi
hati sedang berproses
menerima

menerima segalanya
untuk semua hal
kesedihan yang datang tanpa permisi
gundah gulana yang menyempitkan hati
resah yang menjadikan otak seolah tak lagi bersisa
penuh, seakan mau meledak.

bulir air mata semoga memang benar
jadi bukti
proses menerima berjalan dengan baik
penuh keikhlasan

menyadari
bahwa semua memang suratan takdir
Tuhan sudah tuliskan kisah untuk masing-masing manusia
maka saatnya menerima

Apapun Berbagi

image

Barusaja lihat gambar di atas di timeline twitter @faridyuniar, Gambar kartun mice di atas bisa jadi sindiran, sekaligus keprihatinan banyak orang diantara kita, termasuk saya. Walau saya juga mungkin jadi oknum yang sering ikutan apapun berbagi ini.

Seseorang bisa jadi sangat eksis di social media dengan sharing apapun yang dijalani sepanjang hari dari bangun tidur sampe mau tidur lagi. Saya tidak tahu motivasinya apa, tapi ada yang sangat rajin berbagi kehidupan sehari-harinya di social media.

Bangun tidur, set wake up di Path, jalan kaki/jogging dishare dengan nike+ yang disambungkan ke akun sosmed lain, semisal twitter. Mulai dari rumah, mau berangkat ke masjid subuhan, dishare lewat foursquare, kemudian share foto di instagram dengan aplikasi instaplace. Cek cuaca pagi,abadikan dengan instaweather dan dibagi lagi lewat instagram, path tersambung ke Twitter & facebook. Siang, sore, malem, itu dilakukan terus.

Belum lagi, berangkat kantor, laporan macet ke Waze, sampai kantor check in lagi di 4sq, makan siang+ishoma berbagi lagi di instagram+path+4sq. Agak sore pasang status FB dulu. Mau pulang lihat laporan cuaca lagi, check in di 4sq,path,dll.

Ada yang seperti itu? ada. dan banyak. Ini belum termasuk frekuensi ngetwit yang bisa beberapa kali dalam sekian menit.

Pertanyaannya, seberapa penting detil – detil hidup kita bagikan ke orang lain, dan apakah orang lain membutuhkan dan mau menerima informasi yang sangat banyak tentang seseorang bahkan sampai jam bangun dan tidur harus dibagikan?

Jangan-jangan kita sudah memaksa orang lain untuk melihat itu semua. Sudahkah kita pikirkan?

Saya akui saya sering melakukan hal yang sama, namun sejauh ini, saya juga merasa tidak enak hati kalau apa-apa harus dibagi. Kasian bandwith orang lain, temen kita, terbuang “cuma-cuma” untuk sekedar lihat “saya sudah bangun di suatu tempat”, atau “saya jalan kaki sejauh sekian ratus meter sekian menit ke warteg untuk beli makan”.