Lelaki di Tempat Sampah

Bagi yang puasa, bangun agak pagi untuk sahur jadi keseharian selama sebulan ini. Demikian dengan saya, pun melakukan hal yang sama. Apalagi karena status anak kos, saya harus pergi ke warung dulu untuk beli makan. Setengah bulan Ramadhan berjalan, saya hampir selalu keluar cari makan jam 3,karena alarm dari dua hape saya sengaja stel di jam 3an.

Di hari pertama puasa, saya langsung dikagetkan dengan adanya seorang lelaki yang sedang jongkok di depan kos. Di remang lampu jalan, sosoknya terlihat dalam samar, memakai topi. Ternyata sedang sibuk dengan tempat sampah di depan kos. Dalam hati menduga kalau dia seorang pemulung. Terlihat pula dari keresek bawaannya yang beberapa buah dan terisi penuh entah apa.

Semula saya kira orang gila, tapi rupanya bukan. Lelaki itu mungkin juga kaget melihat saya keluar kos sepagi ini. Karena beberapa saat mata kami beradu. Mungkin dia berpikir, wah ada yang keluar, karena mungkin ketika bukan bulan Ramadhan, akan sangat jarang anak kos keluar pagi jam 3.

Sejujurnya saya paksakan untuk tersenyum dan melepas salam “monggo pak”. Dan rupanya Lelaki itu membalas dengan senyum dan menjawab “nggeh, monggo mas”.

Dan tadi malam saya melihat lagi lelaki itu, entah untuk yang ke berapa kali selama dua minggu Ramadhan ini, kembali membawa satu keresek hitam besar entah apa isinya, sedang menuju tempat sampah di depan kos saya. Saya tersenyum dan kali ini memberi salam yang tulus “mari pak..”, dan seperti kemarin dulu, dijawab dengan senyum dan salam “mari mas…”.

Dalam hati saya bergumam, seseorang sudah mulai bekerja dari sepagi ini. Di saat saya hanya bangun jam 3 pagi mungkin pada saat Ramadhan.

Hidup sedemikian suci untuk diperjuangkan siapapun dengan tantangan hidup masing-masing. Termasuk lelaki di tempat sampah depan kos.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *