(bukan) semata tanggung jawab

Terlepas dari asal muasal saya bisa sekolah lagi, proses menjalani sekolah ini saya rasakan sebagai hal yang cukup berat. Bukan waktu yang panjang, 2 tahun memang saya rasakan akan agak cepat berlalu, sepertinya baru kemarin mulai S2,ini sudah mau ujian mid semester 2.

2 tahun menjadi patokan dimana saya harus menyelesaikan sekolah. 2 tahun adalah waktu sekaligus support dana yang diberikan kantor bagi saya untuk lulus dan kembali bekerja.

Mendengar cerita seram tentang menyelesaikan tesis yang seringkali molor, menambah masa studi, saya sesungguhnya mulai agak cemas, akankah saya akan bisa menyelesaikan sekolah ini dalam 2 tahun.

Dan ternyata, sekolah pun tak mudah diskenariokan, misalnya mau lulus dengan IPK berapa, dosen pembimbing siapa, dll. Proses mendapat nilai terasa begitu berat. Beban tugas yang seakan tiada henti sejujurnya sulit untuk dipenuhi tiap minggunya. Saya menyadari butuh dedikasi tinggi, dimana belum saya lakukan, untuk menyelesaikan semua tugas, masuk setiap kali praktikum, membaca dan mencari paper sebagai bahan untuk tugas paper tiap mata kuliah..

Maka saya jadi berpikir, menyelesaikan kuliah ini sebenarnya tidak semata memenuhi tanggung jawab. Karena sudah dapet beasiswa, ya sekolah, ya kemudian lulus. Tidak, ternyata tidak semudah itu. Hal-hal yang saya lalui sejauh ini, sudah memberi banyak sekali tantangan untuk menyelesaikan sekolah tidak sekedar lulus. Bagaimana saya berkembang selama kuliah, bagaimana saya melatih diri untuk memiliki pengetahuan yang lebih baik, bagaimana saya akan berkontribusi pada kantor pasca sekolah, adalah lebih dari sekedar memenuhi tanggung jawab karena sudah lolos seleksi beasiswa. lebih dari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *