Minoritas

Saya berkesempatan menjejak lagi Bali, pulau dewata seminggu kemarin. Ada pekerjaan kantor yang berlokasi di Bali di tahun ini, dan saya berkeliling Bali untuk berkoordinasi. Tidak ada yang spesial sekali kalau masalah pekerjaan dan apa yang saya lakukan. Yang menarik justru bagaimana saya belajar menjadi minoritas. Ya, anda pasti paham maksudnya.

Saya muslim, dan sebagaimana diketahui, di Bali mayoritas penduduknya beragama Hindu. Di Bali tentu lebih mudah menemukan pura, daripada masjid, melihat rumah makan babi guling daripada rumah makan halal.

Namun ketika menjadi minoritas inilah kemudian saya seperti diingatkan untuk bersyukur karena sebagian besar waktu saya, saya habiskan dengan menjadi mayoritas. Di Cibinong tentu mudah menemukan masjid dan musholla. Makan tinggal berhenti di rumah makan seketemunya tanpa harus dulu bertanya apakah halal, atau mencari logo dan tulisan halal di depan rumah makan.

Ketika menjadi minoritas ini, sholat seperti menjadi semakin terasa nikmatnya. Memakai aplikasi google maps hanya untuk mencari musholla untuk sholat maghrib. Menyusur gang kecil, parkir yang sempit, dan cerita-cerita lainnya.

Harus googling dulu mencari rumah makan, padahal di seputar Ubud Raya rumah makan berjejer-jejer. Mencari rumah makan halal yang hanya beberapa pilihannya. Pilihan tersebut justru akhirnya berakhir di rumah makan padang, atau yang menunya seperti rumah makan di Jawa.

Begitulah, menjadi minoritas menghadirkan kondisi-kondisi yang harus dilewati dengan perjuangan, memberi banyak pelajaran dan syukur atas apa yang selama ini dinikmati yang kadang lupa karena dianggap biasa saja, menjadi Mayoritas.

One Reply to “Minoritas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *