Di Pasar Burung bernama Twitter

Semakin hari, pengguna Twitter semakin banyak dengan twit yang semakin warna-warni juga. Saya ingat, ketika awal membuat twitter, timeline tidak sepenuh saat ini. Dulu yang aktif ngetwit paling hanya beberapa selebtwit. Sekarang? ditinggal tak lebih seperempat jam saja, temlen sudah penuh sesak, beratus-ratus twit sudah berbaris. Ini diperparah dengan following yang banyak, dan yang difollow rajin ngetwit. Ini mungkin yang membuat twitter mengubah (bukan merubah yah) kebijakan tampilan home timeline seseorang lewat mention, beruntung sekarang sudah tak perlu lagi membaca twit following yang dimention ke seseorang yang tidak kita follow, namun demikian RT abuser masih juga berkeliaran, saya heran ngobrol dengan RT RT an sama teman kok ya masih jaman, sudah 2014. Ya mungkin baru punya akun twitter.

Dulu saya pernah menghitung berapa kali saya ngetwit dalam sehari, kira-kira 20-30 twit dalam sehari. Itu dengan catatan twitter sudah mulai ramai, pas jaman  awal bikin ya sekedar silent reader saja. Saat ini saya justru lebih senang jadi silent reader. Membalas mention, atau berkomentar ke twit temen-temen kampus yang lucu-lucu, membaca buzzer yang berkedok selebtwit memperoleh rupiah dari twit berbayar yang dipaksakan ke follower untuk dibaca.

Twitter sekarang sudah sangat mirip pasar burung. Suaranya ramai, kicau nya beda-beda tapi tetap menarik. Fenomena selebtwit tentu masih ada. Akun dengan follower ratusan ribu bahkan jutaan orang. Beberapa selebtwit memang layak di follow karena twitnya seru dan bisa dinikmati. Beberapa selebtwit banyak difollow hanya karena status artis, tapi twitnya biasa saja. Ya yang follow die hard fans mungkin.

Saya pribadi tidak gampang terjebak untuk follow-follow an selebtwit. Mengapa? Ya simpel saja, twitter saya jadikan menyegarkan pikiran. Selebtwit yang kadang twitnya ga mutu, atau bahkan terlalu bermutu, jadi males juga bacanya. Misalnya akun Ulil dan Sudjiwo Tejo, saya tidak follow mereka sekarang, walau dulu follow. Alasan unfollow? Ya twitnya berat-berat, seringkali bertentangan dengan pikiran saya. Daripada jadi mikir, ya unfollow saja. Simpel bukan?.

Nah, saya beberapa saat terakhir follow beberapa adik angkatan, terutama setelah ospek kampus, dimana kami berkenalan. Haha, saya lebih sering ketawa membaca twit “pekok” mereka, mengapa? Karena membacanya seperti nostalgia jaman kuliah dulu. Saya membayangkan kalau dulu pas saya kuliah sudah ada twitter, mungkin saya juga akan cuap-cuap hal yang sama, tentang tugas yang menumpuk, praktikum yang melelahkan, ujian yang mendebarkan, dan ini dan itu. Ya suasana kuliah.

Saya kira twitter akan terus dan semakin banyak digunakan orang karena kemudahan menyampaikan pendapat, informasi, data, dll kepada banyak orang dalam hitungan detik. Saat ini juga kayaknya belum ada social media yang mengusung format berbeda yang coba menantang dominasi twitter. Jadi ya siap-siap saja timeline semakin penuh sesak dari hari ke hari. Jadi? ya yang menuhin temlen diunfollow saja. Hahaha…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *