Semua di tangan Pembeli

Di ujung gerbang perumahan saya, ada beberapa penjual yang menjual item yang sama walau beda merek. Ada tukang siomay, ayam tepung ka ef ceh, nasi padang, gorengan dan pempek, serta banyak yang lain mungkin. 

Dari banyak penjual itu yang menyita perhatian saya adalah penjual pempek. Karena saya lebih suka beli pempek daripada ayam tepung (yang malah mungkin belum pernah beli) dan makanan lain. 

Penjual yang satu, dia pakai gerobak, seorang kakek memakai peci putih. Gerobaknya, kecil saja macam gerobak tukang bakso yang sering keliling lewat gang-gang perumahan. Jualannya dari siang sampai sehabisnya. Saya beberapa kali beli, lebih sering beli mentah karena saya bisa goreng sendiri sewaktu-waktu di rumah. Harga yang ditawarkan cukup murah. Pempek lenjer yang kecil (yang panjang itu, semoga namanya bener) harganya cuma 2.500 saja. Yang besar kalau tidak salah 5.000. Kapal selam kecil hanya 3.000 saja, sedangkan yang besar 9.000. Varian lain ada juga dengan harga 5.000-7.500. Tidak mahal. Karena tempatnya yang cuma di emperan toko, maka opsi makan di tempat sepertinya bukan pilihan yang oke. Soal rasa? ya biasa saja. 

Yang kedua penjual pempek ini sudah punya kios sendiri. Rumah yang bagian depannya dijadikan kedai. Ada pilihan pempek lengkap dan tentu bisa dimakan di tempat karena memang representatif. Harganya? ini yang bikin beda. Harganya bisa dua kali atau bahkan tiga kali lipat penjual pempek gerobak. Pempek kapal selam sebiji bisa harganya 15.000.

Kalau diamati, pempek gerobak jauh lebih laku dari yang kedai. Selalu sold out setiap hari (mungkin), dimana yang kedai kalau malah saya lewat masih (agak) banyak yang belum kejual. Entah karena harga atau apa yang penjual gerobak bisa lebih laku. Karena kalau dari rasa pempek dan cukanya, yang di kedai jauh lebih enak. Jauh. 

Namun karena sering tidak habis dalam sehari, pempek yang dijual di kedai sering tidak fresh. Saya pernah beli dan (hampir) kena jackpot, dimana pempeknya seperti sudah hampir basi dan ketika digoreng dan dimakan sudah tidak fresh lagi. 

Saya tidak tahu ilmu marketing ya, tapi kondisi ini menarik. Seorang penjual menjual dengan harga murah, rasa standar, tapi cepat habis. Seorang penjual lain menjual lebih mahal, rasa jauh lebih enak, tempat lebih oke, tapi sering tidak habis dalam sehari jualan. 

Penyebabnya apa ya? saya kira hanya pembeli-pembeli yang bisa menjawabnya. Apa karena faktor murahnya sehingga penjual gerobak hampir selalu sold out? “ah, yang penting makan pempek”..mungkin seperti itu?

Atau ada alasan lain? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *