Tentang Pilihan

Diantara banyak hal baik yang terjadi, kadang terselip masa manusia harus memilih satu dari banyak hal baik yang bisa dia dapatkan. Berita baiknya adalah, tersedia banyak pilihan baik, dan yang harus menggunakan dan menghabiskan pemikiran adalah harus memilih.

Dulu ketika saya lulus SMA, saya ikut kursus intensif mempersiapkan UMPTN dengan mengambil kursus IPC. Saya memang ingin mengambil jurusan sosial walaupun saya lulusan IPA. Namun apa dikata, baru seminggu kursus, saya sudah diterima di UGM Jurusan Teknik Geodesi melalui jalur UM-UGM. Pilihan kemudian muncul, mau lanjut kursus yang sudah membayar full atau berhenti kursus karena sudah diterima kuliah. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti kursus, karena memang sudah diterima. Pertimbangannya mungkin tak terlalu banyak, dan lebih dipengaruhi kemalasan saya pergi ke tempat les yang jaraknya jauh dari rumah (45 menit).

Setelah lulus pada Mei 2009, saya “menganggur” untuk waktu yang relatif lama. Saya kerja di kantor sekarang mulai Desember 2009 hingga bisa dihitung sekitar 7 bulan saya tidak bekerja. Disaat itu teman-teman sudah banyak yang bekerja dan mungkin hanya tersisa 2 orang yang lulus bareng yang belum bekerja. Lagi-lagi ini pilihan. Saya memang ingin mendaftar PNS, sehingga kalau saya mendaftar ke swasta dan diterima maka peluang saya untuk mendaftar sebagai PNS tentu akan pupus. Sejarah hidup sudah mencatat, saya akhirnya memang jadi PNS dan bekerja di Cibinong.

Dan ternyata pilihan-pilihan hidup tidak berhenti pada masa lalu, masa sekarang pilihan muncul bertubi dalam skala yang lebih besar. Bekerja, dimana berarti urusan sampai pensiun nanti memberi banyak opsi yang harus dipilih salah satunya. Pilihannya terkesan “wah”. Misalnya, pilihan studi lanjut di luar atau di dalam negeri. Pilihan kuliah di universitas a atau b di dalam negeri. Semua pilihan baik, dan harus dipilih salah satu diantaranya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *