Belajar Menerima Kritik

Saya percaya, kalau banyak diantara kita yang sulit menerima kritik. Kritik memang kadang keras dan menusuk, seringkali tidak sengaja masuk ke hati.

Salah satu mata kuliah yang mengajarkan bagaimana saya mengkritik dan dikritik dengan tegas, adalah metopen, metodologi penelitian. Pengantar terakhir sebelum saya mengerjakan tesis.

Di matkul metopen ini, output yang dihasilkan inginnya adalah proposal penelitian yang siap dikerjakan jadi tesis.

Dan ternyata, metopen ini kejam sodara-sodara. Setelah lama tak membuat tulisan ilmiah,terutama yang kelas berat (skripsi saya tahun 2009,alias 4 tahun lalu), diajari metopen untuk tesis benar-benar membuka pikiran dan daya pikir. Bagaimana tahapan-tahapan penulisan tesis ternyata sangat runtut, iteratif, dan terus terang saya seperti baru mendapat materi ini. Saya engga ingat dulu pas metopen jaman S1 saya kebanyakan bolos apa keseringan duduk di belakang.

Nah, karena jumlah kelas kecil, tak lebih dari 10 orang, tiap-tiap dari kami di kelas diberi kesempatan untuk presentasi awal tentang ide skripsi. Sederhana dulu saja, sampaikan topik, latar belakang, research problem, research question. Saya baru benar-benar bisa membedakan antara research problem dan research question ya pas kuliah ini. Oke, saya memang kayaknya dulu ga serius pas kuliah metopen S1.Hahaha….

Yang menarik, Pak Dosen yang terkenal baik ternyata punya style agak beda pas mengajar semester ini. Entah memang karena tuntutan output matkul metopen yang berat, namun sangat terasa terutama pada diskusi pasca presentasi masing-masing mahasiswa. Apa-apa yang beliau sampaikan dan tanyakan lebih straight, tajam, cenderung “menembak”, tanpa basa-basi, dan penuh kritik.

Well, ini menarik sekali. Kenapa? karena Pak Dosen tentunya memang lebih pinter dan punya jam terbang jauh sekali di atas kami para mahasiswa. Komentarnya kadang memang menelanjangi kekurangan presentasi kami para mahasiswa. Jadi dalam beberapa kesempatan, teman yang masih setengah-setengah dalam mempersiapkan bahan presentasi, langsung bisa ketahuan dan siap-siap “diserang”. Beliau juga menyampaikan, mahasiswa yang lain sangat boleh mengkritik habis-habisan presentasi dari teman yang lain. Hahaha, kami hanya bisa tersenyum kecut.

Tadi saat kuliah metopen selesai untuk pertemuan hari ini, mungkin beliau juga menyadari banyaknya “adu argumen”  selama kuliah dan “tingginya tensi”, beliau berpesan, belajarlah menerima kritik dari orang lain, tidak usah maen hati, karena memang kritik diperlukan untuk hal yang belum matang untuk jadi lebih bagus lagi output nya. Tak perlu putus asa dengan kritik, karena kritik memberi lebih banyak peluang lagi untuk berpikir kreatif bagaimana pada kesempatan yang akan datang, kritik tersebut dapat dijawab dengan baik dan memuaskan.

Selamat datang keruwetan mengerjakan tesis…. #hokya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *