lima ratus rupiah

Berhenti sekitar 1 sampai 2 menit di perempatan karena lampu merah, seringkali saya didatangi para pengemis, anak jalanan, apapun itu sebutannya, yang menengadahkan tangan, meminta uang. Ibu yang menggendong anak balita menambah dramatis suasana. Apa-apa yang mereka pakai, terutama pakaian kumal, antribut lain berupa topi usang, sandal jepit yang pudar warnanya, seakan-akan “memaksa” para pengguna kendaraan untuk iba dan kemudian memberi uang, seikhlasnya. walau seikhlasnya untuk saat ini sudah berujud satu keping lima ratus rupiah, bahkan mungkin seribu.

Saya dulu seringkali memberi tanpa pikir panjang. Sekedar memasukkan uang logam satu biji ke bekas wadah minuman gelas apa susahnya. Dan tidak memberatkan. Dulu, saya tidak berfikir dan mempertimbangkan banyak hal sebelum mengulurkan tangan saya ke mereka yang minta-minta di perempatan jalan itu.

Suatu hari, saat saya kuliah di Jogja, seorang simbah, jualan tape keliling pakai sepeda. Saya tidak tahu, sudah laku berapa puluh ribu tape nya hari itu. Saya membeli lima ribu rupiah, lebih tepatnya karena saya iba daripada rasa ingin mencicipi tape yang dijualnya.

Saya tidak bisa membayangkan, dalam sehari, simbah itu butuh berjalan menuntun sepedanya berapa kilometer untuk mendapat untung jualan yang mungkin tak lebih dari lima puluh ribu sehari. Bandingkan dengan apa yang para peminta-minta di perempatan jalan itu dapatkan dalam sehari mungkin kalah jauh. Coba googling, hitungan berapa besar para pengemis di perempatan itu dapat uang gratisan setiap hari. Jumlahnya banyak, bahkan lebih banyak dari gaji saya sebulan.

Saya lebih memilih pura-pura acuh dan tidak melihat ketika ada pengemis mendekat dan meminta uang. Saya bukannya tidak kasihan, bukannya tidak peduli, tapi saya kok merasa kepedulian dan bentuk kasihan saya akan salah ketika saya memberikan sekedar satu logam lima ratusan ke mereka.

Kalau mau membantu, saya bisa kumpulkan uang dan berikan ke panti asuhan yang jelas-jelas arah uangnya jelas. jadi ternyata perhatian, kepedulian sosial juga harus pinter-pinter juga menempatkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *