satu atau dua

Bagaimana anda biasanya memegang handphone anda? terutama yang sudah tidak pakai tombol manual lagi alias full layar?.

Saya punya hp android Galaxy S3 yang saya beli akhir 2012 dulu, dan kebiasaan kalau pegang hp dengan tangan kiri, jempol kiri menahan bagian bawah dan telunjuk kiri menahan bagian samping kiri. Mirip huruf L yang tegak lurus dimana telunjuk dab ibu jari membentuk sudut 90°. Kira-kira seperti foto dibawah ini.

image

Atau mengoperasikan hp dengan satu tangan saja, tangan kanan, keempat jari memegang erat hape dan navigasi layar memakai jempol kanan. Ya seperti foto di bawah ini.

image

Kedua posisi tangan di atas masih ditambah lagi satu pose andalan yaitu pakai dua tangan, navigasi pake dua jempol terutama saat harus menulis, termasuk menulis postingan ini. Hape ditopang dengan dua telapak tangan.

Persoalan terjadi ketika saya punya 1 hp lagi dengan ukuran jumbo, 5.5 inch yaitu LG G Pro, dimana sangat sulit memegang dengan 1 tangan saja karena memang ukuran yang besar. Navigasi hape jadi tidak maksimal dengan hanya 1 tangan. Jempol tidak bisa menjangkau ujung terjauh lebar layar.

Mau tidak mau, ketika memegang dan bernavigasi hp LG, harus menggunakan dua tangan. Dan entah kenapa, saya merasa jempol tangan kiri saya sekarang sering tidak nyaman kalo pegang hape lama-lama dengan metode L. Mungkin karena LG G Pro lebih berat dan memberi tekanan lebih ke tangan. Saya pernah baca bahwa kebiasaan memegang hp bisa menimbulkan masalah pada tulang. Saya kok ya khawatir dengan hal itu.

Maka, saya sekarang sedang coba-coba mengoperasikan hape dengan tangan bergantian. Asyik juga ternyata. Selama ini, tangan kiri, terutama jempol yang biasa pasif dan hanya digunakan untuk memegang hape, digunakan untuk bernavigasi. Aneh dan harus pake mikir. Haha.

Belum lagi, letak tombol menu dan back di dua hape saya terbalik letaknya. Jika S3 tombol back ada di kanan, maka G Pro ada di sebelah kiri. Masih sangat sering salah pencet, apalagi kalau sehabis pegang hp 1,trus pegang hp 2.

Iya, postingannya ga mutu, megang hp saja kok dibahas panjang lebar. Yoben. kan #firstworldproblem ini namanya… Hahaha….

Tanpa Spasi

Seorang kawan, menggunakan tanda titik sebagai pemisah antar kata, bukan spasi sebagai mana seharusnya, karena tombol spasi di blackberry nya rusak.

Alih-alih perbaiki tombol yang rusak atau ganti gadget, temen saya ini memilih bertahan dengan kondisi ini. Kenapa saya bisa bilang begitu? sudah sekian waktu, mungkin malah setahunan, kami teman-teman di grup whatsapp selalu melihat dia mengetik dengan gaya seperti itu.

Haha, kalau sedang usil, saya sering meniru gaya mengetiknya dengan mengganti spasi dengan tanda titik. Bukannya cepat malah jadi ribet, karena setting keyboard di hp saya setelah tanda titik otomatis muncul spasi karena titik dianggap sebagai akhir sebuah kalimat. sehingga. malah. jadi. terlihat. aneh. seperti. ini. Hahaha

Saya jadi kagum dengan teman saya ini, berarti dia harus berpikir dua kali ketika menulis dengan blackberry nya, setiap spasi harus diganti titik, dan memerintahkan jempol untuk memencet titik setiap kali akan memisahkan kata, bukan tombol spasi yang otomatis dipencet tanpa berpikir.

Hehe, ada-ada saja.

Kasih Sepanjang Jalan

Semua pasti familiar dengan peribahasa “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah”. Ini untuk menggambarkan betapa besarnya kasih Ibu (bapak juga sebenarnya, atau orang tua) kepada anak-anak mereka yang digambarkan sepanjang jalan, tiada ujungnya. Berbeda dengan kasih anak kepada orangtua yang kadang ada saja yang membatasi.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa teman kampus menengok ayah dari temen kampus yang kecelakaan di Boyolali. Ngobrol-ngobrol di rumah sakit dengan ayahnya temen, ternyata adik temen saya yang sedang kuliah di Jogja belum dikabari kalau ayahnya kecelakaan dan harus masuk rumah sakit karena lumayan parah dan harus operasi. Alasannya karena adik temen saya yang kuliah di kedokteran itu sedang banyak sekali tugas yang harus diselesaikan. Takut mengganggu konsentrasi dan waktu belajar, keluarga temen saya ini menunda mengabari kalau sedang ada musibah.

Contoh betapa orang tua bahkan ketika sakit pun masih menempatkan anak di prioritas utama dan di atas kesehatannya. Demi anaknya tidak terganggu karena sedang sibuk berkutat dengan tugas tidak dikabari kalau sang ayah sedang sakit. Continue reading “Kasih Sepanjang Jalan”

Rambut Rontok di Kamar Mandi

Satu hal yang harus dialami mahasiswa selama ngekos biasanya adalah berbagi kamar mandi. Berbeda dengan mahasiswi yang biasanya kamar kosnya punya kamar mandi dalam dan plus AC. Di kos saya, di lantai 1 untuk 3 kamar tersedia 1 kamar mandi.

Karena berbagi dengan banyak orang, mau tidak mau kebersihan kamar mandi juga tidak selamanya seperti yang kita bayangkan, apalagi misalnya dibandingkan dengan kebersihan kamar mandi di rumah. Saya termasuk beruntung karena kamar mandi di kos rutin dibersihkan Ibu kos, atau tukang suruhan Ibu, biasanya setiap bulan sekali sekaligus bersih-bersih kos keseluruhan. Continue reading “Rambut Rontok di Kamar Mandi”

Tukang Roti Keliling

Sejak hujan naik intensitasnya, terutama setelah Maghrib sampai malam hari, saya jadi langganan beli roti keliling, karena tidak perlu hujan-hujanan, tinggal nunggu mas-mas roti keliling lewat depan kos jam 8 an. Jam beredar yang konsisten, dan suara nyaring musik gerobaknya membuat beli roti jadi lebih gampang.

Saya biasanya beli beberapa sekalian, untuk 2-3 hari. Harga-harga yang dijual keliling saya kira tidak jauh berbeda dengan yang di toko. Sejujurnya saya bukan tipe pembeli yang cermat pada harga+kembalian. Saya jarang sekali, entah belanja dimanapun, menghitung kembali kembalian yang saya terima. Demikian pula kalau beli barang lebih dari 1 item, saya tidak pernah, atau jarang sekali menghitung ulang lagi total belanjaan saya. Sampai pada suatu malam, mungkin seminggu yang lalu, saya merasa harga roti yang saya beli dari mas-mas tukang roti keliling langganan sepertinya lebih mahal 1-3 ribu dari total yang seharusnya saya bayar. Karena belanjanya malam-malam, dan yang jualan juga menghitung manual tanpa alat bantu (kalkulator), saya diam saja ketika dibilang totalnya sekian. Saya bayar dan terima kembaliannya seperti biasa. Continue reading “Tukang Roti Keliling”