Marah yang tersisa

Yang tersisa dari marah, seringkali adalah sesal.

Sesal yang hadir setelah kalap dan kalah pada emosi. Karena bibir meracau menyumpah serapah termakan diri yang sedang tak terkendali. Karena tangan telah sibuk memaki, menunjuk ke segala arah, diangkat setinggi dada, dihentakkan ke muka banyak orang, lagi-lagi diluar kendali.

Yang tersisa dari marah, seringkali adalah sesal.

Pada kata-kata murahan yang terucap dan mungkin tak terlupa. Pada guratan tulisan tangan yang terlanjur menghiasi lembaran kertas. Tak bisa dihapus, sudah keburu direkam waktu, untuk selamanya.

Yang tersisa dari marah mungkin kepuasan setelah emosi yang lepas dari otak. Tangan yang tak lagi mengepal kesal. Atau gigi yang tak lagi beradu menahan emosi.

Namun yang tersisa dari marah seringkali memang sesal karena banyak hal tak baik yang muncul lebih banyak dari besarnya kemarahan itu sendiri. Menutupi dan menghantui kepuasan setelah marah itu sendiri.

Maka benarlah, ketika marah hitung sepuluh sebelum bersuara, kalau sangat marah, seratus…

2 Replies to “Marah yang tersisa”

  1. Setuju bgt, biasanya sesalnya lbh besar drpd puasnya… :p
    Kl marah dlm kadaan berdiri, duduklah.. Kl msh emosi tidurlah, kl blm ilang jg bwudhulah (lupa dl bc dmn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *