Miloji 10K 2018: semua butuh perjuangan

Pendaftaran banyak event lomba lari datang berurutan awal tahun kemarin. Saya yang sudah niat ingin ikut di beberapa race yang terkenal, termasuk Milo Jakarta 10K, sudah membuat jadwal lari dan memantau perkembangan informasi pendaftarannya.  Perjuangan saat pengambilan racepack karena bukan pas weekend, perjuangan ngelaju dari Cibinong, perjuangan nahan pipis selama race karena toiletnya sedikit dan yang antri puluhan orang.  Continue reading “Miloji 10K 2018: semua butuh perjuangan”

Pocari Bandung Marathon 2018: mengalahkan diri sendiri

Sejak mulai rutin jogging, ikut kegiatan lomba lari offline adalah tantangan tersendiri yang belum banyak saya lakukan. Sebelum ikut Bandung Marathon ini tercatat baru dua kali mengikuti acara offline, yaitu BORR 5K dan Miloji 10 K untuk kategori 5K juga.

Motivasi ikut acara offline ini tentu lebih dari sekedar mendapat medali finisher. Karena saya sudah punya puluhan medali dari virtual running. Ikut acara offline ini karena saya ingin memperoleh kepuasan yang tidak saya dapatkan dari lari maya yang sudah puluhan kali saya ikuti dan dapatkan jersey dan medali finishernya. Misalnya keriuhan saat pengambilan racepack, hiruk pikuk saat menuju venue start/finish di pagi buta, dan interaksi dengan ribuan pelari, foto bersama dengan medali finisher, dan banyak hal membahagiakan lain. Continue reading “Pocari Bandung Marathon 2018: mengalahkan diri sendiri”

Bahagia itu (ternyata)sederhana

Saya sudah lupa berapa lama tidak ngeblog. Hari ini saya memantapkan tekad untuk memperbaiki blog saya yang rusak karena hacker. Sudah beberapa bulan, blog saya terbengkalai karena tidak bisa diakses. Semua ini akibat hacker yang setiap hari, puluhan kali, mencoba mengakses blog saya dengan terus menerus mencoba login. Sehingga dalam sehari bisa mencapai puluhan hingga ratusan usaha login. Pada akhirnya blog saya menyerah dan tidak dapat diakses beberapa bulan yang lalu. Lebih lanjut blog saya malah juga kena safety warning dari Google, sehingga ketika ada yang menuliskan farid Yuniar dotcom di browser secepat kilat google akan menampilkan halaman warna merah yang isinya peringatan unsafety untuk blog saya.

Dan hari ini saya berbahagia karena telah berjam-jam mengutak-atik ini dan itu, akhirnya blog saya dapat diakses lagi. Sekali kisah menulis lagi di blog yang sudah saya bangun sejak 2006.

Petaka Pemula

Duh, kok ga ada suaranya. 

Saya hanya bisa terdiam ketika menyadari semua hasil rekaman video di pernikahan kolega kantor semua tanpa suara. 

Saya bergegas mencari mic rode yang saya pasang seharian di kamera. Damn, ternyata bagian ujung kabel yang masuk ke mic tidak tertancap sempurna. 

Hilang sudah semua niat untuk edit video yang agak lama. Tak terpakai sudah puluhan menit rekaman perjalanan dari Cibinong – Garut – Cibinong.

Saya menyebutnya Petaka Pemula. Pelajaran berharga, untuk selalu mengecek kelengkapan kamera sebelum dipakai. 

Semua di tangan Pembeli

Di ujung gerbang perumahan saya, ada beberapa penjual yang menjual item yang sama walau beda merek. Ada tukang siomay, ayam tepung ka ef ceh, nasi padang, gorengan dan pempek, serta banyak yang lain mungkin. 

Dari banyak penjual itu yang menyita perhatian saya adalah penjual pempek. Karena saya lebih suka beli pempek daripada ayam tepung (yang malah mungkin belum pernah beli) dan makanan lain. 

Penjual yang satu, dia pakai gerobak, seorang kakek memakai peci putih. Gerobaknya, kecil saja macam gerobak tukang bakso yang sering keliling lewat gang-gang perumahan. Jualannya dari siang sampai sehabisnya. Saya beberapa kali beli, lebih sering beli mentah karena saya bisa goreng sendiri sewaktu-waktu di rumah. Harga yang ditawarkan cukup murah. Pempek lenjer yang kecil (yang panjang itu, semoga namanya bener) harganya cuma 2.500 saja. Yang besar kalau tidak salah 5.000. Kapal selam kecil hanya 3.000 saja, sedangkan yang besar 9.000. Varian lain ada juga dengan harga 5.000-7.500. Tidak mahal. Karena tempatnya yang cuma di emperan toko, maka opsi makan di tempat sepertinya bukan pilihan yang oke. Soal rasa? ya biasa saja. 

Yang kedua penjual pempek ini sudah punya kios sendiri. Rumah yang bagian depannya dijadikan kedai. Ada pilihan pempek lengkap dan tentu bisa dimakan di tempat karena memang representatif. Harganya? ini yang bikin beda. Harganya bisa dua kali atau bahkan tiga kali lipat penjual pempek gerobak. Pempek kapal selam sebiji bisa harganya 15.000.

Kalau diamati, pempek gerobak jauh lebih laku dari yang kedai. Selalu sold out setiap hari (mungkin), dimana yang kedai kalau malah saya lewat masih (agak) banyak yang belum kejual. Entah karena harga atau apa yang penjual gerobak bisa lebih laku. Karena kalau dari rasa pempek dan cukanya, yang di kedai jauh lebih enak. Jauh. 

Namun karena sering tidak habis dalam sehari, pempek yang dijual di kedai sering tidak fresh. Saya pernah beli dan (hampir) kena jackpot, dimana pempeknya seperti sudah hampir basi dan ketika digoreng dan dimakan sudah tidak fresh lagi. 

Saya tidak tahu ilmu marketing ya, tapi kondisi ini menarik. Seorang penjual menjual dengan harga murah, rasa standar, tapi cepat habis. Seorang penjual lain menjual lebih mahal, rasa jauh lebih enak, tempat lebih oke, tapi sering tidak habis dalam sehari jualan. 

Penyebabnya apa ya? saya kira hanya pembeli-pembeli yang bisa menjawabnya. Apa karena faktor murahnya sehingga penjual gerobak hampir selalu sold out? “ah, yang penting makan pempek”..mungkin seperti itu?

Atau ada alasan lain?