Virtual Run : berlari nyata, berlomba maya

Keasyikan saya menjalani hobi baru, jalan dan jogging membawa saya pada informasi yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Kalau tentang komunitas, tentang lomba lari, saya sering lihat berseliweran di sosmed. Satu informasi yang baru saya tahu, padahal mungkin sudah happening dari lama adalah tentang virtual run, larinya di dunia nyata, lombanya di dunia maya. lha bagaimana?.

Virtual Run secara sederhana adalah ajang lari (bisa jogging, dan jalan tentunya) yang penyelenggaraannya dilaksanakan secara maya melalui website atau media sosmed dengan kriteria jarak dan syarat penyelesaian tertentu, dimana pelari dapat melaksanakan lari dimanapun pelari itu berada, kemudian mengunggah hasil lari ke website, dilakukan verifikasi oleh kreator virtual run, setelah selesai verifikasi dan data dianggap valid dan memenuhi syarat, maka pelari akan dikirimi medal, kit lain sesuai yang disebutkan pada rules lomba.

Menyenangkan? tentu saja. Saya bisa ikut lari yang penyelenggaranya bisa ada dimana saja di dunia ini.

Medal dan kit lomba bisa dikirimkan dari luar negeri, dari kota lain di Indonesia. Hal ini tentu saja membuat virtual run biasanya tidak gratis.

Oke pembukaannya segini dulu. dalam waktu dekat disambung lebih detil. 

Harus Berubah

Banyak yang terjadi di hidup saya beberapa bulan ke belakang. Kalau umur tentu bertambah, pengalaman hidup juga berganti dari hari ke hari. Kejadian buruk dan baik juga menghampiri, datang dan pergi, menandakan kedinamisan kehidupan manusia.

Yang paling mengusik hati dan otak adalah tentang kesehatan. Beberapa bulan kemarin, saya merasa tubuh saya sudah tidak mampu mengimbangi berat badan saya yang terlalu berat. Tanda-tanda fisik dan yang saya rasakan dalam sehari-hari mengamini bahwa badan saya sudah terlalu gemuk.

Saya kemudian merenung beberapa hari, tentang banyak hal buruk yang bisa menimpa saya di kemudian hari karena obesitas yang saya alami. Dari yang paling ringan sampai paling buruk. Kenangan saya terbang ke waktu-waktu yang lalu, ke puluhan tahun lalu, dari SD, SMP, SMA, kuliah. Mengingat puluhan tahun bagaimana saya membesar dari tahun ke tahun.

Saya merasa sudah “berbuat jahat” kepada diri saya sendiri. Saya menjadikan potensi diri mungkin tidak dapat dieksplorasi lanjut karena keterbatasan fisik. Saya sudah membunuh mimpi-mimpi saya sendiri, perlahan, satu demi satu.

Saya akhirnya memutuskan harus berubah. Saya yang sehat di masa datang menunggu saya. Dan saya bisa melakukan perubahan dari saat ini juga. Dari diri sendiri. Dari yang sederhana sampai aksi menyeruluh di kemudian hari.

Saya harus berubah. 

Mata-mata yang melirik

Memang tidak sering, tapi saya lumayan beberapa kali harus ke bandara bertugas ke daerah. 

Cibinong jaraknya sekitar 80 km dari Cengkareng, dan moda transportasi yang sering saya gunakan adalah taksi.

Sejak beberapa tahun ke belakang, saya dan kebanyakan kolega kantor langganan taksi Taxiku. Dulu alasannya simpel saja, taxiku bisa dicetak kuitansi perjalanannya disaat taksi lain, misalnya bluebird belum. Walaupun sekarang hampir semua taksi sudah bisa cetak bukti perjalanan/pembayaran, tapi ya sudah terlanjur langganan taksi ke taxiku. 

Langganan taksi juga sebenarnya tidak semata karena bisa cetak bukti bayar, tapi juga soal kemudahan penjemputan. Taksi yang jemput ke rumah jadi satu keuntungan langganan. Itu berarti, ada sopir-sopir yang jadi langganan. Kalau tidak langganan, urusan jemput ke rumah bisa panjang dan lama, karena sopir tidak tahu alamat rumah dan rumah-rumah di perumahan memang kadang sulit ditemukan. 

Saya punya 3-4 sopir langganan, dengan skala prioritas. Saya lebih suka sopir yang enak diajak ngobrol, sopan, dan tentu mobilnya bersih. Jangan salah, taksi juga kadang kotor dan jorok. 

Nah, satu sopir langganan, kebetulan perempuan. Namanya mba alfha. Mungkin sudah 2 tahun saya langganan. Mulai dari masih kontrak sampai rumah sekarang, mba alfha hapal rumah saya. Ternyata mba alfha juga langganan beberapa kolega kantor. 

Mba Alfha masih muda, mungkin seumuran saya atau lebih muda. 

Awal minggu kemarin, saya pesan untuk antar ke bandara dalam rangka dinas ke Surabaya dengan jam penerbangan agak siang jam 12:45.

Biasanya saya jarang memperhatikan jalan dalam perjalanan ke bandara, dan memilih tidur atau ngobrol dengan sopir. 

Saya perhatikan mobil-mobil yang jalan bareng di tol. Beberapa truk termasuk yang saya lihat. 

Saya menyadari sesuatu. Mata sopir-sopir truk, kebanyakan truk karena biasanya jendela dibuka, sehingga saya bisa melihat wajah, hampir pasti melirik ke taksi saya, ke bagian sopir. 

Saya lihat beberapa truk, beberapa sopirnya, beberapa kali bahkan, mencuri pandang ke Mba Alfha. Hehe, saya senyum dalam hati, mungkin sopir-sopir tadi jarang liat yang megang taksi seorang perempuan, muda lagi. 

Tapi memang kayanya sopir taksi perempuan jarang sekali, mba alfha cerita kalau dari total 3 sopir wanita di poll nya sekarang hanya tersisa satu. 

Bahagia itu (ternyata)sederhana

Saya sudah lupa berapa lama tidak ngeblog. Hari ini saya memantapkan tekad untuk memperbaiki blog saya yang rusak karena hacker. Sudah beberapa bulan, blog saya terbengkalai karena tidak bisa diakses. Semua ini akibat hacker yang setiap hari, puluhan kali, mencoba mengakses blog saya dengan terus menerus mencoba login. Sehingga dalam sehari bisa mencapai puluhan hingga ratusan usaha login. Pada akhirnya blog saya menyerah dan tidak dapat diakses beberapa bulan yang lalu. Lebih lanjut blog saya malah juga kena safety warning dari Google, sehingga ketika ada yang menuliskan farid Yuniar dotcom di browser secepat kilat google akan menampilkan halaman warna merah yang isinya peringatan unsafety untuk blog saya.

Dan hari ini saya berbahagia karena telah berjam-jam mengutak-atik ini dan itu, akhirnya blog saya dapat diakses lagi. Sekali kisah menulis lagi di blog yang sudah saya bangun sejak 2006.

Petaka Pemula

Duh, kok ga ada suaranya. 

Saya hanya bisa terdiam ketika menyadari semua hasil rekaman video di pernikahan kolega kantor semua tanpa suara. 

Saya bergegas mencari mic rode yang saya pasang seharian di kamera. Damn, ternyata bagian ujung kabel yang masuk ke mic tidak tertancap sempurna. 

Hilang sudah semua niat untuk edit video yang agak lama. Tak terpakai sudah puluhan menit rekaman perjalanan dari Cibinong – Garut – Cibinong.

Saya menyebutnya Petaka Pemula. Pelajaran berharga, untuk selalu mengecek kelengkapan kamera sebelum dipakai.