Pocari Bandung Marathon 2018: mengalahkan diri sendiri

Sejak mulai rutin jogging, ikut kegiatan lomba lari offline adalah tantangan tersendiri yang belum banyak saya lakukan. Sebelum ikut Bandung Marathon ini tercatat baru dua kali mengikuti acara offline, yaitu BORR 5K dan Miloji 10 K untuk kategori 5K juga.

Motivasi ikut acara offline ini tentu lebih dari sekedar mendapat medali finisher. Karena saya sudah punya puluhan medali dari virtual running. Ikut acara offline ini karena saya ingin memperoleh kepuasan yang tidak saya dapatkan dari lari maya yang sudah puluhan kali saya ikuti dan dapatkan jersey dan medali finishernya. Misalnya keriuhan saat pengambilan racepack, hiruk pikuk saat menuju venue start/finish di pagi buta, dan interaksi dengan ribuan pelari, foto bersama dengan medali finisher, dan banyak hal membahagiakan lain.

Motivasi lain yang membuat saya mantap mengikuti race offline adalah “ejekan” bernada positif dari temen-temen yang sudah menekuni lari terlebih dahulu terutama saat saya memamerkan medali dan jersey finisher untuk virtual running, katanya virtual running tidak ada apa-apanya dibanding keseruan mengikuti acara lari beneran. Setelah mengikuti 3 kali race offline, “ejekan” memang benar adanya. Ada semangat yang berbeda terutama karena saya harus memikirkan COT, memikirkan caranya dapat PB dllnya. Memang seru sekali.

Akhirnya tahun ini saya mendaftar banyak sekali event lari. Jangan tanya berapa uang yang saya habiskan, karena pasti banyak. Tapi percayalah saya tidak berhitung uang itu, saya mendapat sesuatu yang lebih dari sekedar dinilai dengan uang, kebahagiaan yang saya dapatkan tidak bisa saya gambarkan dengan deskripsi kata-kata. Biarkan saja hati saya yang mengalaminya, yang tidak akan lekang dimakan waktu karena tersimpan dengan sangat baik setiap momennya, dari pendaftaran sampai selesainya race.

Tahun ini Insya Alloh saya akan mengikuti race 5K dan 10K:

  • BORR 10K, 1 April 2018 – kategori 5K (done – PB)
  • Miloji 10K, 15 Juli 2018 – kategori 5K (done  – PB)
  • Bandung Marathon, 22 Juli 2018 – kategori 10K ( done  – PB)
  • Bali Marathon, 9 September 2018 – kategori 10K
  • Jakarta Marathon, 20 Oktober 2018 – kategori 10K
  • Borobudur Marathon, 18 November 2018 – kategori 10K

dipostingan kali ini saya ceritakan detil Bandung Marathon

Pendaftaran Bandung Marathon 2018

Bagi para runners (ijinkan saya menyebut diri saya runner walaupun pace nya keong) moment marathon yang terkenal adalah momen rebutan slot. Jauh hari sebelum lomba, pasti sudah dibuka pendaftaran yang jadi ajang rebutan dapat slot. Jangan salah, walaupun kuota bisa sampai 8000 orang, kebagian satu slotnya  saja harus diperjuangkan.

Belajar dari Jogja Marathon yang tidak kebagian slot, saya sudah siap-siap dengan pendaftaran early bird untuk Bandung Marathon. Benar saja, selama early bird tiket langsung sold out, bahkan tidak dibuka pendaftaran reguler karena slot ludes di early bird saja.

Sempat dag dig dug karena saya tidak juga mendapat email konfirmasi setelah mendaftar dan transfer. Sampai harus email ke panitia dan tidak ada jawaban. Akhirnya dapat juga email tanggal 9 April 2018 memberitahukan kalau saya sudah resmi tercatat sebagai partisipan dalam Bandung Marathon 2018. Yeaayyy…

Saran saya, jika sudah mantap mau ikut satu race, pastikan mendaftar secepat mungkin jika bisa pada early bird, karena selain memastikan tiket lebih awal, biasanya juga ada diskon yang lumayan.

berangkat ke Bandung

Begitu tiket sudah terkonfirmasi aman di genggaman, maka langkah selanjutnya adalah membeli tiket kereta api untuk keberangkatan sebelum tanggal pengambilan racepack, dan pulang pada minggu malam. Untungnya tiket KA bisa dipesan 90 hari sebelum keberangkatan, jadi bisa dapat tiket Argo Parahyangan untuk 4 orang Jakarta Bandung PP, karena saya ikut dengan 3 teman kantor atas nama Geospasial Runners. Tinggal mengatur jadwal kerja supaya tidak tabrakan dengan jadwal ikut race di Bandung. Atur ini itu, akhirnya berangkat juga hari jumat malam dengan teman-teman kantor. Jadwal super ketat dengan kerjaan, karena setelah minggu ikut race di Bandung, senin siang sudah harus langsung ke Balikpapan. Tidak ada masalah berarti karena mempersiapkan tiket KA, tiket pesawat dengan baik.

Pengambilan Racepack

Pengambilan racepack dilaksanakan dua hari, tgl 20-21 Juli 2018. Sesuai rencana akan mengambil di hari sabtunya. Yang kurang persiapan adalah milih tempat menginapnya. Dua teman menginap di rumah saudara, sehingga saya hanya berdua dengan teman sekantor. Setelah cari-cari akhirnya menginap di Hotel Ruby Syariah. Alhamdulillah hotelnya nyaman, dan relatif dekat dengan Gedung Sate yang jadi tempat start/finish.

Hari sabtu berangkat jam 10:30 dari hotel dengan pertimbangan sampai di tempat pengambilan racepack agak awal (pengambilan dibuka dari jam 11:00) sehingga jikapun harus antri tidak sampai sore.

Sampai di tempat pengambilan racepack, sudah sangat ramai. Hati berdebar karena baru pertama kali ini merasakan atmosfir pengambilan racepack yang sedemikian ramai dan megah. Melihat banyak runner yang selama ini saya follow IG nya, melihat banyak komunitas lari berseragam jersey kebanggaan masing-masing, sangat bahagia melihatnya. Setelah antri agak lama, dapat juga BIB dan jerseynya. Dan tentu tidak ada jersey seukuran tubuh saya. Hahaha. tidak apa-apa, saya memang sudah memutuskan akan menggunakan jersey Geospasial Runners saat race, bukan pakai jersey pembagian panitia.

Saatnya Lari

Terus terang saya khawatir tidak bisa finish under COT. Walaupun selama jogging 10K selalu bisa selesai di bawah dua jam, tapi kondisi tubuh kurang bersahabat, batuk dan flu berat. Sejak berangkat dari Cibinong saya sudah coba obati dengan tolakangin flu, alhamdulillah badan agak mendingan ketika lari. Recovery time juga sudah 0 jam dari jogging terakhir. Artinya kondisi tubuh sudah dalam kondisi 100%.

Punya teman-teman yang baik memang menyenangkan, Kang Bondon Indra dari IndoManUtd menawarkan jadi pacer. Seneng sekali ada yang bersedia nemenin lari di pace keong ini. Saya berterima kasih sekali karena Kang Indra mau lari keong juga meninggalkan pace 8 nya ke pace 10 an. Dikawal lari sampai km.9 dan ketika Kang Indra duluan ke finish, masalah datang. Saya Kram kaki kiri. Padahal selama ini tidak pernah kram sekalipun selama jogging. Langsung meringis, jaga langkah biar masih bisa finish. Alhamdullah bisa finish under COT dan dapat PB. Kalau tidak kram mungkin PB akan lebih tajam, semoga di race-race berikutnya bisa meningkat PB ini.

Event race top class seperti ini pasti punya tim dokumentasi yang oke banget. Terbukti saya dapat foto-foto superkeren selama lari. Tipsnya sederhana saja, begitu lihat fotografer jangan lupa langsung pasang gaya andalan. Biasanya saat start, dan mau finish. Foto finish meringis tidak direncana, karena memang sakit kram sudah tidak terhindarkan. Lain kali akan pose yang lebih oke selama masuk finish. Pic2Go kerenlah.

Medali finisher

Alhamdulillah, walau sambil meringis, akhirnya bisa sampe finish juga. Hati berdebar karena saya bisa dapat PB dan tentunya medali finisher super keren bertema wayang di bagian depan dan maskot Asian Games di bagian belakang. Desain medal untuk masing-masing kategori lari berbeda.

Alhamdulillah ya Alloh. Akhirnya saya membuktikan sendiri apa yang selama ini saya selalu tanamkan dalam diri sendiri, tidak ada yang harus dikalahkan kecuali diri sendiri. 

One Reply to “Pocari Bandung Marathon 2018: mengalahkan diri sendiri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *