Mudik tahun ini

Pertanyaan mengapa masih mudik, padahal sudah tahu akan macet, bayar ongkos transport mahal dll dll tetap saja muncul seiring Lebaran yang kian mendekat, tinggal hitungan hari. Dan seperti lebaran selama ini (kecuali lebaran tahun kemarin yang sama habiskan di Beijing)  saya pulang ke rumah, melanjutkan tradisi mudik.

Saya ingat benar, dua tahun yang lalu saat saya mudik pertama setelah kerja di Cibinong, saya habiskan hampir 24 jam di jalan. Berangkat maghrib dari kos dan sampe rumah jam tiga sore hari berikutnya. Benar-benar perjalanan menguras tenaga dan emosi. Harga travel naik dua kali lipat, dan karena tidak pengalaman sebelumnya tidak membawa bekal di jalan kecuali minum. Dan ternyata saat jam sahur terjebak macet panjang sekali dan tidak ada kesempatan untuk makan sahur. Dan sampe rumah jam 3 sore adalah pelengkap hari mudik super spesial itu. Saya berjanji dalam hati tak akan mengulang mudik naik travel. Itu janji saya dua tahun lalu.

Hari ini, saya sampai di rumah agak pagi. Jam 7 pagi sudah sampai. Bahkan lebih cepat dari jam kedatangan saat hari biasa pulang ke rumah. Kemarin sehabis maghrib, saya berangkat dari Bogor naik travel, dengan harga yang lagi-lagi sama naik dua kali lipat namun dengan lama perjalanan yang cepat seperti biasa. Saya yang bahkan sudah membawa banyak makanan untuk sahur, berbekal pengalaman dua tahun lalu, masih menyisakan cukup banyak makanan di tas. Ya karena selain cepat sampai, masih sempat makan sahur di rumah makan langganan travel.

Ternyata mudik tahun ini sukses dan lancar. Untuk arus balik, semoga juga tak kalah lancar dari perjalanan pulang mudiknya.  :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *