Kerja di Usia Senja

Taksi “taxiku” tepat berada di ujung paling depan jalur tunggu 1 di terminal 3 bandara Soekarno Hatta. Baru tahu kalo sekarang  jalurnya dibedakan jalur taksi “burung biru” di jalur 2 dan taksi “non burung biru” di jalur 1. Sekarang juga di dekat tunggu taksi sudah dilengkapi alat+monitor untuk ambil nomor antrian baik untuk jalur 1 atau 2 sesuai pilihan calon penumpang. Karena kebetulan saya memang rencana naik taksi kuning ini, saya langsung naik saja. 

Sopirnya pakai topi dan berkacamata, dan seperti biasa saya “cek” suka ngobrol tidak. Saya jarang tidur di taksi, dan sering malas buka hp. Maka ngobrol dengan sopir taksi menjadi hal yang lumayan seru dilakukan sembari menuju rumah. Saya awali dengan bertanya sudah berapa kali narik hari ini, kemana saja. Dijawab dengan ramah, katanya sudah tiga kali, ke cawang dan ke pondok indah. 

saya ajukan lagi pertanyaan-pertanyaan yang hampir selalu saya tanyakan ke hampir semua sopir taksi untuk pancingan ngobrol, tentang berapa lama kerja di taksi, penghasilan sebulan berapa , dan tentu tentang uber dan grab dan dampaknya ke penghasilan. Jawaban dari bapaknya lancar dan sangat antusias. Teman ngobrol sampai rumah , sudah tersedia. 

Pak sopir cerita kalau dulu kerja di tambang di Kalimantan, berhenti mungkin 7 tahun lalu. Saya langsung potong, kok pindah ke taksi, padahal di tambang katanya penghasilannya lumayan tinggi. 

Obrolannya berlanjut, Pak Sopir cerita kalau sudah sering sakit, jadi tidak boleh kerja jauh sama keluarganya. Saya terus terang terkejut ketika bertanya umur berapa ke bapaknya. Umurnya ternyata sudah 67 tahun, punya 5 anak dan 6 cucu. 

Saya tanya lagi, sudah 67 tahun masih kok bekerja. Jadi driver taksi lagi. Jadwal bekerja sopir taksi biasanya dari pagi sampai malam. Bapaknya menjawab diplomatis, ya isi waktu sambil cari rezeki. Bapaknya kemudian melanjutkan ceritanya kalau jam kerjanya juga sudah tidak sampai larut malam. Kalau habis isya sudah pulang, karena tidak kuat badan jika harus bekerja seperti yang muda-muda katanya. 

Obrolan terus berlanjut membelah jalan pulang ke Cibinong . Hujan deras menjadikan perjalanan memakan waktu hingga dua jam lebih. Banyak hal yang saya petik dari semangat Pak Sopir yang sampai umur 67 tahun masih berjuang dan mencari rejeki yang halal. 

Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti . 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *