Pak Ogah di sela macet

20140604-pak-ogahPak Ogah, sering disebut Polisi Cepek, hadir melengkapi macet  yang terjadi di banyak kota besar. Profesi ini muncul terutama karena kondisi semrawut lalu lintas. Biasanya mereka ada di perempatan jalan tanpa rambu dan lampu lalu lintas. Di pertemuan gang kampung dengan jalan besar, belokan dan putar balik, juga banyak dijumpai pak ogah. Sambil memutar jalan misalnya, pengendara mobil membuka jendela sedikit, memberi recehan setelah dibantu. Apalagi di jalan macet dan padat lalu lintas.

Di Cibinong, tempat saya tinggal, Pak Ogah juga tersebar di banyak sudut jalan. Setidaknya ada empat sampai lima Pak Ogah yang saya temui dari rumah sampai tempat kerja. Saya harus mengapresiasi, para Pak Ogah ini memberi solusi dari macet yang ada. Di pagi hari, saat jumlah kendaraan di jalan meningkat tajam, dan keterbatasan jumlah polisi lalu lintas yang berjaga, keberadaan Pak Ogah menjadi  penting. Di pertigaan Bekang Cikaret, misalnya, saya tidak bisa membayangkan jika setiap pagi, tidak ada Pak Ogah. Pak Ogah dengan berani memotong jalan, membunyikan peluit dengan nyaring, dan melambaikan tangan.

Namun Pak Ogah juga tidak bisa dilepaskan dari stigma negatif. Alih-alih bikin lalu lintas menjadi lancar, malah membuat jadi tambah macet. Lebih sekedar cari recehan daripada memberi solusi dan membantu. Di beberapa tempat memang mungkin terjadi, namun dari pengamatan saya, para Pak Ogah yang saya temui di sepanjang jalan Cibinong cukup berimbang dengan memberi banyak bantuan, tidak sekedar cari recehan.

Ngomong-ngomong, kenapa pengguna motor jarang (bahkan mungkin tidak pernah) memberi recehan ya ke Pak Ogah?. Kebanyakan mobil. Saya terus terang banyak terbantu dengan keberadaan Pak Ogah, tapi mau ngasih recehan kok gimana yah, karena yang lain tidak ngasih.

eh, ngasih recehan ke Pak Ogah tidak melanggar aturan kan?.

4 Replies to “Pak Ogah di sela macet”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *