Jatah Bulanan Mahasiswa

Tahun 2004-2009 saat saya menjalani kuliah S1, jumlah tempat nongkrong dan kuliner di dekat kos (saya sekarang ngekos di tempat yang sama saat saya S1 dulu) rasanya belum sebanyak sekarang. Sekarang di sepanjang Jalan Kaliurang saja sudah banyak perubahan toko dan lapak yang dulunya bukan untuk jualan makanan sudah beralih. Hokben dan Pizza Hut dulu belum ada, apalagi tempat-tempat kuliner yang lain.
Continue reading “Jatah Bulanan Mahasiswa”

Mengakui Ide Pinjaman

Berita Anggito Abimanyu yang mundur dari kampus UGM karena tersandung masalah plagiarisme memenuhi segenap media online hari ini. Anggito ditengarai melakukan plagiarisme pada tulisan opininya di sebuah koran.

Kasus plagiarisme menjadi concern terutama oleh para akademisi. Plagiarisme, sekecil apapun, haram hukumnya. Ancaman tersangkut plagiarisme sebenarnya dapat mengenai semua orang. Karena konsep plagiarisme sederhananya adalah “meminjam ide orang, tapi tidak mengakuinya”. Tidak mengakui bisa karena lupa dan tidak tahu bahwa ide-ide orang yang dipinjam harus diakui, bisa juga karena tidak mau mengakui. Mereka yang masih pemula, mungkin akan terkena pada hal pertama, tidak tahu. Mereka yang sudah professional bisa karena alasan kedua, karena ada ide berlian dari orang lain yang ingin diakui sebagai idenya.
Continue reading “Mengakui Ide Pinjaman”

Belajar bisa dimana saja, bukan?

image

Kemarin saat saya beli makan siang di warung langganan Grompol, saya mendapati hal yang jarang saya lihat sebelumnya. Seorang mahasiswa sedang membaca beberapa lembar kertas fotokopi seusai makan. Mulutnya komat-kamit, terlihat sedang menghapal sesuatu. Sepintas memang sengaja makan di warung dari kosnya, karena bersandal, bercelana pendek, dan memakai kaos. Bukan gaya habis dari kampus. Saya menebak dia mungkin sedang persiapan ujian tengah semester dan catetan teman satu kelas sudah dipinjem dan digandakan dalam bentuk fotokopian. Ujian tengah semester memang sudah mulai di beberapa fakultas dan jurusan di UGM.

Belajar menjelang ujian seringkali butuh kerja keras, dimana mahasiswa dalam waktu-maktu yang tidak biasa untuk belajar, harus dapat memanfaatkan sebanyak mungkin waktu untuk mengulang apa yang sudah dipelajari di kampus selama ini. Ini yang menjadikan seseorang bisa saja mengubah kebiasaan yang dilakukannya demi menambah durasi belajar, seperti yang saya lihat di warung makan itu. Saya sih berani bertaruh, kalau tidak sedang ujian, kayaknya engga mungkin yang sengaja makan siang di warung dari kos harus bawa lembaran kertas fotokopi dan dibaca saat makan. Hehe… atau jangan-jangan banyak yang gitu yah? Hehe.

Tempat dan belajar memang bisa jadi beda-beda bagi banyak orang. Ada yang cocok belajar dan gampang paham kalau belajar sendirian dan di tempat sepi. Maka banyak temen yang kalau sudah masuk waktu ujian, pintu kamar kos selalu tertutup, tidak menerima kunjungan tamu, apalagi temen kampus yang mau pinjam catatan untuk difotokopi.

Atau ada yang lebih senang belajar bersama, berdiskusi, mendengarkan penjelasan orang lain yang ternyata lebih cepat masuk otak daripada harus baca sendiri. Maka pilihannya adalah belajar kelompok. Biasanya sama teman-teman satu gank, atau sengaja minta ikutan belajar sama yang terkenal jago di kelas. Ya namanya juga usaha.  hehe… tipe-tipe ini lebih fleksibel memilih tempat belajar, bisa di kampus, di cafe, di bawah pohon, di bawah sinar bulan purnama.hahaha…

Namun yang satu ini jangan ditiru, ada mahasiswa yang mungkin sekedar iseng sekalian memanfaatkan peluang, atau mahasiswa yang ingin uji nyali+andrenalin, tempat belajar nya cukup di kelas, waktu belajarnya pun tak usah lama-lama… cukup 1-2 jam saja… kapan itu? ya pas saat ujian berlangsung… ya ini sih bahasa gaulnya nyontek :mrgreen:

Belajar Menerima Kritik

Saya percaya, kalau banyak diantara kita yang sulit menerima kritik. Kritik memang kadang keras dan menusuk, seringkali tidak sengaja masuk ke hati.

Salah satu mata kuliah yang mengajarkan bagaimana saya mengkritik dan dikritik dengan tegas, adalah metopen, metodologi penelitian. Pengantar terakhir sebelum saya mengerjakan tesis.

Di matkul metopen ini, output yang dihasilkan inginnya adalah proposal penelitian yang siap dikerjakan jadi tesis.

Dan ternyata, metopen ini kejam sodara-sodara. Setelah lama tak membuat tulisan ilmiah,terutama yang kelas berat (skripsi saya tahun 2009,alias 4 tahun lalu), diajari metopen untuk tesis benar-benar membuka pikiran dan daya pikir. Bagaimana tahapan-tahapan penulisan tesis ternyata sangat runtut, iteratif, dan terus terang saya seperti baru mendapat materi ini. Saya engga ingat dulu pas metopen jaman S1 saya kebanyakan bolos apa keseringan duduk di belakang.

Nah, karena jumlah kelas kecil, tak lebih dari 10 orang, tiap-tiap dari kami di kelas diberi kesempatan untuk presentasi awal tentang ide skripsi. Sederhana dulu saja, sampaikan topik, latar belakang, research problem, research question. Saya baru benar-benar bisa membedakan antara research problem dan research question ya pas kuliah ini. Oke, saya memang kayaknya dulu ga serius pas kuliah metopen S1.Hahaha….

Yang menarik, Pak Dosen yang terkenal baik ternyata punya style agak beda pas mengajar semester ini. Entah memang karena tuntutan output matkul metopen yang berat, namun sangat terasa terutama pada diskusi pasca presentasi masing-masing mahasiswa. Apa-apa yang beliau sampaikan dan tanyakan lebih straight, tajam, cenderung “menembak”, tanpa basa-basi, dan penuh kritik.

Well, ini menarik sekali. Kenapa? karena Pak Dosen tentunya memang lebih pinter dan punya jam terbang jauh sekali di atas kami para mahasiswa. Komentarnya kadang memang menelanjangi kekurangan presentasi kami para mahasiswa. Jadi dalam beberapa kesempatan, teman yang masih setengah-setengah dalam mempersiapkan bahan presentasi, langsung bisa ketahuan dan siap-siap “diserang”. Beliau juga menyampaikan, mahasiswa yang lain sangat boleh mengkritik habis-habisan presentasi dari teman yang lain. Hahaha, kami hanya bisa tersenyum kecut.

Tadi saat kuliah metopen selesai untuk pertemuan hari ini, mungkin beliau juga menyadari banyaknya “adu argumen”  selama kuliah dan “tingginya tensi”, beliau berpesan, belajarlah menerima kritik dari orang lain, tidak usah maen hati, karena memang kritik diperlukan untuk hal yang belum matang untuk jadi lebih bagus lagi output nya. Tak perlu putus asa dengan kritik, karena kritik memberi lebih banyak peluang lagi untuk berpikir kreatif bagaimana pada kesempatan yang akan datang, kritik tersebut dapat dijawab dengan baik dan memuaskan.

Selamat datang keruwetan mengerjakan tesis…. #hokya