Kasih Sepanjang Jalan

Semua pasti familiar dengan peribahasa “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah”. Ini untuk menggambarkan betapa besarnya kasih Ibu (bapak juga sebenarnya, atau orang tua) kepada anak-anak mereka yang digambarkan sepanjang jalan, tiada ujungnya. Berbeda dengan kasih anak kepada orangtua yang kadang ada saja yang membatasi.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa teman kampus menengok ayah dari temen kampus yang kecelakaan di Boyolali. Ngobrol-ngobrol di rumah sakit dengan ayahnya temen, ternyata adik temen saya yang sedang kuliah di Jogja belum dikabari kalau ayahnya kecelakaan dan harus masuk rumah sakit karena lumayan parah dan harus operasi. Alasannya karena adik temen saya yang kuliah di kedokteran itu sedang banyak sekali tugas yang harus diselesaikan. Takut mengganggu konsentrasi dan waktu belajar, keluarga temen saya ini menunda mengabari kalau sedang ada musibah.

Contoh betapa orang tua bahkan ketika sakit pun masih menempatkan anak di prioritas utama dan di atas kesehatannya. Demi anaknya tidak terganggu karena sedang sibuk berkutat dengan tugas tidak dikabari kalau sang ayah sedang sakit.

Saya jadi ingat almarhumah Ibu. Semoga Alloh lapangkan kubur beliau. Ibu saya, sejak saya SD sudah terkena diabetes. Seiring bertambahnya usia, daya tahan tubuh Ibu semakin melemah. Diabetes juga mengharuskan Ibu minum obat setiap hari.

Ternyata, hampir sebulan terakhir menjelang wafat, Ibu sudah tidak mau konsumsi obat. Katanya capek. Saya juga baru tahu setelah Ibu tidak ada. Ibu tidak pernah cerita beliau sedang sakit apa, kondisi di rumah ketika saya sms atau telepon. Tapi ketika saya berkirim kabar sedang sakit atau pusing, atau tak enak badan, satu hari bisa beberapa kali telepon untuk mengingatkan saya harus ke dokter.

Beberapa saat setelah beliau wafat, saya baca-baca lagi sms-sms beliau. Saya menangis ketika mrmbaca sms beliau yang ingin menengok saya tapi belum sempat karena tidak ada yang menemani ke Jogja.

Saya menulis ini dengan air mata yang menetes di pipi.

Saya sering baca seseorang berbagi di facebook dan Twitter mengingatkan apakah hari ini sudah berkirim kabar, bertelepon kepada orang tua. Sekedar bertanya kabar dan menanyakan kesehatan. Seandainya bisa memutar waktu, saya akan telepon Almarhumah Ibu tiga kali sehari bakal mungkin lebih. Saya akan bercerita apa saja untuk lebih lama mendengar suara beliau. Kalau bisa memutar waktu, saya akan mencurahkan segenap kasih sayang yang saya punya, yang selama ini tidak ada apa-apanya dibanding perhatian beliau ke kami, anak-anaknya.

One Reply to “Kasih Sepanjang Jalan”

  1. saya pun inginnya juga menelpon tiap saat,
    tapi… rupanya cuma sebatas niat hehe
    sekarang malah bapak yang rutin sms di jam dan waktu yang kurang lebih sama
    cara kita (anak-anaknya) dan beliau memberikan perhatian sepertinya memang berbeda 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *