Tentang Kuliah (di Jogja) Lagi

Awal tahun ini, saya didaftarkan oleh Atasan saya di kantor untuk daftar beasiswa dari kantor. Setelah seleksi TOEFL, TPA, dan wawancara, ceritanya saya termasuk ke lima besar calon penerima beasiswa, bahkan katanya di peringkat satu.

Tahun kemarin, di akhir tahun tepatnya, kekecewaan mendalam hadir menyelimuti karena saya gagal maju ke tahap selanjutnya untuk beasiswa ADS. Kekecewaan semakin menyesakkan karena teman kantor lolos, temen kuliah lolos, kakak angkatan lolos, dan kesemuanya sering komunikasi saat mau mengirimkan aplikasi pendaftaran. Mereka bertiga sedang bersiap  menuju Australia akhir tahun ini.

Tiga minggu setelah saya diumumkan akan melanjutkan kuliah di dalam negeri dengan beasiswa dari kantor, saya dipanggil bagian kepegawaian untuk klarifikasi. Pertanyaan yang mengangetkan, karena isu yang berkembang saya katanya akan melepas beasiswa dari kantor karena mau daftar beasiswa ke luar negeri.

Jauh hari ketika saya mendapat jadwal wawancara beasiswa, saya konsultasi dan berdiskusi agak lama dengan keluarga tentang peluang melanjutkan kuliah di dalam negeri yang sepertinya akan saya dapatkan, dan mimpi saya lanjut kuliah di luar negeri. Dari nasihat dan tukar pikiran, saya mulai bisa memahami dan menerima kenyataan, saya mungkin akan kuliah di dalam negeri.

Sesungguhnya terjadi gejolak dahsyat di dalam diri saya, apakah saya harus mengundurkan diri dan mencoba mendaftar beasiswa ke luar negeri lagi. Tahun 2011, saya mendaftar beasiswa Chevening dan ADS, dan semua gagal. Saya memang tidak banyak cerita ke orang, karena takut dianggap sok-sokan menolak beasiswa dalam negeri, padahal tahun kemarin gagal lolos yang ke luar negeri.

Pada saat pertemuan dengan pihak kepegawaian, saya masih belum bisa menentukan sama sekali, apakah akan melanjutkan di Bandung atau balik ke Jogja. Untuk memutuskan menerima beasiswa dalam negeri saja, saya sudah tidak bisa tidur hamper seminggu. Keputusan yang sulit bagi saya, apalagi membaca tulisan Pak Dosen saya tentang pendaftaran ADS tahun ini yang tutup 17 Agustus. Saya tres. Saya tertekan. Sejujurnya ada rasa di dalam hati yang berontak. Menuntut untuk mengejar mimpi kuliah di luar negeri.

Keputusan untuk kuliah lagi di Jogja juga membuat saya tidak bisa tidur. Pertimbangannya banyak. Orang kantor terus member argument menambah koneksi dan pertemanan serta suasana baru untuk pilihan kuliah di Bandung. Saya mengiyakan dan setuju sekali. Tapi pilihan kuliah di Jogja juga punya banyak alasan. Dan alasan terpenting dan akhirnya menjadi penentu adalah faktor keluarga. Saya akan lebih dekat dengan rumah, saya akan bisa lebih intens pulang ke rumah, dan menemani ibu yang sendiri di rumah, karena bapak dan kelima anaknya berada di lain kota, bahkan beda pulau.

Dari informasi awal, kuliah S2 tidak seintens kuliah S1 dan bahkan mungkin hanya 2 hari selama seminggu. Saya langsung berangan, saya bisa pulang setidaknya 2 minggu sekali. Tidak seperti sekarang yang dua bulan sekali pun jarang terlaksana. Pun kalau saya tidak pulang, Ibu bisa ke Jogja karena satu adik saya juga kuliah di Jogja. Ibarat kata, Ibu saya bisa menengok dua anaknya sekaligus.

Mengirim aplikasi S2 sekitar dua bulan lalu, minggu kemarin saya mendapat pemberitahuan bahwa saya lolos untuk seleksi akademik dan berhak masuk ke Teknik Geomatika UGM. Jadwal registrasi ulang awal bulan Agustus depan.

Dan minggu kemarin, saya membuka folder sharing di kantor, membuka folder atasan saya dan menemukan puluhan Ebook tentang Goedesy. Saya buka dan iseng baca. Saya kaget, otak ini sudah sulit menemukan memori kuliah  tiga tahun yang lalu.

Saya seketika tersadar, bahkan untuk kuliah di dalam negeri, saya masih harus banyak belajar lagi, otak ini sudah terlalu kosong. Pisau harus diasah, secepatnya sehingga September besok saat kuliah dimulai saya sudah bisa menjalani dengan baik.

Wish me luck.

2 Replies to “Tentang Kuliah (di Jogja) Lagi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *