TERTAHAN

Adinda, aku tertahan di sini. Dalam kesumpekan kuliah dan keterbatasan semangat untuk membuat LPJ beragam kegiatan di kampus. Adinda, ketika aku sayu, di mana kini dapat kutemukan senyum dan semangat baru kecuali hanya padamu. Hanya karenamu ternyata aku seringkali kembali berjalan (walau tergopoh) setelah stres karena ini itu. adinda, aku tertahan sekarang. Kau kubutuhkan.

SELAMANYA

Seandainya mampu
Kupeluk kau erat
Saat terpuruk
Seandainya bisa
Kuhapus air mata yang terlanjur menetes di pipi
Saat menangis
Lalu kukecup keningmu dan berkata:
“Jangan menangis lagi, aku di sampingmu”
Seandainya mungkin
Kita berbagi semua
Apa saja
Kapan saja
Selamanya

MERDEKA

Saya masih sedikit bingung tentang hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya. Menurut persepsi saya, saya sudah merdeka selama 2 tahun ini. Merdeka untuk bebas menggunakan waktu, tenaga, pikiran semau saya, karena saya sudah belajar tinggal sendiri, sudah ngekos, tidak ditemani (lagi) oleh keluarga, tidak seperti dulu saat masih muda ( sma). Tapi kemerdekaan yang saya dapatkan tidak berbuah apa-apa. buktinya, saya tidak termasuk mahasiswa yang disegani di kampus karena prestasi saya, saya juga bukan orang penting di organisasi manapun (bahkan KMTG), saya juga tidak bisa mengontrol penggunaan waktu saya dengan baik. Jadi apa saya sudah merdeka?. Bebas tapi tidak produktif?. Apa saya salah mengartikan arti kemerdekaan itu?. Merdeka atau tidak, saya merasa belum berbuat lebih baik, atau setidaknya berbuat sebaik mungkin yang seharusnya bisa saya perbuat.

MERAJAI HARI DENGAN ILUSI

Hari-hari yang telah lalu, masa depan yang tak terlihat. Sesungguhnya sesuatu akan bisa dimengerti tanpa harus menyentuh. Tubuh yang penuh keringat dan hati yang tak kunjung terkendali. Sesungguhnya semua ini memabukkan aku dan membuat jiwa lepas terabaikan. Semangat yang surut serta nurani yang selalu terbohongi. Aku bersembunyi dari kenyataan dan keindahan yang semu ini memalingkan mukaku padanya. Dalam malam yang temaram dan pagi yang menjelang. Dalam kesendirian aku ingin kamu pergi. Karena aku sudah terlalu muak dengan rayuan mu. Tuhan, ijinkan aku kembali. Meraih mimpi dan imajinasi….