Bekalnya hanya percaya

Cibinong hampir setiap sore diguyur hujan lebat, untuk beberapa lama. Jika hujan sedari siang, maka dipastikan malam jadi dingin. 

Tempo hari, saya lihat persediaan di kulkas hampir habis semua. Baik minuman, makanan beku, dan telur. Telur tanpa sisa menyisakan rak-rak kosong. 

Jam sembilan malam akan terlewati sepuluh menit lagi. Saya memutuskan untuk keluar dan membeli telur. Sudah berencana besok pagi mau sarapan telur ceplok. 

Bbbrr…. dingin tetap terasa walaupun jaket sudah melekat di tubuh saya yang besar ini. Tak lama sampai di swayalan yang masih buka. 

Tak ingin berlama-lama, saya sudah selesai membayar telor kurang lebih 1 kg, jumlah telur satu kilo adalah jumlah yang kurang lebih sama dengan jumlah lubang rak telur yang ada di kulkas. 

Saat saya keluar dari swayalan saya baru sadar kalau beberapa lapak makanan, masih buka. Jam sembilan malam yang dingin, dan makanan yang masih banyak belum terjual saya lihat di beberapa gerobak. Tukang siomay masih bertumpuk gorengan batagor yang belum terjual. Tukang ayam “kfc” masih ada lebih dari sepuluh potong ayam yang belum terjual, masih ada pedagang soto, penyetan dll. 

Di malam yang dingin seperti ini, saya kira juga tidak akan banyak orang keluar rumah untuk beli lauk dan makanan. Makanan-makanan di jejeran gerobak-gerobak itu mungkin tidak akan habis terjual. Mungkin. 

Saya merenung, bagaimana para pedagang makanan “survive” di tengah cuaca yang hampir sepanjang hari hujan seperti ini. Omset pasti menurun, jualan mungkin akan sedikit, pengaruhnya tentu ke penghasilan harian. 

Atau mungkin saya terlalu jauh berpikir. Mereka mungkin hanya berbekal sesuatu yang sederhana saja. Bekalnya hanya percaya, rezeki sudah diatur oleh yang punya hidup, mereka hanya harus terus berusaha, walaupun di malam yang dingin, jam sembilan malam, dan makanan belum habis terjual. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *