Budaya Tutur

Dalam sebuah seminar, narasumber yang berasal dari instansi pemerintah menyampaikan sulitnya memperoleh data-data tertulis terkait dengan sebuah wilayah. Kurangnya informasi tertulis tersebut beliau bilang mungkin karena budaya masyarakat kita yang lebih suka bertutur daripada menulis. Beliau cerita, ketika mengadakan wawancara dengan masyarakat sekitar wilaya tersebut, malah “dimarahi” sama tetua masyarakat. Katanya : “sejak kamu masih lurus pipisnya (maksudnya masih kecil)  wilayah tersebut milik kita (maksudnya Indonesia). Ketika ditanya ada bukti apa informasi atau data tertulis, hasilnya nihil, tidak ada.

Saya pikir benar juga. Banyak diantara kita bisa menghabiskan jam demi jam mengobrol dan bercerita. Apalagi kalau sudah membahas topik seru dan bareng sama banyak teman, satu jam dua jam bahkan lebih jadi tak terasa. Aplagi dengan suasana yang mendukung, di cafe misalnya.

Namun sebaiknya, banyak diantara kita tidak suka menulis. Seringkali dikamuflasekan dengan “tidak bakat”. Mungkin banyak, saya salah satunya, yang ketika menulis tak lebih dari 30 menit sudah malas dan kehabisan kata serta ide untuk masuk ke tulisan.

Padahal logika sederhanya kan mudah saja menuliskan apa yang dibicarakan selama berjam-jam itu dalam tulisan. Sekian jam harusnya bisa sekian lembar, setumpuk kertas.

Namun ternyata tidak semudah yang dilogikakan tadi. Saya sendiri seringkali bingung untuk menulis karena kekurangan ide. Dan katanya kekurangan ide itu karena seseorang kurang membaca. Ketika orang banyak membaca, maka dia akan temukan banyak hal yang ditulis oleh banyak orang. Misalnya, membeli pulsa di ATM bisa jadi satu posting blog sekian paragraf bagi blogger lain. Namun karena kurang membaca, “hal remeh temeh” itu kemudian masuk ke kategori “biasa saja” dan “untuk apa ditulis”. Sering membaca banyak informasi juga memberi banyak perbendaharaan kata untuk ditulis. Saya kagum beberapa blogger sangat baik pilihan katanya dan tak banyak menggunakan kata yang itu-itu saja.

Hehe, tapi saya sih bisa dan gampang saja ngeles “ah, saya ga bakat nulis, bakatnya ngobrol”. Selesai perkara.

Padahal di masa datang orang tidak mengenal Farid Yuniar dari suaranya (karena tidak direkam), tetapi dari arsip tulisan di blognya. mungkin saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *