BE THE BEST OF WHATEVER YOU ARE – KERENDAHAN HATI

BE THE BEST OF WHATEVER YOU ARE

By Douglas Malloch


If you can’t be a pine on the top of the hill,
Be a scrub in the valley — but be
The best little scrub by the side of the rill;
Be a bush if you can’t be a tree.

If you can’t be a bush be a bit of the grass,
And some highway happier make;
If you can’t be a muskie then just be a bass —
But the liveliest bass in the lake!

We can’t all be captains, we’ve got to be crew,
There’s something for all of us here,
There’s big work to do, and there’s lesser to do,
And the task you must do is the near.

If you can’t be a highway then just be a trail,
If you can’t be the sun be a star;
It isn’t by size that you win or you fail —
Be the best of whatever you are!

KERENDAHAN HATI

Oleh Taufik Ismail


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau.

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yangmemperkuat tanggul pinggiran jalan.

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Catatan:

Kedua puisi di atas dikutip dari Tempo Interaktif.com (31 Maret 2011)

Hujan

Hujanku,

Saat mata ini lelah karena menghadap layar seharian.

Kau datang dengan sederhana,

Dengan air yang kau biarkan dia menghambur kemana-mana.

Tahukah kau?

Aku menikmati mu hari ini dengan sangat baik,

Dengan senyum dan nyanyian di mulut kecil ini.

Continue reading “Hujan”

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)

Alone

Kamu,

ada tapi tiada.

Dalam hingar bingar senyum dan tawamu,

sesungguhnya kurasakan aku sendiri di sini.

Tawamu itu semu, perhatian mu terlihat dipaksakan.

Aku memikirkan tentang kita semalaman.

Tentang bagaimana seharusnya kita melewati setapak ini dengan baik.

Sampai akhirnya,

Aku niatkan untuk meninggalkanmu.

Iya, jangan kau heran ketika kau rasakan aku tidak bersama mu lagi.

Jangan kau juga bingung, aku tidak lagi sering melihat mu, mencuri pandang padamu dan kemudian tertawa tersenyum.

Aku ingin sendiri saja,

Bukan apa-apa

Bukan juga dibuat-buat

Continue reading “Alone”