Obrolan Sopir Taksi (1)

Jika harus ke Bandara karena tugas ke luar daerah, atau saat harus rapat ke Jakarta, saya seringkali naik taksi. Jika tidak tidur di taksi, biasa saya sempatkan mengobrol dengan sopir taksinya. Motivasi lain mengobrol adalah menjaga agar sopir tidak mengantuk selama di jalan, terutama jika bepergian pagi karena biasanya sopir pagi itu sudah beredar dari sore sebelumnya dan sudah tinggi tingkat ngantuknya di pagi hari. Saya pernah mendapatkan sopir taksi yang sudah ngantuk berat saat ke bandara. Saya lihat memang mukanya kusut. Saya sampai bilang kalau perlu berhenti dulu pak di SPBU karena penerbangan masih lama. Saya tidak mau ada apa-apa karena sopir taksi kehilangan kendali mengemudi karena ngantuk.

Namun tidak semua sopir taksi mau diajak ngobrol, mungkin memang bawaannya pendiam. Pancingan-pancingan pertanyaan di awal perjalanan biasanya dapat membangun obrolan hangat. Seringkali sopir taksinya malah yang mendominasi obrolan, bercerita tentang banyak hal, dan saya tinggal bilang “oh ya”, “wah, gitu pak” dan tertawa saat sopir taksi cerita lucu. Beragam sopir taksi yang saya temui hampir semuanya punya gaya sendiri dalam mengobrol. Biasanya karena memang bukan berasal dari Jakarta, sehingga logat dan suaranya dapat dengan mudah dikenali. Suatu kali saya temui sopir yang logatnya ngapak banget. Dan jadilah sepanjang jalan ngobrol dengan bahasa ngapak. Haha.

Saya sendiri memang suka mencari informasi pada sopir taksi terutama bagaimana cara mereka menjaga stamina karena harus berjaga tidak tidur atau kurang tidur untuk waktu yang sangat lama. Saya sering tanyakan, “Pak, bagaimana rasanya menentang jam tidur alami manusia yang bekerja di siang hari dan istirahat di malam hari?. Sedangkan Sopir Taksi shift malam itu bisa bekerja dari siang/sore sampai pagi di hari kemudian. Saya mendapat jawaban yang beragam.

Beberapa yang saya ingat adalah rajin minum jamu atau minuman energi. Ini sepertinya oleh mereka yang pemula jadi sopir. Karena pada suatu waktu, ada yang bercerita sudah jadi sopir taksi sekian puluh tahun, tidak pernah kecelakaan, dan badan tetap bugar. Apa katanya? pintar mencari waktu untuk istirahat. Dia bercerita, terutama untuk sopir malem, biasanya jam 12 malem-4 pagi adalah waktu sepi order. Jemputan ke bandara dan tempat lain biasanya mulai jam 4 pagi. Maka sebisanya mungkin tidur katanya. Dia menambahkan, tidak sedikit dari temennya yang menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan sopir lain, maen kartu, dan tetap beraktivitas. Saya tanyakan apakah ada tambahan suplemen atau minuman khusus?. Katanya tidak ada. Pengalaman memang guru terbaik, dalam hati saya berkata.

-bersambung-

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *