Mengakui Ide Pinjaman

Berita Anggito Abimanyu yang mundur dari kampus UGM karena tersandung masalah plagiarisme memenuhi segenap media online hari ini. Anggito ditengarai melakukan plagiarisme pada tulisan opininya di sebuah koran.

Kasus plagiarisme menjadi concern terutama oleh para akademisi. Plagiarisme, sekecil apapun, haram hukumnya. Ancaman tersangkut plagiarisme sebenarnya dapat mengenai semua orang. Karena konsep plagiarisme sederhananya adalah “meminjam ide orang, tapi tidak mengakuinya”. Tidak mengakui bisa karena lupa dan tidak tahu bahwa ide-ide orang yang dipinjam harus diakui, bisa juga karena tidak mau mengakui. Mereka yang masih pemula, mungkin akan terkena pada hal pertama, tidak tahu. Mereka yang sudah professional bisa karena alasan kedua, karena ada ide berlian dari orang lain yang ingin diakui sebagai idenya.

Pelajaran plagiarisme seharusnya sudah diajarkan dari awal sekolah, setidaknya saat siswa sudah mulai mengerjakan tugas yang harus melibatkan banyak sumber bacaan. Idealnya, anak SMA sudah mulai diperkenalkan dengan sitasi yang benar dan baik, dan menghindari plagiarisme. Bekal di SMA akan diperkuat saat kuliah, dimana tugas mahasiswa akan sangat banyak bersentuhan dengan isu plagiarisme, dimana jika tidak hati-hati, mahasiswa dapat terkena, baik sengaja atau tidak, sadar atau tidak.

Fakta menunjukkan, setidaknya di kampus saya, plagiarisme diajarkan di akhir-akhir kuliah, biasanya saat mahasiswa mau skripsi. Motivasinya tentu mahasiswa bebas plagiarisme pada saat mengerjakan skripsi, padahal dari semester pertama hingga semester akhir, mahasiswa juga menghadapi ratusan tugas yang harus dikerjakan, dimana mereka terbiasa menggunakan Google dan mesin pencari lain untuk mengakses jutaan sumber informasi yang akan digunakan dalam pengerjaan tugas. Banyak mahasiswa yang acuh dan abai tentang isu plagiarisme, yang penting selesai tugas katanya. Hal-hal ini bisa jadi karena efek kurangnya edukasi yang diperoleh terutama pada awal kuliah.

Selain mahasiswa, dosen juga memegang peran penting dalam pembelajaran plagiarisme bagi mahasiswa. Beberapa dosen sangat teliti meneliti dan memeriksa tugas mahasiswa, banyak dosen seringkali berkeluh kesah, banyak yang sekedar copy paste tugas tahun sebelumnya, sekedar memindahkan apa yang didapat dari Google ke lembar tugas tanpa ada proses sitasi yang benar. Dan fakta berbicara, banyak pula dosen yang mengajar banyak mata kuliah, setiap mata kuliah bisa ratusan mahasiswa yang ikut, lalu apakah dosen-dosen tersebut bisa melaksanakan dan memeriksa plagiarisme yang dilakukan oleh mahasiswa? saya kira banyak yang akan kewalahan. Beban dosen untuk memeriksa plagiarisme yang dilakukan mahasiswa sedemikian beratnya.

Proses mengetahui dan memahami plagiarisme sebenarnya dapat dipelajari. Itulah mengapa misalnya, banyak universitas yang memberi bahan kuliah dan uji/tes plagiarisme sehingga orang-orang bisa mengetahui tentang plagiarisme. Dosen saya memberi banyak alamat web yang bisa dikunjungi untuk mempelajari plagiarisme pada saat kuliah metodologi penelitian semester kemarin. Berikut beberapa alamat yang bisa dilihat :

http://web.uts.edu.au/teachlearn/avoidingplagiarism/index.htm

Tautan lain yang perlu dibaca:

1.       https://owl.english.purdue.edu/owl/section/2/

https://owl.english.purdue.edu/owl/resource/589/1/

2.       http://services.unimelb.edu.au/__data/assets/pdf_file/0009/489105/Avoiding-Plagiarism.pdf

3.       http://www.research.swinburne.edu.au/research-students/documents/plagiarism_guide.pdf

4.       https://ilrb.cf.ac.uk/plagiarism/exercise/index.html

5.       http://plagiarism.arts.cornell.edu/tutorial/index.cfm

Permasalahan plagiarisme membutuhkan penanganan dan edukasi yang serius sejak awal. Jangan sampai mahasiswa terjebak tidak tahu plagiarisme dan akan dibawa sampai bekerja, atau dosen yang beban untuk memeriksa plagiarisme sedemikian berat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *