Segmen Hidup : Kuliah, Lulus Kuliah dan Bekerja

Mau bekerja dimana seusai kuliah dan Bagaimana mahasiswa menjalani kuliah adalah segmen hidup yang berbeda namun berhubungan satu sama lain. Tak sekedar berhubungan namun mungkin mempengaruhi. Dimana yang terjadi hari ini, akan berpengaruh pada segmen hidup di kemudian hari.

Saya pada keyakinan, nilai dan usaha keras semasa kuliah memberi pengaruh pada segmen hidup bekerja, khususnya pada awal bekerja.

Begini, bekerja diawali dari seleksi, walau ini mungkin tak berlaku entrepreneur dan yang buka usaha sendiri. Katakanlah seorang lulusan muda, yang akan masuk ke suatu perusahaan, atau daftar jadi pegawai negeri, membutuhkan nilai yang bagus setidaknya untuk boleh daftar jadi calon yang akan diuji menjadi pegawai. Syarat pendaftaran biasanya mencantumkan syarat IPK. Mereka yang nilainya tidak memenuhi syarat tidak boleh mendaftar. Ya bagaimana lagi. Akhirnya bagaimana mau lolos jadi pegawai, kalau mendaftar saja tidak boleh..

Sehingga lulus kuliah kuliah, sebagai penyambung dari masa kuliah ke bekerja, tentunya membutuhkan persiapan yang baik saat kuliah. Saya lagi-lagi berkeyakinan, mahasiswa harus kuliah tidak sekedar kuliah. Harus punya target nilai yang baik. Bahkan mungkin tak sekedar nilai baik, tapi juga soft skill dan hard skill yang mumpuni.

Pada proses awal bekerja, nilai hanyalah jadi pembuka pintu untuk bisa bekerja. Bahkan semasa wawancara kerja, nilai mungkin tak lagi ditanyakan karena sudah masuk pada tes tahapan paling awal, dan yang sampai pada tahap wawancara adalah mereka yang nilainya memenuhi. Bisa jadi ditanyakan pengalaman yang sudah dilakukan semasa kuliah. Penguasaan software dan alat survei misalnya untuk lulusan Teknik Geodesi. Sehingga tuntutan yang dimiliki oleh seorang lulusan, sarjana, sesungguhnya memang tidak ringan.

Darimana hal tersebut didapat? Dari segmen hidup bernama kuliah. Selama 8 semester menimba ilmu itulah, saatnya mendapatkan nilai yang baik, mengasah soft skill dan hard skill yang dipunya.

Kuliah ternyata tidak sesederhana masuk ke kelas dan ikut ujian. Seorang mahasiswa sudah sepatutnya memiliki mimpi masa depan yang dijadikan motivasi agar kuliah berjalan lancar dan ketika tiba saatnya lulus, dia dapat mengakhiri segmen hidup yang satu, yaitu kuliah, berganti ke segmen hidup yang lain, yaitu bekerja dengan baik. Pun ketika dibutuhkan perjuangan karena ada tantangan yang harus dihadapi, dia siap dan mantap.

Memang tidak ada jaminan nilai baik, punya hard skill dan soft skill yang baik pasti akan mendapat pekerjaan, terutama pekerjaan pertama dengan baik pula.

Proses kuliah yang baik sejatinya bukan untuk mendapat garansi itu, tapi pada semangat membekali diri sebaik mungkin, sehingga mau macam apa tantangan dan hambatannya, siap saja, percaya diri dengan bekal yang dipunya.

Namun harus diakui pula, semangat kuliah juga bagaikan YoYo. Maen YoYo kadang di atas kadang di bawah. Pada saat di atas, tentunya tak ada yang harus dicemaskan. Bagaimana saat di bawah? Salah satu cara paling ampuh adalah ingat orang tua. Khususnya mereka yang kuliahnya secara penuh dibiayai oleh orang tua. Ingat kembali, cara paling gampang membayar semua kepercayaan itu adalah dengan memberi tahu pada tiap akhir semester misalnya, IP yang didapat memuaskan. Atau berita tentang skripsi yang sebentar lagi selesai. Atau bisa juga tentang acara di kampus yang sukses dimana kamu jadi ketua panitia nya. Itu.

Terdengar pragmatis dan seperti membual? anda mungkin lulus telat waktu, dengan nilai pas-pasan dan sulit cari kerja. sama, seperti saya dulu. hehe..

Tulisan ini untuk memotivasi mereka yang belum lulus, dan masih ada waktu untuk perbaiki diri. Tak ada salahnya mempersenjatai diri dengan hal-hal baik sampai waktunya anda diwisuda nanti. Demikian.

One Reply to “Segmen Hidup : Kuliah, Lulus Kuliah dan Bekerja”

  1. “Proses kuliah yang baik sejatinya bukan untuk mendapat garansi itu, tapi pada semangat membekali diri sebaik mungkin, sehingga mau macam apa tantangan dan hambatannya, siap saja, percaya diri dengan bekal yang dipunya.”

    nice quote mas.
    semoga tetap bisa menyadarkan diri kita semua bahwa proses pembelajaran hidup tak pernah berhenti,

    🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *