Bapak

Sejak Ibu tiada, Bapak menjadi hal terpenting dalam kehidupan saya dan kami sekeluarga. Beliau masih 4 tahun lagi menuju pensiun, harus bekerja jauh di Palangkaraya, sendirian. Saat ini sedang menunggu mutasi yang mungkin terakhir, atau sekali lagi sebelum yang terakhir menjelang purna tugas. Mutasi terakhir akan ditempatkan di Ibukota propinsi asal, yaitu di Semarang.

Kepergian Ibu meningkatkan intensitas kami sebagai anak untuk terus berkomunikasi dengan Bapak, apalagi Bapak hidup sendirian. Syukurlah, Bapak yang sudah 63 tahun, masih mau belajar pakai whatsapp di tablet. Setiap hari jadi bisa berkirim kabar, foto, dengan semua keluarga. Saat-saat jauh terpisah antar semua anggota keluarga ini sejujurnya menyiksa. Siapa yang hatinya tidak terusik jika orangtua yang tinggal satu-satunya harus sendirian di tempat jauh, dimana membayangkan kalau kami bisa satu rumah, setidaknya bersama salah satu dari kami, anaknya, tentunya akan lebih baik. Tapi seperti ini yang memang Tuhan gariskan untuk keluarga kami, saya tidak mengeluh, saya bersyukur atas hal-hal baik yang sudah terjadi selama ini.

Di usia Bapak yang memasuki senja, hanya satu keinginan saya dan juga kami sekeluarga, tersebut dalam doa kami setiap waktu, semoga Bapak diberi kesehatan, panjang umur, jauh dari pikun dan penyakit uzur, dan semoga di tengah kesendirian ditinggalkan Ibu kami terkasih dan jauh dari anak dan cucu, Beliau diberi kesabaran, dijauhkan dari kesulitan, diberi kelancaran bekerja. Saya percaya dalam khusuk doa Beliau, tak pernah lepas dari doa untuk Ibu, doa untuk anak dan cucu agar semua yang baik yang didapat, semua yang buruk dijauhkan dari keluarga kami.

We love you, Pak.
Sehat selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *