Berbagi

Hampir di setiap warung atau rumah makan, dapat ditemui kotak sumbangan untuk dukungan dana berbagai kegiatan, misalnya pembangunan masjid, sekolah atau panti asuhan. Tak kalah banyak pula ditemui para peminta yang menyapa sambil menengadahkan tangan meminta-minta di perempatan jalan. Seberapa sering kita mengisi kotak sumbangan dan memberi uang pada peminta-minta di jalan?.

Suatu ketika di bulan ramadhan tahun pertama saya bekerja di Cibinong, saya mendapat paket sirup biskuit dll dari kantor. Karena hampir pasti akan lama habisnya, beberapa teman mengusulkan untuk disumbangkan saja. Akhirnya dipilih panti asuhan di seputaran kantor. Pada hari itu, momen berharga bagi saya. Entah setelah berapa lama akhirnya saya ke panti asuhan lagi. Yang terakhir dulu saat kuliah, dan saking lamanya, sampai lupa kapan persisnya. Adalah hal yang membahagiakan bercerita dengan puluhan anak di panti asuhan dan berbagi sedikit apa yang memang bisa dibagi walau sekadar paket biskuit dan sedikit uang.

Tanpa bermaksud buruk sangka pada kotak amal di warung makan dan para pengemis di jalanan, apakah benar-benar mereka itu yang membutuhkan bantuan? Maraknya aksi tipu-tipu berkedok sumbangan tentunya meningkatkan kesadaran kita. Saya pribadi berpendapat mengunjungi langsung tempat-tempat yang akan kita sumbang tentu lebih memberi kesan. Entah karena memang kita melihat dan tahu dengan mata kepala sendiri mereka yang kita bagi rejeki kita, atau karena interaksi yang terbangun dengan percakapan selama kunjungan. Bukan bantuan instan ke pengemis yang berlalu dalam hitungan detik.
Kemarin dosen saya @madeandi berbagi cerita kunjungan ke panti asuhan dengan tagar #SayapIbu. Ceritanya menyentuh sekaligus memberi pesan yang jelas kepada yang membaca: seberapa peduli kita pada mereka yang kesusahan. Bahwa ada puluhan ribu anak dan manusia yang kurang beruntung membutuhkan uluran kasih sayang dan bantuan dari manusia lain yang mungkin punya rejeki yang bisa disisihkan, yaitu kita semua.

Mengingat panti asuhan tentu mengingat bahwa dalam rejeki yang diturunkan Alloh SWT pada kita, didalamnya termasuk hak-hak mereka manusia lain yang kurang beruntung dan membutuhkan bantuan.

Namun memberi dengan tanpa pertimbangan seringkali salah langkah juga. Banyaknya pengemis palsu dan sumbangan masjid panti asuhan fiktif tentunya bukan tempat yang tepat untuk kita berbagi. Jika tak bisa menyumbang langsung ke panti asuhan dan tempat lain yang membutuhkan bantuan,  ada baiknya salurkan saja ke badan amal zakat yang sudah dikenal memang punya reputasi bagus dalam pengelolaan sumbangan para penderma.

Akhirnya posting ini ditutup dengan pertanyaan, sudah seberapa sering kita berbagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *