Pak Ogah di sela macet

20140604-pak-ogahPak Ogah, sering disebut Polisi Cepek, hadir melengkapi macet  yang terjadi di banyak kota besar. Profesi ini muncul terutama karena kondisi semrawut lalu lintas. Biasanya mereka ada di perempatan jalan tanpa rambu dan lampu lalu lintas. Di pertemuan gang kampung dengan jalan besar, belokan dan putar balik, juga banyak dijumpai pak ogah. Sambil memutar jalan misalnya, pengendara mobil membuka jendela sedikit, memberi recehan setelah dibantu. Apalagi di jalan macet dan padat lalu lintas. Continue reading “Pak Ogah di sela macet”

mari menghitung kalori

Untuk yang sedang berusaha menurukan berat badan, pasti sudah sangat terbiasa mendengar kalori. Singkat cerita, diet itu akan sukses tidak hanya dengan berolahraga, namun juga menjaga pola makan. Kenapa? Karena pada saat olahraga jumlah kalori yang dibakar tubuh akan bergantung dengan aktivitas yang dilakukan.

Misalnya, saya sekarang mencatat aktivitas olahraga di beberapa aplikasi android, misalnya RunKeeper, Endomondo, Runtastic dll. Silahkan googling untuk aplikasi lain, yang walau gratisan tapi keren dan lengkap informasinya.

Bagi saya yang badannya super besar ini, lari tentu bukan pilihan, dan akhirnya saya mencoba jalan kaki. Untuk berjalan kaki 45 menit ternyata kalori yang dibakar tidak lebih dari 250 kalori. Betapa sedikitnya. Mengapa saya bilang sedikit? Karena, setiap 6 keping biskuit Lemonade kesukaan saya, sudah mengandung 100 kalori. Bayangkan jalan kaki 45 menit akan sia-sia jika kemudian saya ngemil 12-15 keping biskuit.

Dari banyak artikel yang saya baca, mengatur pola makan justru lebih efektif untuk menurunkan berat badan. Olahraga akan melengkapi karena dengan mengatur pola makan, tubuh bisa saja memberi reaksi lemah, tidak semangat, dan olahraga akan menjada kebugaran tubuh, sebagai efek lain dari menambah kalori yang dibuang dari tubuh.

Sehari manusia dewasa, tergantung berat badan juga, membutuhkan. Cara menghitung kebutuhan kalori harian misalnya sudah dikupas oleh Kompas.

Katakanlah kebutuhan kalori harian 2500, berapa yang bisa dibuang dari itu sehingga yang masuk ke tubuh berkurang. Namun katanya diet sangat ketat juga tidak baik, manusia tetap butuh minimal 1200 kalori sehari. Katakanlah dari olahraga dan jaga makan, tiap hari dapat berhemat 300-500 kalori.

Untuk turun berat badan setengah kilo, anda harus membuang 3500 kalori. Jadi misalkan pola hidup sehat dengan olahraga dan diet dilakukan secara serius, dalam seminggu bisa setengah kilo berat badan turun. Maka dengan hitungan tersebut, dalam sebulan bisa turun 2 kg. Itu tentu hitungan matematika. Karena katanya ada tubuh yang memang mudah kurus ada yang sulit. Apapun kondisinya, dengan mengurangi jumlah kalori yang masuk dan kalori yang dibakar, berat badan akan turun atau setidaknya terjaga.

Bagaimana pola makan yang benar? di internet bertebaran tips mengatur pola makan, sampai dengan food combining dan bagaimana dan pilihan olahraga yang sesuai dan hasil yang optimal. Dari banyak tips, katanya jangan menghindari sarapan. Karena justru dengan menghindari sarapan, nafsu makan di siang hari seringkali tidak terkendali. Yang paling enak malah justru makan sering tapi tak banyak. Sehari bisa 6-7 kali memasukkan makanan ke tubuh. Tips tentang banyak makan porsi sedikit ini juga banyak yang sudah berbagi tipsnya dan pilihan makanannya.

Ada juga yang mengganti dengan smoothie, yang sekarang sedang hits, untuk sarapan. Sayuran dan buah dipadupadankan untuk diminum. Saya terus terang belum pernah coba. SImpel saja, di kos tidak bisa ngejus sendiri. Memang ibu kos punya juicer dan berkali-kali menawarkan kalau mau ngejus silahkan saja. Tapi ya tetap saja engga enak.

Yang paling mudah, ya ganti sarapan dan makan malam dengan “minuman shake” yang sekarang sebenarnya sudah sejak dulu banyak dibicarakan, misalnya produk dari herbalife dan setahu saya ada produk dari merek lain. Intinya mengganti sarapan dan makan malam dengan yang lebih baik kandungan gizi nya, terkontrol kalorinya, daripada sarapan nasi goreng atau  makan malam dengan sate kambing dan nasi. Atau menu favorit mahasiswa, yang tinggal ke warung burjo dan pesan mie rebus telor ditambah nasi. hehe.

Jadi mulai sekarang, yang merasa badannya tidak nyaman lagi karena berat badan yang semakin naik, mari menghitung jumlah kalori yang masuk ke tubuh. Cara ini yang sudah terbukti manjur di seluruh belahan dunia.

Saya jadi ingat seorang teman pernah menulis di status facebook, kalau hidup tidak sehat sudah kita jalani tahunan, ya jangan harap efeknya terasa dalam hitungan hari. Benar juga. Saatnya sekarang balas dendam, apa yang sudah tahunan dilakukan dengan pola hidup tidak sehat, dibalas dengan pola hidup yang lebih baik.

Postingan ini terus terang adalah cara saya menyemangati diri sendiri. Saya sedang berjuang bukan untuk menurunkan berat badan yang sudah terlampau berat ini, tujuan awal yang saya patok adalah, saya ingin tubuh saya fit. Sehingga dalam berkegiatan sehari-hari tidak gampang capek. Kalau berkeringat sudah pasti lebih banyak dari yang berat badannya normal, ya setidaknya tidak gampang loyo.

Oh ya, menyenangkan lo mencatat kita makan apa, berapa kalori yang masuk, berapa tabungan kalori harian, berapa yang dibakar dengan olahraga dengan gagdet android. silahkan saja googling, calorie counter android, maka akan ada banyak aplikasi gratis, dengan rating tinggi yang berarti sudah banyak digunakan orang.

Yuk hidup sehat.

——

Terkait angka-angka kalori yang saya sebut, ada baiknya mengkonfirmasi ulang dengan googling, karena bisa saja angkata tidak akurat.

 

 

 

me time

Seiring karier yang semakin baik dalam bekerja, seseorang mungkin harus berhadapan dengan semakin beragam kegiatan dan aktivitas setiap hari nya. Katakanlah pejabat eselon 2 di kantor saya, membawahi 50 staf, di kantor lain yang lebih besar mungkin bisa ratusan dan ribuan orang, bayangkan kesibukan yang dihadapi tiap waktu. Undangan rapat bisa beberapa kali sehari, tidak hanya di kantor, bisa di Jakarta bahkan di daerah. Belum lagi karena jabatannya bertanggung jawab atas kelancaran pekerjaan yang dihadapi dan dilaksanakan para stafnya.

Dilema antara waktu bekerja dan kuantitas serta kualitas pekerjaan sepertinya dihadapi oleh semua orang yang bekerja. Dilema ini bisa jadi hal yang merugikan ketika misalnya seseorang gagal mengelola waktu dengan baik dan berujung pada tidak bisa memenuhi tanggung jawab yang sudah diberikan oleh atasan. Namun ada juga yang kemudian main aman, yang penting tanggung jawab terpenuhi, tentukan skala prioritas pekerjaan dan kegiatan yang harus dilakukan.

Benar memang dengan meningkatnya kegiatan dan waktu yang segitu-gitu saja, seseorang harus benar-benar selektif untuk membuat prioritas pekerjaan yang harus dilakukan sehari-hari. Contohnya, seorang bos yang diundang 3 rapat dalam satu waktu tentunya harus bisa memilih mana rapat yang harus dia hadiri dan mana yang bisa didelegasikan ke stafnya.

Banyak yang kemudian menyadari bahwa dengan semakin sibuk, semakin sedikit hal yang bisa dilakukan, semakin menurun produktivitas. Seorang staf yang cemerlang, mungkin pada saat jadi staf bisa melakukan ini dan itu dengan bebas, namun ketika jadi bos, waktu tersita untuk melakukan kegiatan terkait tanggung jawab struktural yang diemban. Ya memang itulah resiko pekerjaan.

Namun demikian, benarkah seseorang yang sudah mencapai posisi lebih tinggi dari sebelumnya kemudian harus selalu mengorbankan waktu untuk   hanya memenuhi tanggung jawab pekerjaan? Misalnya, seorang peneliti yang jadi pejabat, apakah “sense of research” nya kemudian jadi hilang dan terganti jadi tukang tanda tangan surat tugas dan pemimpin rapat semata?.

Bisa jadi iya karena memang waktu yang tersedia hanya bisa untuk itu. Ada beberapa yang mungkin, saya cara kreatif, menciptakan “me time”. Me time ini bukan untuk senang-senang dan keluar sejenak dari rutinitas, namun malah untuk melakukan kegiatan produktif terkait personal. Misalnya, seorang bos yang dulunya peneliti tentang suatu bidang, meluangkan setiap harinya, selama sekian menit atau jam, untuk melakukan riset, membaca jurnal, membaca artikel dll yang terkait dengan core keilmuan yang dikuasai, yang seringkali tidak berhubungan dengan tanggung jawab pekerjaan yang disandang saat ini.

Kalau ada yang bisa seperti itu, saya kira baik, karena me time tersebut akan dapat mengisi waktu dari rutinitas yang itu-itu saja, dan tentunya proses aktualisasi diri terus berjalan, walau waktu yang alokasikan sedikit yang diselip-selipkan setiap harinya.

Ketahuilah, Itu Bukan Milikmu

Kemarin, saya sempat terhenyak, kaget dan tak percaya ketika sebuah blog milik kolega kantor yang baru diterima di kantor menampilkan informasi yang terklasifikasi terbatas dan memang seharusnya tidak boleh ditampilkan dan diperlihatkan ke publik karena ada aturan-aturan publikasinya seperti itu.

Mungkin kolega muda ini tidak tahu, atau belum tahu bahwa data dan informasi itu tidak semuanya bebas dibagikan ke semua orang. Memang ada yang termasuk didalamnya diatur publikasi dan penggunaannya terutama yang terkait isu keamanan negara. Mau karena alasan apapun, ini adalah hal ceroboh dan memalukan.

Di sisi lain, hal ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran bahwa data dan informasi yang karena posisi seseorang di suatu lingkungan kerja kemudian diamanatkan kepadanya tidak serta merta menjadi milik pribadi. Dengan menganggap itu adalah amanat maka akan muncul kehati-hatian, kesadaran memelihara, dan tidak seenaknya menampilkan dan dibagikan ke orang lain, apalagi di blog pribadi yang tidak mengatasnamakan kepentingan kantor.

Saya pasang status di facebook dan kawan dari instansi yang sering tergabung dalam tim rapat memberi komentar, bahwa berbagi hal-hal terbatas terkait rahasia negara itu diatur di KUHP dan ada ancaman pidananya. Pasal 112-113 menjelaskan tentang bagaimana publikasi yang dilakukan tidak sesuai aturan dapat dilihat sebagai pelanggaran serius.

Apa yang terjadi ini mengingatkan saya, bahwa orang-orang bisa saja abai dan ceroboh karena ketidaktahuan dan bahkan karena tidak ingin tahu. Dan yang seperti ini banyak dijumpai dimanapun, yang akhirnya beberapa dari mereka sengaja menyalahgunakan data yang sebenarnya bukan miliknya, cuma karena dia mendapat akses ke data tersebut, serta merta menganggap data itu seolah milik pribadi dan kemudian digunakan untuk kepentingan pribadi.

Ketahuilah, itu bukan milikmu.

Jatah Bulanan Mahasiswa

Tahun 2004-2009 saat saya menjalani kuliah S1, jumlah tempat nongkrong dan kuliner di dekat kos (saya sekarang ngekos di tempat yang sama saat saya S1 dulu) rasanya belum sebanyak sekarang. Sekarang di sepanjang Jalan Kaliurang saja sudah banyak perubahan toko dan lapak yang dulunya bukan untuk jualan makanan sudah beralih. Hokben dan Pizza Hut dulu belum ada, apalagi tempat-tempat kuliner yang lain.
Continue reading “Jatah Bulanan Mahasiswa”