tak seperti yang terbaca

Diskusi di media online, yang kebanyakan berisi tulisan, berpotensi menimbulkan permusuhan. Sebuah opini, dalam bentuk tulisan, bisa multi tafsir, tergantung mood yang membaca. Apalagi pada saat diskusi intens, hangat dan cenderung panas, berbeda argumen, dan berdiri pada sudut pandang yang berbeda.

Di sebuah grup facebook , bisa jadi berisi ratusan orang. Maka besar kemungkinan sebuah tema diskusi akan mendapat banyak komentar, beragam dan bisa jadi tidak sama. Diskusi bisa berjalan serius, santai, bisa penuh dengan “hehehe”, atau bahkan sebaliknya, berisi umpatan, dan berkali-kali terbaca kata “anda, anda, anda” yang seringkali memang muncul ketika tensi diskusi naik.

Maka sebenarnya diskusi offline, tetap penting dilaksanakan. Ini untuk menanggulangi dampak dari diskusi online yang mungkin tidak akan pernah berujung, berisi opini saling menyalahkan dan terkadang menyakiti. Dalam diskusi offline, kalimat-kalimat akan dilengkapi dengan mimik muka dan gestur yang berbicara. Sekaligus memperlihatkan apakah seseorang penuh emosi, penuh semangat, penuh senyum dalam menyampaikan pendapatnya. Karena bisa jadi sebuah kalimat akan terbaca penuh emosi di diskusi online, hanya karena yang membaca sedang bad mood, sedang emosi, sudah terlanjur tidak suka sejak awal dengan yang menulis opini.

Ya, kadang sesuatu tak seperti yang terbaca. Sebenarnya biasa saja, tapi dibaca seperti sedang marah, sedang emosi, sedang nada tinggi, dan yang seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *