Tua di Jalan

Istilah ini tentunya banyak yang sudah tahu, kurang lebih artinya seseorang yang menghabiskan banyak waktunya di perjalanan terutama untuk berangkat dan pulang kerja. Banyak waktu, bukan hanya hitungan menit, tapi bisa jadi berjam-jam. Mereka yang ngelaju Bogor – Jakarta PP untuk bekerja, misalnya, bisa jadi menghabiskan 3 jam sehari hanya untuk di perjalanan. Kurang lebih 1/8 dari 24 jam yang tersedia dalam sehari. Kalau mau di hitung, misalnya seseorang sudah bekerja 8 tahun, 1 tahun sendiri dihabiskan diantara macetnya lalu lintas, berdesakan di rangkaian KRL, tertidur di bis jemputan pulang kerja, menyetir mobil sendiri, kehujanan di motor, dll dll.

Pertanyaan yang sering muncul tentu saja kok mau dengan kondisi itu? Jawabnya bisa beragam. Pekerjaan memang tidak mudah didapat dan karenanya ketika dapat kerja di Jakarta, mau tidak mau harus dijalani. Biaya hidup di Jakarta yang tinggi bisa jadi alasan selanjutnya mengapa memilih tinggal di pinggiran Jakarta. Bisa juga karena memang asli berasal dari sekitar Jakarta, atau ingin memilih tempat tinggal yang jauh dari hingar bingar dan kemacetan, cukup saat kerja saja menikmati hal itu, cukup dia saja yang merasakan, keluarganya tidak perlu dalam kondisi yang sama.

Sekali lagi tua di jalan memang terdengar sarkas di satu sisi, tetapi memang harus dijalani oleh sebagian orang karena hanya itu pilihan hidup yang dijalani. Saya harus tetap acungi jempol terutama yang menjalani ini dengan penuh keikhlasan demi “dapur tetep ngepul”.

Melihat kondisi ini saya jadi bersyukur, di Cibinong belum separah kondisi lalu lintas Jakarta, paling lama 30-60 menit waktu untuk ke kantor. Tapi entahlah, karena dengar-dengar Cibinong sudah banyak membangun, dan tentunya akan semakin macet dan macet menyusul daerah sekitarnya semacam Depok. Jangan-jangan saya juga harus merasakan tua di jalan. Semoga tidak.

Apakah anda golongan yang mengalami tua di jalan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *