Mata-mata yang melirik

Memang tidak sering, tapi saya lumayan beberapa kali harus ke bandara bertugas ke daerah. 

Cibinong jaraknya sekitar 80 km dari Cengkareng, dan moda transportasi yang sering saya gunakan adalah taksi.

Sejak beberapa tahun ke belakang, saya dan kebanyakan kolega kantor langganan taksi Taxiku. Dulu alasannya simpel saja, taxiku bisa dicetak kuitansi perjalanannya disaat taksi lain, misalnya bluebird belum. Walaupun sekarang hampir semua taksi sudah bisa cetak bukti perjalanan/pembayaran, tapi ya sudah terlanjur langganan taksi ke taxiku. 

Langganan taksi juga sebenarnya tidak semata karena bisa cetak bukti bayar, tapi juga soal kemudahan penjemputan. Taksi yang jemput ke rumah jadi satu keuntungan langganan. Itu berarti, ada sopir-sopir yang jadi langganan. Kalau tidak langganan, urusan jemput ke rumah bisa panjang dan lama, karena sopir tidak tahu alamat rumah dan rumah-rumah di perumahan memang kadang sulit ditemukan. 

Saya punya 3-4 sopir langganan, dengan skala prioritas. Saya lebih suka sopir yang enak diajak ngobrol, sopan, dan tentu mobilnya bersih. Jangan salah, taksi juga kadang kotor dan jorok. 

Nah, satu sopir langganan, kebetulan perempuan. Namanya mba alfha. Mungkin sudah 2 tahun saya langganan. Mulai dari masih kontrak sampai rumah sekarang, mba alfha hapal rumah saya. Ternyata mba alfha juga langganan beberapa kolega kantor. 

Mba Alfha masih muda, mungkin seumuran saya atau lebih muda. 

Awal minggu kemarin, saya pesan untuk antar ke bandara dalam rangka dinas ke Surabaya dengan jam penerbangan agak siang jam 12:45.

Biasanya saya jarang memperhatikan jalan dalam perjalanan ke bandara, dan memilih tidur atau ngobrol dengan sopir. 

Saya perhatikan mobil-mobil yang jalan bareng di tol. Beberapa truk termasuk yang saya lihat. 

Saya menyadari sesuatu. Mata sopir-sopir truk, kebanyakan truk karena biasanya jendela dibuka, sehingga saya bisa melihat wajah, hampir pasti melirik ke taksi saya, ke bagian sopir. 

Saya lihat beberapa truk, beberapa sopirnya, beberapa kali bahkan, mencuri pandang ke Mba Alfha. Hehe, saya senyum dalam hati, mungkin sopir-sopir tadi jarang liat yang megang taksi seorang perempuan, muda lagi. 

Tapi memang kayanya sopir taksi perempuan jarang sekali, mba alfha cerita kalau dari total 3 sopir wanita di poll nya sekarang hanya tersisa satu. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *