membina kemesraaan

Kemarin malam, saya hadir di acara resepsi pernikahan teman seangkatan di Jakarta. Saya cukup jarang hadir di resepsi dengan konsep batak, dan ternyata tidak kalah indahnya dengan konsep jawa yang selama ini lebih sering saya hadiri. 
Dari urutan-urutan acara yang dilewati, saya ikuti dari awal sampai hampir selesai. Baru tahu juga ada sesi-sesi acara yang selama ini belum pernah saya lihat. Misalnya toss minum antara mempelai dan hadirin. Ada juga wedding kiss dll. 

Aura kebahagiaan memang pasti hadir menyelemuti acara. Sehingga sangat tepat memang kalau momen-momen kebahagiaan dibagi bersama dengan yang hadir resepsi. Ini sepertinya diketahui betul oleh pembawa acara. 

Pada satu sesi, pengunjung diminta untuk memeluk pinggang pasangannya. Diawali oleh pengantin tentu saja. Ibu MC bilang: “ayo bapak ibu, sekarang peluk pasangannya, bapak ibu yang sudah puluhan tahun menikah, mungkin yang sudah lama tidak peluk istrinya, suaminya, yang sudah lupa cara memeluk, berbagi kemesraan… pengantin ayo kasih contoh bagaimana kemesraan pada hari pernikahan”.

Saya senyum-senyum sendiri. Bukan, bukan karena saya sendirian dan ga ada yang dipeluk, ini senyum bahagia woi.. bukan senyum miris. Hahahaha.

hutang yang (sengaja) terlupa

Jangan kasih hutangan ke teman dan saudara. 

Efeknya bisa sangat serius. Teman bisa jadi musuh, saudara tak lagi bertegur sapa. 

Saya yakin kalau kondisi memungkinkan orang tidak akan berhutang. Namun apa daya, hutang memang salah satu solusi cepat untuk menutup kebutuhan uang. 

Sayangnya, urusan bayar hutang seringkali yang lama dan penuh drama. Keputusan kasih pinjaman mungkin diambil dalam sekian detik, eksekusi memberi uangnya bahkan juga sekian detik kemudian karena langsung ditransfer ke rekening. 

Namun mungkin butuh bertahun-tahun hutang akhirnya dibayar , lunas. Sebagai pemberi hutang, saya yakin tidak akan lupa siapa meminjam berapa dan dulu janjinya akan dikembalikan kapan. 

Proses bayar hutang selain lama kadang drama, yang seringkali berujung serius. Saya termasuk yang tidak suka menagih hutang. Mereka yang meminjam uang tapi belum mengembalikan, kemungkinan besar memang masih kesulitan dan tidak ada dana untuk menutup lubang. Namun demikian cerita menjadi agak serius ketika janji mengembalikan hanya dalam hitungan minggu , kemudian menjadi tahun. Bahkan menahun. 

Menagih hutang malu, yang ditagih juga mungkin malu. Awal menagih hutang mungkin masih dibalas dengan baik. Nagih kedua dibalas mungkin telat sejam dua jam, sampai sehari. Nanya ketiga kali mungkin hanya dibaca tanpa dibalas. Nanya keempat mungkin tidak lagi dibaca karena sudah diblok. Nanya kelima lewat telpon sudah tak diangkat dan digubris. 

Mungkin lupa kalo punya hutang yang harus dibayar. 

Repot deh kalo sudah gini. 

Ada yang mengalami? . 

Jujur ternyata cuma seharga 5000 rupiah

Siang yang panas, matahari bersinar terik. Yang paling enak untuk menyegarkan suasana tidak hanya minum es teh, tapi bisa juga makan yang seger-seger. 

Sudah beberapa kali, dalam beberapa waktu terakhir saya rajin beli buah segar, yang dipotong kecil-kecil dan dikasih sambal gula jawa atau garam. Harganya di hampir semua penjual yang ada di seputaran kantor 12 ribu rupiah. Isinya irisan mangga, jambu, pepaya, bengkoang, nanas, dan teman-teman buah lainnya. Hehe. 

Saya mau cerita kalo setidaknya dua kali saya dikerjai sama dua penjual yang berbeda. 

Yang pertama, ternyata di balik tumpukan buah,  tersembunyi biji buah mangga yang supergede. Mungkin memakan tempat sampai 1/4 wadah plastiknya. Masih untung buah-buahnya masih fresh semua dan bisa dimakan tanpa sisa. Iya sisanya ada, ya biji mangga itu. 

Yang kedua, ternyata buah yang dibagian bawah sudah tidak layak makan. Saya lihat nanas yang sembunyikan di bagian bawah sudah tidak bagus warnanya. Saya lihat ada juga jambu, yang kesemuanya disembunyikan dibagian bawah, yang sudah ga bisa dimakan. 

Kalau dihitung-hitung, baik dari yang pertama atau kedua, kerugian saya karena buah yang saya beli tidak bisa dimakan mungkin sekitar 5 ribu rupiah lah, kurang lebih. 

Saya jadi penasaran, apa itu disengaja atau tidak. Walau dalam hati sih condong ke memang sebuah kesengajaan. Artinya apa? artinya kejujuran seseorang, dalam hal ini penjual buah, hanya dihargai 5 ribu rupiah saja. 

Saya tidak tahu juga dink, mereka dapat untung berapa dari model jualan seperti ini. 5 Ribu kali sekian puluh pembeli dalam sehari mungkin . 

Tapi apakah uang segitu sebanding dengan hilangnya kepercayaan para pembeli yah. Ga tau juga deh. 

mereka yang abai dan membahayakanĀ 

Gila…

Saya mengumpat dalam hati. Beberapa motor menerabas lampu merah di pertigaan pemda Cibinong. Jatah mereka jalan sebenarnya mungkin masih puluhan detik lagi. Saat mereka nyelonong ngebut, jalur saya baru saja hijau warna lampunya. Artinya mereka masih satu giliran lagi seharusnya. 

Saya juga heran mengapa budaya berlalu lintas di Cibinong sedemikian buruknya. Terutama mereka yang sopir angkot dan beberapa pemotor, terutama di pagi hari saat berangkat kerja dan sore waktunya pulang kerja. 

Pada suatu  ketika saya pernah sedang menunggu giliran jalan di lampu merah. Eh ada motor yang jalan saja. Padahal jelas indikator waktu masih menunjukkan angka 45. Artinya masih harus menunggu 45 detik lagi, tapi sudah jalan. Apa bukan gila namanya. 

Perilaku buruk ini sebenarnya seperti membuka pintu maut sendiri dan sialnya untuk orang lain. Mereka pelanggar lampu merah apa tidak sadar kalau perilaku bodoh mereka berbahaya tidak hanya untuk diri mereka sendiri , tapi buat orang lain. Apa mereka ga mikir kalau kelakuan mereka malah membuat orang yang seharusnya “aman” karena memang jalan pada gilirannya karena sedang hijau malah berpotensi celaka. 

Saya suka ngeri sendiri kalau sedang di lampu merah dan langsung dapat jatah lampu hijau. Apalagi kalau kendaraan di depan sudah sedikit . Ngebut biar bisa lewat , tapi potensi ada kendaraan nyelonong, bisa mobil atau motor sangat tinggi. Bisa-bisa celaka. 

Yang bikin tidak habis pikir, petugas lalu lintas berseragam itu, kok lebih hobi nunggu dan nilang mereka yang tidak berkendara di jalurnya, misal motor yang ambil jalur cepat padahal harusnya di jalur lambat  , daripada nilang mereka yang menerabas lampu merah, atau maju melebihi batas di perempatan/pertigaan yang sangat mengganggu laju kendaraan dari jalur lain. 

Ngopi selepas kerja

14368704_10209546461311342_3321637670822868120_nSaya mungkin yang termasuk bagian dari mereka yang mulai suka ngopi karena trend. Ngopi memang sekarang jadi hal yang jamak dilakukan banyak orang, terutama di kafe yang nuansanya retro, jadul, pokoknya yang instragaram-able lah.

Karena mengikut trend inilah saya pas ke Bali beberapa kali tahun ini, mencoba beberapa tempat ngopi di Bali. Karena bukan penikmat yang sejati, menu andalan yang saya pesan juga sangat standar saja, Es Cappucino.

Tempat ngopi di Bali mungkin lebih nyeni daripada di daerah lain, mungkin lho. Karena saya lihat memang pernak-pernik nya sangat beragam dan satu dengan yang lainnnya berbeda. Setiap tempat ngopi menawarkan suasana yang berbeda, dan hampir kesemuanya indah dipandang dan asyik buat jadi obyek foto.

Siapa yang tidak happy bisa menikmati kopi di tempat yang enak, dan mungkin ditemani makanan lain. Saya menyebutnya “kebahagiaan menjelma dalam segelas es cappucino” di deskripsi foto di Facebook.

Oleh karenanya saya jadi bermimpi. Mungkinkah setiap sore pulang kantor saya bisa ngopi di tempat ngopi yang asyik. Kalau pengen gitu kayaknya saya harus punya tempat ngopi. Asyik sepertinya selepas kerja, rumah bukan jadi satu-satunya tujuan pulang. Tapi mampir di tempat ngopi milik sendiri. Pulang nanti ketika sudah ngantuk, sudah malam.

Mungkinkah?