Mimpinya Siapa (1)

Cerita-cerita motivasi, kadang sering dengan sukses membuat saya terpukul. Selalu ada bagian heroik dari cerita yang akhirnya mengungkap satu sisi jelek yang saya alamni, jalani, sehingga tidak mencapai kesuksesan yang seperti diceritakan cerita-cerita motivasi itu.

Ada kalanya, orang-orang dekat kita, mereka yang kita kenal personal menjadi inspirasi yang nyata, tentang banyak hal, misalnya perjuangan menamatkan kuliah, tentang karier kerja yang mulus dan grafiknya menanjak, lagi-lagi menyingkap satu sisi kelam dari diri saya, ada bagian yang saya kurang dan tidak optimalkan dalam hidup. Sehingga kesuksesan yang saya dapat tidak sesukses orang lain, bahkan orang dekat saya, yang seharusnya dari keseharian yang mereka lakukan, saya bisa mengambil teladan.

Akhir dari motivasi dan inspirasi adalah, biasanya, sebuah mimpi baru, tujuan baru yang ingin diraih. Kesuksesan yang ingin dicapai.

Saya membaca sebuah twit, entah siapa saya lupa, banyak orang terjebak karena mimpi yang didapat dari motivasi dan inspirasi. Ketika saya membuat mimpi, atau menentukan tujuan, apakah sejatinya, saya memang menginginkan mimpi itu? sudahkan saya memperhitungkan apa-apa yang ada dan saya miliki, misalnya kemampuan, untuk meraihnya?

Jangan-jangan, ini kekhawatiran yang menurut saya masuk akal, banyak yang terjebak pada mimpi orang lain. Mimpi dan tujuan orang lain yang kita jadikan mimpi dan tujuan kita, karena hanya berdasar mereka adalah inspirasi. Dimana, mungkin saja, mimpi dan tujuan kita bisa saja berbeda, atau bahkan seharusnya lebih hebat dari mimpi dan tujuan orang lain yang kita pinjam untuk jadi mimpi kita juga.

-bersambung-

2 Replies to “Mimpinya Siapa (1)”

  1. Bukan masalah mimpi siapa kok, mas kalo menurutku. Hehe, tertarik bgt ki pengen diskusi ttg ini.
    Bahkan Allah telah menjanjikan hal2 yang setidak apapun untuk terwujud kalau kita mengawali dengan bermimpi. Setelah bermimpi, entah ada hormon penggerak apa yang membuat kita bergerak untuk mewujudkannya: disebut usaha. Iya kan?
    Tapi kalau masalah mimpi semu karena interfensi dari inspirator dan motivator kita, selama interfensi itu sudah bisa mendarah daging, menurutku setidak mungkin apapun nantinya bisa diraih. Sekalipun sekarang cm ada 15ribu di dompet, tetapi pengen keliling Eropa. Seberapa besar mimpi itu bisa menggerakkan kita aja 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *