Keseharian yang membunuh

Setiap orang mungkin dihadapkan pada rutinitas kegiatan yang itu-itu saja. Diulangi setiap hari, berulang setiap minggu, dilaksanakan sepanjang tahun, selama bertahun-tahun. Misalnya sekolah. Mahasiswa menghadapi hal sama tiap hari minimal selama 4 tahun di kampus, kuliah kuliah dan kuliah. Yang berbeda mungkin dosen dan mata kuliah yang berganti tiap semester, namun tuntutan kesehariannya sama: menghadiri tatap muka dengan dosen di ruang kuliah, ikut praktikum, bikin laporan, sesekali kena jackpot kuis, dan menghadapi ujian tengah dan akhir semester.

Saya sendiri seringkali terjebak, berada dalam pusaran rutinitas. Saat ini rutinitas kuliah dan mengerjakan tugas sudah sampai pada tingkat “mulai bikin males”. Selain volume tugas yang seakan tak pernah habis walau sudah dikerjakan dan dikumpul tiap minggunya, kualitas tugas dituntut membaik seiring berjalan waktu kuliah. Kondisi yang membuat lelah otak, dan malas. Membayangkan timeline kuliah yang akan berisi semakin banyak tugas sampai dengan tiba waktu mengerjakan tesis satu tahun lagi sudah dengan sendirinya sukses menurunkan motivasi saya.

Solusi menghindar dari rutinitas yang membunuh ada tidak? tentunya banyak. Kata orang sih gitu. Saya sendiri berusaha membunuh waktu dengan banyak berselancar di internet untuk membaca informasi, cerita, blog, situs namun yang tidak terkait kuliah. Simpel saja, saya tidak ingin otak penuh dengan urusan kuliah. Beberapa kawan menyarankan memanfaatkan weekend dengan acara di luar kamar kos. Ya, saya memang lebih senang menghabiskan banyak waktu di kamar kos. Maen PES, nonton Running Man, nonton tipi. Usul menghabiskan waktu di weekend mungkin memang harus dicoba. Saya sejujurnya pengen hunting foto. Walau skil pas-pasan, gear pas-pasan. Pokoknya jangan sampai hanyut ke pusaran rutinitas yang membunuh.

One Reply to “Keseharian yang membunuh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *