Tentang Beasiswa

Bulan ini adalah bulan membahagiakan bagi beberapa teman, kolega kantor karena mereka lolos dan menggenggam tiket melanjutkan sekolah ke Australia melalui beasiswa ADS. Di sisi lain cerita bahagia itu, bulan ini,  dan dua bulan kemarin adalah bulan galau bagi saya.  Galau di dua bulan lalu adalah tidak lolosnya saya untuk ikut tahap selanjutnya seleksi ADS, dimana teman seperjuangan pendaftar ADS, baik kolega maupun temen kampus menerima email notifikasi di awal desember, dan saya hanya menerima surat tidak lolos di akhir bulan. Galau bulan ini tentu saja mendengar kolega dan temen kampus itu lolos dan akan segera meluncur ke Aussie di selatan sana. Siapa yang tak galau, melihat teman seperjuangan sudah mau berangkat, dan saya harus ikut ‘coba lagi’ award tahun ini.. hehehe….

Tahun 2011 saya mendaftar dua beasiswa.  Di awal tahun, saya (iseng) daftar chevening, beasiswa ke Inggris. Disebut iseng karena memang saya daftar karena diajak teman.  Jadi ya saya memaklumkan diri saya sendiri kalau isian score IELTS tidak diisi karena saya memang belum tes. Persiapan tidak optimal.  Tetapi juga tidak iseng-iseng banget juga sih, karena sebagai bentuk keseriusan, saya sudah membuat research proposal sehalaman A4 tentang topik thesis yang pengen saya dalami dan saya masukkan ke aplikasi online chevening. Saya masih di kantor dan beraktivitas rutin sampai sekarang, dimana itu berarti saya tak lolos Chevening nya.  Berbeda dengan ADS yang tetap berkirim berita tidak lolos lewat surat, chevening ternyata tidak memberi notifikasi sama sekali (baik surat atau email) tentang kegagalan pertama saya di tahun 2011.

Cerita tentang mendaftar ADS lebih heboh,  di samping saya memang niat banget daftar. Saya sedang shortcourse di Tianjin, China selama sebulan (awal agustus-awal september) ketika harus berkirim aplikasi beasiswa ke kantor ads di Jakarta.  Saya harus berterima kasih banyak kepada kolega kantor saya yang banyak membantu menyiapkan banyak hal sampai akhirnya aplikasi bisa dikirim juga. Saya harus menandai ini sebagai hal tidak oke yang saya lakukan tahun kemarin. Saya seharusnya punya banyak waktu untuk menyiapkan aplikasi yang lebih baik dan bisa dikirim sebelum saya berangkat ke China. Lesson learned untuk kesekian kalinya : jangan menunda pekerjan. Selesaikan apa yang bisa diselesaikan hari ini tanpa menunda esok hari.

Dan saya sudah semangat lagi cari beasiswa tahun ini. Langkah tahun ini dimulai dengan ikut seleksi beasiswa di kantor. Saya juga berniat mendaftar ke lebih banyak tempat,  tidak hanya dua seperti tahun kemarin. Semoga keinginan saya diridhoi dan diberi jalan baik oleh Alloh yang maha pemurah dan maha pemberi :D.

Saya belajar banyak hal tahun kemarin. Seperti banyak orang menasihatkan : kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Saya percaya itu. Bahwasanya kekecewaan gagal dua kali tahun lalu tak boleh menghentikan langkah saya mencoba mencari ilmu sampai ke luar negeri.  Seperti kata Andrea Hirata, yang oleh dosen saya pernah sebut disalah satu email ke saya: nasib adalah milik mereka para pemberani…Saya ingin menguji diri sendiri menjadi pemberani tahun ini… Setidaknya berani apply beasiswa lagi dan lagi…  🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *