Difabel di pinggir jalan

image

Bagi yang melewati jalan raya Jakarta Bogor dari perempatan Cikaret ke arah Pasar Cibinong di sore hari, biasanya menjelang maghrib, pernahkan melihat seorang perempuan tua yang menyusuri jalan dengan duduk dan beralas kardus? karena tidak berjalan secara normal, mungkin ibu ini difabel.

Prasangka saya, ibu ini menyusuri jalan untuk “mengetuk hati” para pejalan kaki yang melintas, dan mungkin melihat dia susah payah menyusuri jalan, dan (sekali lagi mungkin) kemudian menyumbangkan uang padanya. Prasangka ini saya dasarkan karena hampir setiap hari saya melihat ibu ini beraktivitas yang sama, kecuali saat hujan deras. Jika tidak untuk itu, saya kok tidak bisa menemukan alasan lain, mengapa seorang difabel menyusuri jalan ramai pada jam-jam sibuk, dengan resiko tinggi terjadi kecelakaan lalu lintas padanya, karena harus melalui jalan tidak dengan berdiri tapi duduk dan tanpa alat bantu.

Jika benar demikian, ibu ini satu dari banyak orang difabel yang meminta-minta di jalan.

Semua pasti sering melihat orang-orang difabel meminta-minta di jalan. Satu lagi yang bisa dilihat di seputaran Cibinong adalah di perempatan Pemda. Ada perempuan, lusuh pakaiannya, tidak terawat, kakinya patah, dan memakai tongkat kayu.

Siapa yang tidak akan terketuk hatinya, melihat dia menjulurkan tangan menengadah, meminta uang dari yang melintas.

Pertanyaan yang ada di hati saya, apakah mereka layak hidup seperti itu? dengan meminta-minta karena keterbatasan fisik? apakah memang wajar, keberlangsungan hidup mereka harus disandarkan pada uang-uang bantuan dari pelintas jalan?.

Saya sampai sekarang tidak tahu, bagaimana negara seharusnya memperlakukan mereka yang seperti ini, dan saya kira jumlahnya banyak sekali. Maksudnya apakah seharusnya mereka diurus di panti sosial?.  adakah sumbangan atau dana sosial yang sudah disediakan dan disalurkan untuk mereka? bagaimana agar mereka tidak berada di jalan?.

Orang-orang difabel ini saya anggap berbeda dengan pengemis yang secara fisik normal, atau pengamen yang secara lahiriah sehat, walau sama-sama “mencari uang” di jalan. Bagi saya, hati kecil saya tidak terima kalau karena keterbatasan fisik, seseorang harus sampai meminta belas kasihan di pinggir jalan. apalagi sampai dekil, lusuh, dan tidak terawat. Tidakkah ada hal yang jauh lebih baik yang bisa mereka dapatkan?.

Itu tanggung jawab siapa?. Kita bisa berbuat apa?.


gambar dari pencarian Google

Marah ke Tuhan

Acara Kobis (kongkow bisnis) Geronimo FM malam ini menghadirkan Mba Ida, pemilik snack Mekarsari.

Mba Ida cerita titik balik hidupnya adalah suatu saat ketika masih kerja di Batam, gaji 150 ribu dengan kerja shift 7-7. Berangkat jam 7 pagi pulang jam 7 malem. Berangkat jam 7 malem pulang jam 7 pagi. Dua minggu kerja katanya sudah seperti zombie.

Dari kerjanya yang seperti itu, Mba Ida merasa hidupnya kok susah sekali. Mba Ida piatu tak punya ibu dari kecil, sejak kecil juga hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Saat kerja gaji kecil, naek ontel dll.

Suatu malam, Mba Ida sudah merasa sumpek sekali. Dengan ontelnya, dia bersepeda ke sebuah tanah lapang. Di tengah tanah lapang itulah kemarahannya ke Tuhan dilampiaskan. Pokoknya semua unek-unek dan perasaan kecewanya ke Tuhan ditumpahkan. Sambil menuding-nuding ke langit.

Tanpa sadar Mba Ida tertidur di situ, bangun ketika mendengar adzan Subuh. Ketika bangun inilah Mba Ida baru sadar sudah “marah ke Tuhan” semalam. Merasa sudah bersalah karena “berani marah” ke Tuhan, Mba Ida siap menerima segala konsekuensi yang Tuhan akan berikan atas tindakan “sembrono”nya .

Beberapa hari kemudian, Mba Ida sedang berjalan-jalan ke sebuah daerah sepi di Batam. Membaca buku di bawah pohon. Dia mendengar seorang anak menangis. Ketika dicari ternyata ada anak kecil di sebuah gubuk ukuran beberapa meter yang terbuat dari bahan seadanya. Ada seorang ibu kurus dan kondisinya memprihatinkan. Mba Ida tanya, kenapa anaknya bu? Ibu itu menjawab: “sudah dua hari anak saya tidak makan mba”.

Seketika Mba Ida menangis, bekal roti yang dibawa dikasihkan semua ke anak itu. Sambil melihat anak itu makan, tangisnya tak terhenti.

Mba Ida membatin, inikah balasan Tuhan akan kemarahanku. Inikah yang Tuhan ingin katakan : “kamu baru punya masalah seperti itu saja sudah marah, itu ada umat manusia lain yang lebih susah darimu…”. Mba Ida berpikir betapa baik dan mesra nya Tuhan memberi jawaban. Bukan hal buruk yang diberi karena “sudah dimarahi”, Tuhan malah membukakan hatinya.

Dari kejadian itulah Mba Ida kemudian berjanji akan mengubah hidup dan akan membantu orang lain. Cita-cita Mba Ida jadi kaya dengan jadi pengusaha. Dengan harta yang dipunya, bantu orang lain yang butuh. Kaya tak sekedar mengumpulkan duit. Tapi bagaimana duit itu digunakan membantu orang lain.

Terharu sekali tadi mendengarkan sesi sharing Mba Ida. Mba Ida punya prinsip:

Kaya itu bukan seberapa banyak kamu punya duit, kaya itu bukan seberapa kamu punya properti.

Kaya itu, membantu orang, mereka yang merasa hidupnya meaningless, menjadi orang yang meaningful.

Oh iya, omset Snack Mekarsari sekarang miliaran rupiah sebulan.

Luar Biasa….

mari menghitung kalori

Untuk yang sedang berusaha menurukan berat badan, pasti sudah sangat terbiasa mendengar kalori. Singkat cerita, diet itu akan sukses tidak hanya dengan berolahraga, namun juga menjaga pola makan. Kenapa? Karena pada saat olahraga jumlah kalori yang dibakar tubuh akan bergantung dengan aktivitas yang dilakukan.

Misalnya, saya sekarang mencatat aktivitas olahraga di beberapa aplikasi android, misalnya RunKeeper, Endomondo, Runtastic dll. Silahkan googling untuk aplikasi lain, yang walau gratisan tapi keren dan lengkap informasinya.

Bagi saya yang badannya super besar ini, lari tentu bukan pilihan, dan akhirnya saya mencoba jalan kaki. Untuk berjalan kaki 45 menit ternyata kalori yang dibakar tidak lebih dari 250 kalori. Betapa sedikitnya. Mengapa saya bilang sedikit? Karena, setiap 6 keping biskuit Lemonade kesukaan saya, sudah mengandung 100 kalori. Bayangkan jalan kaki 45 menit akan sia-sia jika kemudian saya ngemil 12-15 keping biskuit.

Dari banyak artikel yang saya baca, mengatur pola makan justru lebih efektif untuk menurunkan berat badan. Olahraga akan melengkapi karena dengan mengatur pola makan, tubuh bisa saja memberi reaksi lemah, tidak semangat, dan olahraga akan menjada kebugaran tubuh, sebagai efek lain dari menambah kalori yang dibuang dari tubuh.

Sehari manusia dewasa, tergantung berat badan juga, membutuhkan. Cara menghitung kebutuhan kalori harian misalnya sudah dikupas oleh Kompas.

Katakanlah kebutuhan kalori harian 2500, berapa yang bisa dibuang dari itu sehingga yang masuk ke tubuh berkurang. Namun katanya diet sangat ketat juga tidak baik, manusia tetap butuh minimal 1200 kalori sehari. Katakanlah dari olahraga dan jaga makan, tiap hari dapat berhemat 300-500 kalori.

Untuk turun berat badan setengah kilo, anda harus membuang 3500 kalori. Jadi misalkan pola hidup sehat dengan olahraga dan diet dilakukan secara serius, dalam seminggu bisa setengah kilo berat badan turun. Maka dengan hitungan tersebut, dalam sebulan bisa turun 2 kg. Itu tentu hitungan matematika. Karena katanya ada tubuh yang memang mudah kurus ada yang sulit. Apapun kondisinya, dengan mengurangi jumlah kalori yang masuk dan kalori yang dibakar, berat badan akan turun atau setidaknya terjaga.

Bagaimana pola makan yang benar? di internet bertebaran tips mengatur pola makan, sampai dengan food combining dan bagaimana dan pilihan olahraga yang sesuai dan hasil yang optimal. Dari banyak tips, katanya jangan menghindari sarapan. Karena justru dengan menghindari sarapan, nafsu makan di siang hari seringkali tidak terkendali. Yang paling enak malah justru makan sering tapi tak banyak. Sehari bisa 6-7 kali memasukkan makanan ke tubuh. Tips tentang banyak makan porsi sedikit ini juga banyak yang sudah berbagi tipsnya dan pilihan makanannya.

Ada juga yang mengganti dengan smoothie, yang sekarang sedang hits, untuk sarapan. Sayuran dan buah dipadupadankan untuk diminum. Saya terus terang belum pernah coba. SImpel saja, di kos tidak bisa ngejus sendiri. Memang ibu kos punya juicer dan berkali-kali menawarkan kalau mau ngejus silahkan saja. Tapi ya tetap saja engga enak.

Yang paling mudah, ya ganti sarapan dan makan malam dengan “minuman shake” yang sekarang sebenarnya sudah sejak dulu banyak dibicarakan, misalnya produk dari herbalife dan setahu saya ada produk dari merek lain. Intinya mengganti sarapan dan makan malam dengan yang lebih baik kandungan gizi nya, terkontrol kalorinya, daripada sarapan nasi goreng atau  makan malam dengan sate kambing dan nasi. Atau menu favorit mahasiswa, yang tinggal ke warung burjo dan pesan mie rebus telor ditambah nasi. hehe.

Jadi mulai sekarang, yang merasa badannya tidak nyaman lagi karena berat badan yang semakin naik, mari menghitung jumlah kalori yang masuk ke tubuh. Cara ini yang sudah terbukti manjur di seluruh belahan dunia.

Saya jadi ingat seorang teman pernah menulis di status facebook, kalau hidup tidak sehat sudah kita jalani tahunan, ya jangan harap efeknya terasa dalam hitungan hari. Benar juga. Saatnya sekarang balas dendam, apa yang sudah tahunan dilakukan dengan pola hidup tidak sehat, dibalas dengan pola hidup yang lebih baik.

Postingan ini terus terang adalah cara saya menyemangati diri sendiri. Saya sedang berjuang bukan untuk menurunkan berat badan yang sudah terlampau berat ini, tujuan awal yang saya patok adalah, saya ingin tubuh saya fit. Sehingga dalam berkegiatan sehari-hari tidak gampang capek. Kalau berkeringat sudah pasti lebih banyak dari yang berat badannya normal, ya setidaknya tidak gampang loyo.

Oh ya, menyenangkan lo mencatat kita makan apa, berapa kalori yang masuk, berapa tabungan kalori harian, berapa yang dibakar dengan olahraga dengan gagdet android. silahkan saja googling, calorie counter android, maka akan ada banyak aplikasi gratis, dengan rating tinggi yang berarti sudah banyak digunakan orang.

Yuk hidup sehat.

——

Terkait angka-angka kalori yang saya sebut, ada baiknya mengkonfirmasi ulang dengan googling, karena bisa saja angkata tidak akurat.

 

 

 

me time

Seiring karier yang semakin baik dalam bekerja, seseorang mungkin harus berhadapan dengan semakin beragam kegiatan dan aktivitas setiap hari nya. Katakanlah pejabat eselon 2 di kantor saya, membawahi 50 staf, di kantor lain yang lebih besar mungkin bisa ratusan dan ribuan orang, bayangkan kesibukan yang dihadapi tiap waktu. Undangan rapat bisa beberapa kali sehari, tidak hanya di kantor, bisa di Jakarta bahkan di daerah. Belum lagi karena jabatannya bertanggung jawab atas kelancaran pekerjaan yang dihadapi dan dilaksanakan para stafnya.

Dilema antara waktu bekerja dan kuantitas serta kualitas pekerjaan sepertinya dihadapi oleh semua orang yang bekerja. Dilema ini bisa jadi hal yang merugikan ketika misalnya seseorang gagal mengelola waktu dengan baik dan berujung pada tidak bisa memenuhi tanggung jawab yang sudah diberikan oleh atasan. Namun ada juga yang kemudian main aman, yang penting tanggung jawab terpenuhi, tentukan skala prioritas pekerjaan dan kegiatan yang harus dilakukan.

Benar memang dengan meningkatnya kegiatan dan waktu yang segitu-gitu saja, seseorang harus benar-benar selektif untuk membuat prioritas pekerjaan yang harus dilakukan sehari-hari. Contohnya, seorang bos yang diundang 3 rapat dalam satu waktu tentunya harus bisa memilih mana rapat yang harus dia hadiri dan mana yang bisa didelegasikan ke stafnya.

Banyak yang kemudian menyadari bahwa dengan semakin sibuk, semakin sedikit hal yang bisa dilakukan, semakin menurun produktivitas. Seorang staf yang cemerlang, mungkin pada saat jadi staf bisa melakukan ini dan itu dengan bebas, namun ketika jadi bos, waktu tersita untuk melakukan kegiatan terkait tanggung jawab struktural yang diemban. Ya memang itulah resiko pekerjaan.

Namun demikian, benarkah seseorang yang sudah mencapai posisi lebih tinggi dari sebelumnya kemudian harus selalu mengorbankan waktu untuk   hanya memenuhi tanggung jawab pekerjaan? Misalnya, seorang peneliti yang jadi pejabat, apakah “sense of research” nya kemudian jadi hilang dan terganti jadi tukang tanda tangan surat tugas dan pemimpin rapat semata?.

Bisa jadi iya karena memang waktu yang tersedia hanya bisa untuk itu. Ada beberapa yang mungkin, saya cara kreatif, menciptakan “me time”. Me time ini bukan untuk senang-senang dan keluar sejenak dari rutinitas, namun malah untuk melakukan kegiatan produktif terkait personal. Misalnya, seorang bos yang dulunya peneliti tentang suatu bidang, meluangkan setiap harinya, selama sekian menit atau jam, untuk melakukan riset, membaca jurnal, membaca artikel dll yang terkait dengan core keilmuan yang dikuasai, yang seringkali tidak berhubungan dengan tanggung jawab pekerjaan yang disandang saat ini.

Kalau ada yang bisa seperti itu, saya kira baik, karena me time tersebut akan dapat mengisi waktu dari rutinitas yang itu-itu saja, dan tentunya proses aktualisasi diri terus berjalan, walau waktu yang alokasikan sedikit yang diselip-selipkan setiap harinya.

teman datang dan pergi, yang tinggal adalah kenangan

Entah dapat ilham dari mana, tapi saya suka sekali menuliskan judul postingan ini di status BBM.

Ini tentu tidak lepas dari teman-teman yang datang silih berganti seiring berubahnya, terutama lokasi, kita bertumbuh. Jaman SD-SMA, tentu list temen saya hanya dari Purbalingga, dan itu-itu saja, ya karena banyak yang bareng bahkan dari SMP-SMA.

Seiring waktu berjalan, saya kuliah di Jogja, maka bergantilah teman-teman dengan teman kuliah, teman SMA yang sering kontak ya yang sekampus, atau sama-sama kuliah di Jogja.

Pun dengan teman-teman di kantor, mereka menggantikan teman-teman semasa kuliah. Begitulah, waktu berjalan dan petualangan pertemanan juga berubah.

Namun apakah ada satu dua teman yang kemudian tetap intens komunikasi dari jaman SMP sampai sekarang? atau orang sering sebut best friend forever (BFF)? Saya sendiri tidak yakin saya punya BFF. Maksudnya, entah karena memang kondisi, semakin jarang bertemu, semakin jarang pula komunikasi yang terjadi.

Namun demikian, mereka yang sudah jadi teman tentu meninggalkan banyak kenangan. Oleh karenanya saya tuliskan judul di atas, teman boleh saja datang dan pergi, berganti, namun kenangan-kenangan hadir dan tinggal di hati.

Teman datang dan pergi, yang tinggal adalah kenangan.