telepon sang tentara

Pada suatu acara seminar di kampus tentang perbatasan, ada yang bertanya ke narasumber, bagaimana pendekatan yang digunakan pemerintah untuk mengelola perbatasan, apakah pendekatan keamanan atau pendekatan kesejahteraan?.

Pertanyaan tersebut membawa saya pada kenangan survei di Wini, Timor Tengah Utara, beberapa tahun yang lalu.

Telepon Rindu
Saya berkesempatan merasakan survei batas darat negara untuk pertama kalinya ke Pulau Timor, tepatnya di pos perbatasan Wini. Selama beberapa hari survei GPS dan dibantu tentara.

Beberapa hari tidur di pos pamtas TNI memberi banyak pengalaman baru yang sangat berharga. Mulai dari sarapan pagi, cuci baju, tempat mandi, dan banyak hal lain. Satu yang tertanam dalam di ingatan saya adalah aktivitas pagi dan sore hari hampir oleh semua tentara yang tinggal di sana.

Para tentara yang menjaga perbatasan, ternyata berasal dari Mataram. Dulu, mereka harus berada di perbatasan Indonesia – Timor Leste selama setahun. Dalam waktu setahun tersebut, mereka tidak boleh pulang ke rumah kecuali alasan mendesak dan khusus. Misalnya ada keluarga yang meninggal dunia.

Apa yang kemudian terjadi?. Setiap hari, pagi dan sore, mereka duduk berjejer-jejer. Menghubungi keluarga nun jauh di sana, di Mataram. Hampir sebagian besar dari yang tugas di Pos Wini, sudah menikah dan punya keluarga, terutama anak yang masih kecil. Setiap pagi dan sore, mereka melepas rindu dengan menelepon. Ya bayangkan saja, satu tahun tidak pulang bagaimana rasanya.

Sambil berkelakar, seorang dari mereka bilang ke saya : ” ya pokoknya nanti kalau pulang, jangan sampai anak saya panggil saya” Om”…. “.  Hehe, lucu namun ada haru didalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *