me time

Seiring karier yang semakin baik dalam bekerja, seseorang mungkin harus berhadapan dengan semakin beragam kegiatan dan aktivitas setiap hari nya. Katakanlah pejabat eselon 2 di kantor saya, membawahi 50 staf, di kantor lain yang lebih besar mungkin bisa ratusan dan ribuan orang, bayangkan kesibukan yang dihadapi tiap waktu. Undangan rapat bisa beberapa kali sehari, tidak hanya di kantor, bisa di Jakarta bahkan di daerah. Belum lagi karena jabatannya bertanggung jawab atas kelancaran pekerjaan yang dihadapi dan dilaksanakan para stafnya.

Dilema antara waktu bekerja dan kuantitas serta kualitas pekerjaan sepertinya dihadapi oleh semua orang yang bekerja. Dilema ini bisa jadi hal yang merugikan ketika misalnya seseorang gagal mengelola waktu dengan baik dan berujung pada tidak bisa memenuhi tanggung jawab yang sudah diberikan oleh atasan. Namun ada juga yang kemudian main aman, yang penting tanggung jawab terpenuhi, tentukan skala prioritas pekerjaan dan kegiatan yang harus dilakukan.

Benar memang dengan meningkatnya kegiatan dan waktu yang segitu-gitu saja, seseorang harus benar-benar selektif untuk membuat prioritas pekerjaan yang harus dilakukan sehari-hari. Contohnya, seorang bos yang diundang 3 rapat dalam satu waktu tentunya harus bisa memilih mana rapat yang harus dia hadiri dan mana yang bisa didelegasikan ke stafnya.

Banyak yang kemudian menyadari bahwa dengan semakin sibuk, semakin sedikit hal yang bisa dilakukan, semakin menurun produktivitas. Seorang staf yang cemerlang, mungkin pada saat jadi staf bisa melakukan ini dan itu dengan bebas, namun ketika jadi bos, waktu tersita untuk melakukan kegiatan terkait tanggung jawab struktural yang diemban. Ya memang itulah resiko pekerjaan.

Namun demikian, benarkah seseorang yang sudah mencapai posisi lebih tinggi dari sebelumnya kemudian harus selalu mengorbankan waktu untuk   hanya memenuhi tanggung jawab pekerjaan? Misalnya, seorang peneliti yang jadi pejabat, apakah “sense of research” nya kemudian jadi hilang dan terganti jadi tukang tanda tangan surat tugas dan pemimpin rapat semata?.

Bisa jadi iya karena memang waktu yang tersedia hanya bisa untuk itu. Ada beberapa yang mungkin, saya cara kreatif, menciptakan “me time”. Me time ini bukan untuk senang-senang dan keluar sejenak dari rutinitas, namun malah untuk melakukan kegiatan produktif terkait personal. Misalnya, seorang bos yang dulunya peneliti tentang suatu bidang, meluangkan setiap harinya, selama sekian menit atau jam, untuk melakukan riset, membaca jurnal, membaca artikel dll yang terkait dengan core keilmuan yang dikuasai, yang seringkali tidak berhubungan dengan tanggung jawab pekerjaan yang disandang saat ini.

Kalau ada yang bisa seperti itu, saya kira baik, karena me time tersebut akan dapat mengisi waktu dari rutinitas yang itu-itu saja, dan tentunya proses aktualisasi diri terus berjalan, walau waktu yang alokasikan sedikit yang diselip-selipkan setiap harinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *